Paparan layar berlebih dapat mengusik perkembangan kognitif
Screen time anak adalah waktu yang dihabiskan untuk menatap layar perangkat seperti ponsel, tablet, komputer, atau televisi, baik untuk belajar maupun hiburan. Bagi anak, persoalannya bukan sekadar perangkat yang digunakan, melainkan durasi dan kebiasaan yang terbentuk. Screen time anak berlebihan dapat mengurangi kesempatan untuk bermain, berbicara, membaca, dan berinteraksi langsung—aktivitas yang memberi rangsangan penting bagi otak yang sedang berkembang. Sebuah penelitian mengaitkan paparan layar sejak dini dengan kecerdasan yang lebih rendah dan masalah daya ingat; penggunaan ponsel pada usia dini juga dikaitkan dengan fungsi kognitif dan prestasi akademik yang kurang baik. Dampak gadget kognitif anak dapat terlihat pada fokus, kemampuan mengingat, pemecahan masalah, dan bahasa. Karena itu, daya ingat anak menurun atau konsentrasi memburuk patut menjadi alasan untuk meninjau kebiasaan layar, bukan untuk langsung menyimpulkan penyebab tunggal.

Risiko bagi mata bertambah seiring lamanya menatap layar
Layar juga membebani mata, terutama ketika anak menatap objek dekat dalam waktu lama tanpa jeda. Saat melihat layar, otot siliaris bekerja untuk membantu memfokuskan penglihatan pada jarak dekat; mempertahankan fokus terlalu lama dapat membuat mata lelah. Anak juga cenderung lebih jarang berkedip saat terpaku pada layar, sehingga mata dapat terasa kering dan tidak nyaman. Dokter spesialis bedah saraf Roni Setiawan menyebut setiap tambahan satu jam screen time dapat meningkatkan risiko miopia atau rabun jauh sebesar 20 hingga 21 persen. Angka ini layak menjadi peringatan untuk mengurangi paparan yang tidak perlu, bukan alasan untuk menganggap setiap anak pasti mengalami gangguan penglihatan. Risiko rabun jauh pada anak perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan bila orang tua mencemaskan penglihatan anak; kebiasaan menatap layar lama tanpa jeda tetap patut diubah.
Tetapkan batas screen time berdasarkan usia
Screen time aman anak sebaiknya ditentukan dengan batas yang jelas, bukan diserahkan pada permintaan anak atau situasi sehari-hari. Rekomendasi WHO dan Akademi Pediatri Amerika yang dicantumkan dalam sumber menyarankan agar anak tidak diberi waktu menonton layar sebelum usia 18–24 bulan; untuk anak usia 2–5 tahun, durasi yang dianjurkan kurang dari satu jam per hari. Jadikan batas itu sebagai panduan keluarga yang konsisten, termasuk untuk ponsel, televisi, dan perangkat lain. Tidak semua penggunaan layar merugikan: materi digital edukatif dapat membantu proses belajar, tetapi manfaatnya tidak menghapus kebutuhan akan tidur cukup, aktivitas fisik, membaca, dan interaksi sosial. Orang tua dapat memilih konten bersama anak dan menghentikan layar saat waktu belajar, makan, atau tidur. Dengan batas yang sesuai usia dan rutinitas yang seimbang, anak tetap bisa belajar dari teknologi tanpa membiarkannya mengambil alih waktu tumbuh kembang.






