Penerangan yang memperpanjang waktu penggunaan lapangan
Program PELITA adalah inisiatif penerangan lingkungan yang menggunakan energi matahari untuk menyalakan lampu bagi ruang bersama warga, terutama saat aktivitas berlanjut hingga malam. Di Lapangan Voli Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono meresmikan program ini pada Rabu malam, 28 Oktober 2026. Tiga lampu tenaga surya dipasang di lapangan yang digunakan untuk berolahraga dan berkegiatan bersama. Langkah ini tepat sasaran: lapangan warga tidak semestinya berhenti berfungsi hanya karena matahari terbenam. Penerangan lapangan warga dapat memperpanjang waktu berolahraga bagi anak-anak maupun warga lain, sekaligus membuat ruang publik lebih nyaman digunakan. Nilai program ini akan paling terasa bukan pada seremoni peresmian, melainkan pada seberapa sering warga bisa memanfaatkan lapangan dengan aman setelah sore.

Energi surya warga, manfaat nyata di malam hari
Lampu PELITA menyerap dan menyimpan energi matahari pada siang hari, lalu menyala otomatis ketika hari mulai gelap. Dengan demikian, energi surya warga bukan sekadar gagasan tentang energi bersih; ia menjadi layanan praktis yang memberi warga tambahan waktu untuk beraktivitas. AHY menyebut lampu di Petukangan Utara memungkinkan warga, termasuk anak-anak, berolahraga pada sore hingga malam dengan lebih aman dan nyaman. Manfaat seperti ini penting, tetapi hasilnya tetap bergantung pada penempatan lampu yang tepat dan pemeliharaan setelah pemasangan. Sumber program menyebut penerangan ini tidak bergantung pada listrik PLN, sehingga dapat menjadi alternatif bagi titik yang membutuhkan lampu tanpa sambungan langsung. Namun, keberlanjutan bukan hanya soal sumber energi: fasilitas harus terus berfungsi agar warga benar-benar merasakan manfaatnya.
Perluasan perlu menyasar gang gelap dan ruang olahraga
PELITA telah berkembang dari satu titik di Jakarta Barat menjadi 25 titik di Jakarta, Kepulauan Seribu, Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang Selatan. Skala tersebut memberi pijakan untuk memperluas program, tetapi kebutuhan masih terlihat di gang permukiman yang minim penerangan pada malam hari. Kondisi gelap menyulitkan warga yang mulai beraktivitas sejak subuh atau baru pulang malam. AHY berharap jangkauan program meluas, terutama di Jabodetabek, dengan gang sempit, fasilitas olahraga, dan ruang aktivitas warga sebagai sasaran berikutnya. Arah ini masuk akal: penentuan lokasi sebaiknya bertolak dari kebutuhan harian, bukan sekadar mengejar jumlah titik. Gang yang menjadi jalur pulang-pergi dan lapangan yang rutin dipakai warga menawarkan manfaat langsung yang mudah dirasakan.
Ukuran keberhasilan ada pada perawatan dan akses
Perluasan program PELITA patut didukung, tetapi pemasangan lampu saja belum cukup untuk menjamin penerangan yang bertahan. Setiap lokasi membutuhkan penempatan yang sesuai dengan kegiatan warga dan pemeliharaan agar lampu tetap berfungsi. Karena program mengandalkan tenaga surya, kondisi pemasangan dan kinerja fasilitas di lapangan juga perlu diperhatikan. Keterlibatan warga dalam menyampaikan kebutuhan dan melaporkan kerusakan dapat membantu menjaga manfaatnya tetap nyata. Perluasan ke permukiman dan fasilitas olahraga lain di Jabodetabek akan lebih bermakna jika disertai perhatian pada keberlanjutan, bukan hanya peresmian. Tiga lampu di Petukangan Utara merupakan awal yang konkret; tantangan berikutnya adalah memastikan lebih banyak warga memperoleh penerangan yang aman, mudah diakses, dan terawat.






