Budaya Aman Berkendara Dimulai dari Orang Tua
Budaya aman berkendara keluarga adalah kebiasaan sadar dan konsisten dalam memprioritaskan keselamatan di jalan, yang dibangun melalui edukasi safety riding orang tua, keteladanan sehari-hari, serta aturan rumah yang selaras dengan prinsip keselamatan lalu lintas untuk anak dan dewasa. Di Gowa, edukasi safety riding orang tua dan wali murid SMKN 3 Gowa yang melibatkan sekitar 40 peserta menjadi contoh jelas bagaimana sekolah dan industri bisa menggeser budaya berkendara dari sekadar bisa mengemudi menjadi bertanggung jawab di jalan. Program ini bukan tambahan formalitas, melainkan intervensi langsung ke pengambil keputusan utama di rumah: orang tua.
Instruktur safety riding Asmo Sulsel, Wanny, menitikberatkan materi pada prinsip #Cari_Aman, mulai kesiapan fisik sebelum berkendara, perlengkapan keselamatan, ketaatan aturan, hingga kemampuan membaca situasi jalan. Di titik inilah tampak jelas: budaya aman tidak lahir dari himbauan umum, tetapi dari pemahaman rinci dan berulang yang diterjemahkan menjadi kebiasaan. Jika keluarga serius menjadikan keselamatan sebagai aturan tak tertawar, angka pelanggaran dan kecelakaan bisa dikurangi bahkan sebelum anak menyentuh setang motor pertama mereka.
Program Keteladanan Berkendara: Anak Meniru, Bukan Hanya Mendengar
Kekuatan utama program keteladanan berkendara yang digelar Asmo Sulsel bukan pada poster atau presentasi, melainkan pada pergeseran peran orang tua. Wanny menegaskan bahwa keselamatan berkendara dibangun melalui kebiasaan konsisten, dan orang tua adalah sumber teladan pertama di mata anak. "Ketika orang tua selalu memberikan contoh, seperti menggunakan helm dengan benar, mematuhi aturan lalu lintas, dan memastikan kondisi tubuh siap berkendara, anak juga akan melihat dan belajar". Ini bukan teori abstrak; anak menghafal pola, bukan nasihat.
Pendekatan ini adalah bentuk praktis dari program keteladanan berkendara: orang tua diminta menyelaraskan ucapan dan tindakan. Marketing Manager Asmo Sulsel, Antofany Yusticia Ahmadi, menyebut keluarga sebagai lingkungan terpenting dalam membangun kebiasaan berkendara aman dan bertanggung jawab. Edukasi safety riding orang tua di SMKN 3 Gowa menjadi langkah strategis: sekolah mengundang, industri mengedukasi, keluarga menerapkan. Ketika #Cari_Aman diangkat sebagai budaya, bukan slogan, rumah berubah menjadi “sekolah jalan raya” pertama yang menentukan cara anak memperlakukan helm, rem, dan aturan lampu merah.
Sepeda Listrik dan Keselamatan Sepeda Anak: Tren yang Tak Boleh Dibiarkan Liar
Di Sidigede, Welahan, mahasiswa KKN sebuah universitas menggelar sosialisasi tata tertib dan keselamatan penggunaan sepeda listrik usia dini di SDN 01 Sidigede, menyasar siswa kelas IV sebagai upaya menumbuhkan kesadaran berkendara aman sejak dini. Program ini lahir sebagai respons atas maraknya penggunaan sepeda listrik oleh anak-anak tanpa pemahaman aturan lalu lintas dan keselamatan diri. Fakta ini menunjukkan sisi gelap tren: teknologi yang tampak aman dan pelan sering membuat orang tua lengah.
Program bertema "Anak Hebat, Tertib di Jalan" mencakup keselamatan berjalan kaki, bersepeda konvensional, hingga penggunaan sepeda listrik. Anak diajarkan pentingnya izin dan pendampingan orang tua, kewajiban helm, larangan berkendara di jalan raya ramai, ngebut, berboncengan lebih dari satu, dan bercanda saat berkendara. Ini menegaskan bahwa keselamatan sepeda anak bukan sekadar memilih sepeda terbaik, tetapi mengikat perangkat itu dengan aturan keluarga dan sekolah. Orang tua yang mengizinkan sepeda listrik tanpa batasan berarti memindahkan risiko dari motor ke mainan, bukan menghapusnya.
Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Komunitas: Investasi Jangka Panjang
Kedua program – edukasi safety riding orang tua di Gowa dan sosialisasi keselamatan sepeda listrik di Sidigede – memperlihatkan pola yang sama: keselamatan adalah proyek bersama. Di Gowa, komitmen Asmo Sulsel untuk memperluas edukasi keselamatan berkendara kepada masyarakat memperkuat pesan bahwa keterlibatan keluarga bukan pelengkap, tetapi syarat keberhasilan. Di Sidigede, kolaborasi mahasiswa KKN dengan sekolah mencakup persiapan, pelaksanaan interaktif, hingga evaluasi melalui permainan edukatif, lengkap dengan poster sebagai pengingat permanen.
Program di Sidigede diharapkan menjadi langkah awal menumbuhkan sikap disiplin, hati-hati, dan bertanggung jawab dalam berkendara sejak usia dini, sekaligus mendorong siswa menyebarkan pesan keselamatan kepada teman dan keluarga. Di sisi lain, Asmo Sulsel berharap semakin banyak keluarga memahami pentingnya #Cari_Aman dan menjadikannya kebiasaan sehari-hari. Kedua inisiatif ini menjelaskan satu hal: budaya aman berkendara keluarga adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam satu minggu, tetapi akan sangat terasa ketika anak yang tumbuh dengan helm di kepala dan aturan di pikirannya menjadi pengendara yang menghargai nyawa – milik sendiri dan orang lain.






