Mentalitas Pelaku UMKM: Fondasi Baru Daya Saing Ekspor
Mengubah mentalitas pelaku UMKM adalah proses membentuk cara berpikir yang mandiri, berorientasi pasar global, berani mengambil risiko terukur, serta konsisten meningkatkan kapasitas usaha agar produk mampu bersaing di rantai pasok ekspor dan tidak bergantung pada bantuan jangka pendek dari pihak luar.
Pesan utama dari inisiatif Kadin Jatim jelas: tanpa revolusi mentalitas, potensi UMKM akan berhenti di statistik, bukan berlanjut menjadi kekuatan ekspor nyata. Dalam dialog bertema “Sinergitas KADIN Jawa Timur dan Pemerintah Daerah untuk Mewujudkan Ekonomi Kerakyatan Jawa Timur melalui Penguatan Kelembagaan, Inovasi SDM dan Rantai Usaha Terpadu”, fokus perbincangan bukan sekadar bantuan modal, tetapi keberanian pelaku UMKM untuk berubah dari dalam. Kinerja sektor ini sudah besar dalam ekonomi nasional, namun masih lemah pada daya saing ekspor. Karena itu, mentalitas pelaku UMKM yang terlalu nyaman menerima bantuan dikritik sebagai penghambat utama. Transformasi pola pikir menjadi mandiri, proaktif, dan siap bersaing perlu diperlakukan sebagai agenda prioritas, bukan sekadar pelengkap program.
Paradoks UMKM: Kontributor Besar, Eksportir Kecil
Data yang disampaikan Kadin Jatim menyingkap paradoks yang tidak bisa diabaikan: sekitar 57 juta pelaku UMKM menyumbang 60,5 persen terhadap PDB dan menyerap 97 persen tenaga kerja, tetapi hanya berkontribusi sekitar 15,7 persen terhadap total ekspor nasional. Ini bukan sekadar angka; ini bukti bahwa potensi produk yang kompetitif belum diterjemahkan menjadi posisi kuat di pasar global. Realitas ini menunjukkan bahwa kinerja UMKM dalam ekspor masih jauh dari optimal meski basis usahanya sangat luas.
Di saat yang sama, Jawa Timur menghadapi tekanan dari sisi perdagangan: nilai ekspor turun 5,33 persen pada Januari–Juli 2026, sementara impor naik 16,56 persen. Jika tren ini dibiarkan, pelaku kecil akan semakin terjepit oleh serbuan barang luar. Di sinilah perbaikan mentalitas pelaku UMKM dan peningkatan daya saing ekspor menjadi agenda strategis, bukan retorika. UMKM tidak cukup puas menjadi penyuplai pasar lokal; mereka perlu berani naik kelas menjadi pemain dalam rantai ekspor, atau akan selalu menjadi penonton dalam arus perdagangan global.
Penguatan Kelembagaan UMKM: Dari Bantuan ke Sistem yang Tangguh
Kadin Jatim menempatkan penguatan kelembagaan UMKM sebagai jembatan antara perubahan mentalitas dan peningkatan daya saing ekspor. Penguatan kelembagaan UMKM bukan sekadar membentuk paguyuban, melainkan membangun sistem usaha lengkap: legalitas, manajemen, pembiayaan, kapasitas produksi hingga pemasaran. Tanpa struktur yang rapi, mentalitas baru pelaku usaha akan mentok pada niat, bukan kinerja.
Dalam dialog sinergitas di Graha Kadin Jatim, pemerintah digambarkan bukan sebagai donatur permanen, tetapi mitra yang membuka akses dan merumuskan kebijakan, sementara UMKM wajib memperkuat kapasitas kelembagaannya agar mampu tumbuh dan bersaing. Pernyataan penting yang muncul adalah: “Pemerintah memberikan dukungan dan membuka akses, sementara UMKM juga harus memperkuat kapasitas kelembagaannya agar mampu tumbuh dan bersaing”. Artinya, logika ketergantungan harus diakhiri. bantuan tanpa pembenahan kelembagaan akan membuat UMKM tetap rapuh ketika dihadapkan pada standar ekspor yang menuntut kepastian kualitas, volume, dan konsistensi pasokan.
Inovasi SDM Usaha: Menutup Kesenjangan Kompetensi
Persoalan daya saing ekspor UMKM tidak bisa dilepaskan dari kualitas manusia di balik usaha. Kesenjangan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri disebut sebagai salah satu penyebab rendahnya produktivitas UMKM. Di banyak unit usaha kecil, pekerja masih mengandalkan keterampilan tradisional, sementara pasar global menuntut standar produksi yang efisien dan terukur. Di sinilah inovasi SDM usaha menjadi agenda penting: menyesuaikan keterampilan dengan tuntutan industri, bukan sebaliknya.
Kadin Jatim mendorong peningkatan kompetensi melalui pelatihan, sertifikasi, serta program upskilling dan reskilling agar tenaga kerja mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri. “Kunci produktivitas adalah produksi meningkat, efisiensi berjalan” menjadi peringatan keras bahwa tanpa SDM yang terampil, segala program ekspor hanya akan berhenti di rencana. Inovasi SDM usaha bukan hanya soal pelatihan teknis, tetapi juga disiplin kerja, literasi digital, dan kemampuan membaca tren pasar. Mentalitas pelaku UMKM yang baru harus menempatkan belajar ulang dan peningkatan keterampilan sebagai bagian normal dari strategi bisnis, bukan beban tambahan.
Rantai Usaha Terpadu dan Kemitraan: Jalan Masuk ke Pasar Global
Perubahan mentalitas pelaku UMKM akan sia-sia jika mereka dibiarkan berjalan sendiri dalam pasar global yang sarat persaingan. Karena itu, Kadin Jatim menekankan pentingnya menghubungkan UMKM ke rantai usaha terpadu yang lebih luas. Melalui kemitraan strategis dengan perusahaan besar, UMKM dapat memperoleh akses pasar, standar produksi, dan pembelajaran manajerial tanpa harus memikul semua risiko sendirian.
Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Pertanian menegaskan bahwa kemitraan antara perusahaan besar dan UMKM menjadi kunci agar usaha kecil bisa masuk ke rantai pasok. Di sini, sinergi Kadin, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan perbankan diharapkan menjadi motor yang memastikan penguatan kelembagaan, inovasi SDM usaha, dan pembentukan rantai usaha terpadu berjalan seiring. Kesimpulannya, strategi Kadin Jatim jelas: membangun mentalitas pelaku UMKM yang mandiri, memperkuat kelembagaan, menginvestasikan energi pada inovasi SDM, lalu mengaitkannya dalam kemitraan rantai pasok global. Tanpa kombinasi ini, UMKM akan tetap kuat di statistik domestik, tetapi lemah dalam arena ekspor.






