Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kadin Dorong Akselerasi Ekspor UMKM dan Hilirisasi di Tingkat Provinsi

Kadin Dorong Akselerasi Ekspor UMKM dan Hilirisasi di Tingkat Provinsi
Minat|Asia Tenggara

Hilirisasi dan Akselerasi Ekspor UMKM: Jalan Cepat Penguatan Ekonomi Daerah

Hilirisasi produk lokal dan akselerasi ekspor UMKM adalah strategi penguatan ekonomi daerah yang menghubungkan peningkatan nilai tambah di hulu dengan perluasan pasar di hilir, sehingga pelaku usaha kecil dan menengah tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, tetapi naik kelas menjadi produsen bernilai tinggi yang mengambil porsi lebih besar dalam aktivitas perdagangan regional dan internasional. Di Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur, arah kebijakan Kadin Indonesia kini jelas: ekonomi lokal harus disiapkan untuk bermain di panggung ekspor berbasis produk olahan, bukan lagi mengandalkan komoditas mentah yang marginnya tipis dan sebagian besar keuntungannya lari keluar daerah. Fokus ini bukan pilihan teknis, melainkan sikap politik ekonomi: menempatkan UMKM sebagai jantung pertumbuhan, bukan pelengkap.

Rapat Pimpinan Provinsi yang digelar Kadin Kalimantan Barat menjadi contoh paling terang bagaimana agenda akselerasi ekspor UMKM dijahit dengan hilirisasi hasil bumi sebagai satu paket strategi. Tema “Ekonomi Kerakyatan untuk Indonesia Mendunia: Peran Kadin dalam Upaya Peningkatan Akselerasi UMKM Berkontribusi Ekspor Kalbar” bukan sekadar slogan, melainkan penegasan bahwa gerakan ekspor harus berbasis rakyat, dengan UMKM di depan, bukan di belakang. Ketika Kadin Kalbar menyatakan dukungan penuh terhadap hilirisasi agar nilai tambah hasil bumi dinikmati masyarakat dan pelaku usaha lokal, pesan politik ekonominya tegas: stop menjadikan daerah sebagai lumbung bahan mentah untuk diolah di tempat lain; saatnya nilai tambah bersarang di rumah sendiri.

Rapimprov Kalbar: Mengaitkan Ekonomi Kerakyatan dengan Jaringan Regional

Rapimprov Kadin Kalbar yang dirangkaikan dengan tasyakuran ulang tahun ke-58 Kadin Indonesia menempatkan dunia usaha lokal dalam konteks jaringan regional yang lebih luas. Di hadapan pemerintah provinsi dan asosiasi usaha lintas sektor, Ketua Kadin Kalbar Arya Rizqi Darsono menegaskan Kadin sebagai “rumah inklusif” bagi pengusaha besar hingga UMKM di pelosok. Pernyataan ini penting: penguatan ekonomi daerah bukan tentang memberi karpet merah hanya pada investor besar, tetapi memastikan pelaku usaha kecil punya pijakan kokoh di ekosistem yang sama. Pencapaian konkret seperti legalitas gratis PT perorangan dan KTA Kadin bagi usaha mikro dan kecil serta kerja sama pembiayaan dengan lembaga keuangan menunjukkan bahwa akselerasi ekspor UMKM dimulai dari fondasi yang sangat praktis: izin dan akses modal.

Lebih jauh, Rapimprov ini memposisikan Kalbar bukan sekadar sebagai wilayah pinggiran, tetapi beranda depan dalam jejaring ekonomi Borneo. Rencana pertemuan kedua Borneo Economic Community di Kuching yang akan mempertemukan pelaku usaha se-Borneo dan mencakup penandatanganan agreement investasi langsung dari Sarawak adalah langkah taktis membangun investasi regional berbasis kedekatan geografis dan kultural. Dengan pertumbuhan ekonomi Kalbar mencapai 5,39 persen pada 2025, di atas rata-rata nasional, penguatan jaringan lintas batas ini adalah cara menjaga momentum agar daerah tidak berhenti pada angka pertumbuhan, tetapi bertransformasi menjadi simpul ekspor UMKM dan hilirisasi produk lokal. Kalbar ingin naik kelas dari sekadar pemasok ke mitra sejajar dalam rantai nilai regional.

