Efisiensi harus diikuti akses
Gas bumi untuk dapur MBG adalah pasokan energi berbasis gas alam yang digunakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memasak dalam kegiatan operasional program Makan Bergizi Gratis. Pemakaiannya menjanjikan pengeluaran bahan bakar lebih rendah, tetapi manfaat itu hanya berarti jika aksesnya dapat menjangkau dapur secara luas dan andal. Catatan di Batam dan pengalaman satu dapur di Bandar Lampung memberi gambaran berbeda tentang peluang tersebut. Di Batam, PGN mencatat 10 dapur MBG telah menggunakan gas bumi; di Bandar Lampung, pengelola SPPG Sukarame 5 mengklaim jargas PGN menekan biaya energi dapur. Namun angka penghematan satu lokasi bukan bukti bahwa semua dapur akan memperoleh hasil sama. Tanpa informasi terbuka mengenai jangkauan layanan dan biaya pemasangan, efisiensi berisiko menjadi keunggulan bagi dapur yang kebetulan sudah tersambung, bukan pilihan yang tersedia secara merata.
Batam punya pelanggan, tetapi jumlahnya berubah
PGN Area Batam mencatat 10 dapur MBG menggunakan gas bumi untuk memasak, tersebar di Batu Aji, Nongsa, Bengkong, Sekupang, Sagulung, dan Batam Kota. Daftarnya mencakup dua lokasi Yayasan Mandiri Riau di Sei Panas dan STC Mall, Yayasan Rosa di Anggrek Mas, serta SPPG Cipta Asri, Tanjung Uncang, Cipta Land, Golden Prawn, dan Batu Aji, juga dapur MBG Nongsa dan Bengkong. Jumlah itu lebih rendah daripada catatan 12 dapur pada Januari 2026, tetapi PGN tidak menjelaskan penyebab perubahan tersebut. Pergerakan ini penting: jumlah sambungan saja tidak cukup untuk menunjukkan seberapa konsisten pemanfaatannya. Pelanggan dapur dikategorikan sebagai komersial, dengan kelompok pemakaian setara Bronze 1, yakni 1.001 hingga 10.000 meter kubik. PGN membuka layanan bagi dapur lain melalui pipa atau C-Cyl/Gaslink Cylinder, yang menyalurkan gas alam terkompresi untuk lokasi tanpa jaringan pipa.
Penghematan Lampung menjanjikan, tetapi belum mewakili semua
Di Bandar Lampung, Alfonsus Adhi Pradana, pengelola SPPG Sukarame 5, mengatakan penggunaan jargas PGN membantu menekan biaya bahan bakar. Dalam laporan yang terbit 29 Oktober 2026, ia memperkirakan LPG tabung 50 kilogram menghabiskan sekitar Rp23 juta per bulan, sedangkan gas PGN sekitar Rp14 juta per bulan. Selisihnya sekitar Rp9 juta, atau kurang lebih 39 persen dibandingkan pengeluaran LPG yang ia sebutkan. Pengalaman ini patut diperhatikan karena dapur tersebut melayani sekitar 2.882 penerima manfaat dari 19 sekolah, dengan kegiatan memasak sejak sekitar pukul 00.30 hingga 06.00 WIB. Energi yang stabil dan pengeluaran lebih rendah dapat mendukung operasi harian berskala besar. Namun, angka itu berasal dari satu dapur, bukan perbandingan terkontrol seluruh SPPG. Jumlah porsi, intensitas memasak, kebutuhan energi, dan biaya instalasi dapat mengubah hasil. Klaim penghematan karena itu perlu diperlakukan sebagai bukti potensi, bukan jaminan umum.
Perluasan perlu disertai data yang terbuka
Persoalan utama di Lampung bukan apakah jargas dapat menghemat, melainkan siapa yang bisa mengaksesnya dan dengan syarat apa. Hingga laporan 29 Oktober 2026, belum tersedia angka terbaru tentang total SPPG terhubung gas, dapur yang belum terjangkau, ataupun target perluasan layanan yang terukur. Karena itu, pemerataan akses belum dapat dinilai dengan baik. PGN Batam menyatakan terbuka melayani dapur MBG yang berminat melalui jaringan pipa maupun skema penyaluran sesuai lokasi. Komitmen itu akan lebih berarti bila disertai informasi praktis tentang cakupan, cara mengajukan layanan, kebutuhan instalasi, serta pilihan bagi lokasi di luar jaringan. Pengelola dapur juga memerlukan dasar perbandingan yang memperhitungkan pola operasional masing-masing, bukan hanya satu angka penghematan. Kesimpulannya, gas bumi berpotensi mengurangi beban energi dapur MBG, sebagaimana terlihat dari pengalaman Sukarame 5 dan penggunaan di Batam. Tetapi efisiensi yang adil menuntut transparansi jumlah SPPG terhubung gas dan rencana perluasan. Tanpa itu, penghematan tetap nyata bagi sebagian dapur, sementara pemerataannya masih menjadi pertanyaan.






