Kenaikan sehari membalikkan pelemahan sebelumnya
Harga minyak dunia adalah nilai perdagangan minyak mentah di pasar internasional yang menjadi acuan bagi berbagai jenis minyak dan ikut dipengaruhi keseimbangan pasokan, permintaan, serta risiko geopolitik. Pada penutupan Rabu, 28 Oktober, Brent naik 1 persen menjadi US$115,32 per barel, sementara WTI melonjak 3 persen ke US$102,78; sehari sebelumnya, keduanya turun masing-masing 1,67 persen dan 1,83 persen. Rebound WTI lebih kuat dan mengangkat patokannya kembali di atas US$100 setelah penutupan Selasa di bawah angka tersebut. Jadi, harga Brent hari ini dan harga WTI hari ini menunjukkan pemulihan yang tidak seragam: WTI bergerak lebih tajam, sedangkan Brent tetap lebih mahal. Perbandingan dua hari ini juga memperlihatkan betapa cepat sentimen minyak berbalik ketika risiko pasokan kembali menjadi perhatian.
| Patokan | Penutupan 27 Oktober | Perubahan 27 Oktober | Penutupan 28 Oktober | Perubahan 28 Oktober |
|---|---|---|---|---|
| Brent | US$113,88 per barel | Turun 1,67% | US$115,32 per barel | Naik 1% |
| WTI | US$99,90 per barel | Turun 1,83% | US$102,78 per barel | Naik 3% |
Risiko pasokan mendorong rebound
Pemulihan tersebut bukan sekadar pantulan teknis. Serangan Houthi terhadap kilang Arab Saudi berkapasitas 550.000 barel per hari dan bandara Aden di Yaman menambah kekhawatiran gangguan pasokan. Pasar juga mempertimbangkan kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada 3 November, sementara Iran dikabarkan menolak proposal damai baru dari Qatar. Sehari sebelumnya, perhatian tertuju pada pemilu Israel dan dampaknya terhadap arah konflik AS-Iran; laporan serangan rudal Houthi ke kilang Ras Tanura serta meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz turut menjaga premi risiko. Data persediaan memberi dorongan tambahan: stok minyak mentah AS turun 1,9 juta barel, berlawanan dengan perkiraan kenaikan tipis. Gabungan ancaman geopolitik dan penurunan stok menjelaskan mengapa kedua patokan lekas berbalik naik.
Konversi rupiah bukan harga BBM di SPBU
Laporan menyajikan konversi harga minyak per barel dengan kurs Rp18.158 per dolar AS dan ukuran 1 barel setara 158,987 liter. Berdasarkan perhitungan yang dicantumkan, Brent setara Rp2.093.981 per barel atau Rp13.171 per liter, sedangkan WTI setara Rp1.866.279 per barel atau Rp11.739 per liter. Angka per liter itu adalah nilai minyak mentah, bukan harga BBM yang dibayar konsumen. Harga di pompa juga mencakup proses pengilangan, distribusi, dan pajak, sehingga pergerakan patokan global tidak otomatis diteruskan satu banding satu ke harga eceran. Bagi pengguna sehari-hari, konversi ini berguna untuk memahami skala perubahan bahan baku, tetapi bukan dasar untuk menyimpulkan berapa harga BBM akan berubah.
Pertemuan OPEC+ menjadi ujian berikutnya
Arah berikutnya bergantung pada apakah kekhawatiran pasokan mereda atau justru bertambah. Pelaku pasar menanti pertemuan OPEC+ pada Minggu, yang diperkirakan mempertahankan target produksi Desember. Jika keputusan itu sesuai perkiraan, fokus dapat kembali tertuju pada risiko geopolitik, perkembangan hubungan AS-Iran setelah pemilu sela 3 November, dan data persediaan AS. Kenaikan Brent dan WTI dalam satu sesi memang menghapus pelemahan sehari sebelumnya, tetapi belum membuktikan tren naik yang stabil. Perbedaan respons kedua patokan juga penting: WTI memimpin pemulihan, sementara Brent bertahan pada tingkat lebih tinggi. Kesimpulannya, lonjakan terbaru lebih tepat dibaca sebagai cerminan pasar yang peka terhadap ancaman pasokan, bukan jaminan bahwa kenaikan akan berlanjut. Harga minyak dunia masih rentan berbalik selama ketidakpastian keamanan dan kebijakan produksi belum terjawab.