Rapimprov NTT: Investasi Cepat, Standar Internasional, dan Peran Kadin

Di NTT, Rapimprov VIII yang diawali dengan Coffee Morning bersama gubernur menegaskan satu hal: tanpa investasi regional yang gesit dan berstandar internasional, akselerasi ekspor UMKM hanya akan berhenti di seminar. Ketua Kadin NTT Bobby Lianto secara terbuka menyebut peran Kadin sebagai wadah dunia usaha untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah, sambil belajar dari pengalaman BP Batam yang mampu mengeluarkan perizinan dalam hitungan hari. Pesan tersiratnya tajam: lambatnya birokrasi berarti hilangnya peluang ekspor dan hilirisasi. Ketika Kadin NTT menekankan pentingnya fasilitas berstandar internasional bagi investor, yang diperjuangkan bukan cuma kenyamanan pemodal, tetapi peluang bagi UMKM lokal untuk masuk rantai suplai global yang menuntut mutu dan kecepatan.

Rapimprov ini juga menjadi ruang refleksi atas kegiatan yang sudah dilakukan dan penyusunan program ke depan, sejalan dengan proses RUU Kadin yang mulai dibahas di DPR RI sebagai usulan. Jika regulasi ini kelak memperkuat kewenangan Kadin dalam mengembangkan dunia usaha dan menarik investasi, maka Kadin di tingkat provinsi akan punya posisi tawar lebih kuat terhadap pemerintah daerah dan investor. Itu kabar baik bagi UMKM NTT: keberpihakan tidak lagi bergantung pada goodwill sesaat, tetapi tertanam dalam kerangka hukum. Namun di sisi lain, tantangannya jelas: Kadin harus membuktikan bahwa ekspansi kewenangan dipakai untuk mempercepat akselerasi ekspor UMKM dan hilirisasi produk lokal, bukan untuk memperbanyak rapat tanpa dampak nyata.

Kadin sebagai Mitra Strategis Daerah: Dari Slogan ke Tanggung Jawab

Baik di Kalbar maupun NTT, satu narasi kembali diulang: Kadin adalah mitra strategis pemerintah daerah dalam menjawab tantangan dunia usaha. Di Kalbar, komitmen Kadin untuk ikut menangani isu kebakaran hutan dan lahan dengan pendekatan edukasi sektor perkebunan dan kehutanan menunjukkan bahwa dunia usaha tidak bisa lagi bersikap apolitis terhadap persoalan lingkungan yang langsung mengganggu logistik dan aktivitas ekonomi. Di NTT, kerja sama erat dengan pemerintah provinsi dalam merancang iklim investasi memperlihatkan bahwa penguatan ekonomi daerah adalah kerja kolektif, bukan sekadar urusan anggaran publik. Namun status “mitra strategis” membawa konsekuensi: Kadin harus berani mengkritik ketika kebijakan daerah menghambat hilirisasi produk lokal atau menutup ruang bagi UMKM untuk ikut dalam arus ekspor.

Pelaku usaha lokal juga perlu berhenti melihat Kadin sebagai klub elit pengusaha besar. Dengan berbagai program legalitas, pembiayaan, dan peningkatan kompetensi yang secara eksplisit menyasar usaha mikro dan kecil, pintu sebenarnya sudah terbuka. Jika UMKM terus berada di luar ekosistem kelembagaan, mereka akan sulit menuntut kebijakan yang memihak. Sebaliknya, ketika UMKM masuk dan aktif, Kadin terpaksa merumuskan agenda yang benar-benar berpihak pada akselerasi ekspor UMKM dan hilirisasi produk lokal, bukan sekadar mengulang narasi penguatan ekonomi daerah di podium. Singkatnya, transformasi Kadin dari slogan ke tindakan sangat bergantung pada seberapa jauh pelaku usaha kecil mau mengambil ruang dan suara.

Kesimpulan: Ekonomi Daerah yang Berani Mengolah dan Mengekspor Sendiri

Rangkaian Rapimprov di Kalbar dan NTT menunjukkan arah baru yang lebih berani: daerah tidak puas lagi menjadi pengumpul bahan mentah dan penonton arus investasi. Melalui hilirisasi produk lokal dan akselerasi ekspor UMKM, Kadin di tingkat provinsi mencoba menggeser pusat gravitasi ekonomi ke pelaku usaha di daerah sendiri. Pertemuan Borneo Economic Community dengan agenda investasi langsung dari Sarawak dan dorongan NTT untuk sistem perizinan cepat adalah dua sisi mata uang yang sama: mengaitkan investasi regional dengan kapasitas lokal. Jika Kadin konsisten memperkuat UMKM sebagai produsen bernilai tambah, bukan sekadar pemasok murah, maka penguatan ekonomi daerah tidak akan berhenti di angka pertumbuhan. Ia akan tercermin dalam struktur yang lebih adil: nilai tambah tinggal di daerah, dan pelaku usaha lokal memegang kendali lebih besar atas masa depan ekonominya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!