Jakarta Vision Mengubah Dialog Menjadi Arah Bersama
Ekonomi kreatif adalah kegiatan yang mengubah gagasan, keterampilan, dan kekayaan intelektual menjadi karya serta nilai ekonomi, sekaligus membuka ruang bagi identitas lokal untuk berkontribusi pada pembangunan bersama. Itulah alasan WCCE 2026 Jakarta penting: konferensi ini perlu dinilai dari arah dan tindak lanjutnya, bukan sekadar jumlah delegasi. Pertemuan dibuka di Jakarta pada 22 Oktober dan sesi pleno berlangsung selama dua hari, 22–23 Oktober, dengan 33 diskusi strategis. WCCE menghadirkan delegasi dari lebih dari 80 negara, tujuh organisasi internasional, serta 38 menteri dan perwakilan tingkat tinggi. Jakarta Vision kreatif merumuskan empat pilar: penggunaan teknologi dan AI untuk memperkuat kreativitas manusia, ekonomi sirkular dan desain berkelanjutan, ekosistem inklusif yang memberdayakan masyarakat, serta perlindungan kekayaan intelektual agar kreator memperoleh nilai ekonomi yang adil. Kerangka ini menjadi hasil paling berarti jika kelak diterjemahkan menjadi kebijakan dan kerja sama yang terukur.

Koridor Indonesia–India Menawarkan Langkah Nyata
Peluncuran Indonesia India Creative Tech Corridor menjadi bukti bahwa konferensi ekonomi kreatif dapat melahirkan kemitraan konkret, bukan berhenti pada pernyataan niat. Inisiatif ini menghubungkan kekayaan intelektual dan talenta kreatif Indonesia dengan teknologi serta kemampuan produksi audiovisual India. Pada 24 Oktober, peluncurannya disertai penandatanganan nota kesepahaman antara Lokanima di KEK Singhasari dan mitra industri dari kedua negara. Kerja sama itu mencakup teknologi kreatif, kecerdasan artifisial, penciptaan kekayaan intelektual, dan distribusi konten ke pasar internasional. Di KEK Singhasari, Creative Tech Sandbox juga disiapkan sebagai ruang uji bagi kreator dan pelaku industri untuk mengeksplorasi AI dan teknologi baru. Arah ini menjanjikan, tetapi keberhasilannya akan bergantung pada akses yang nyata bagi kreator, perlindungan karya, serta peluang agar talenta lokal ikut memiliki manfaat dari kolaborasi tersebut.

Inklusi Harus Terasa bagi UMKM dan Pekerja
Klaim bahwa ekonomi kreatif menjadi motor pertumbuhan akan lebih meyakinkan ketika dampaknya sampai kepada usaha kecil dan pekerja, bukan hanya perusahaan besar. Di Indonesia, sektor ini menyumbang 7,38 persen terhadap PDB dan menyerap hingga 27,4 juta tenaga kerja. WCCE mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity” dan menempatkan kolaborasi sebagai syarat untuk membuka akses pada pasar, investasi, teknologi, serta pengembangan kekayaan intelektual. Semangat itu terlihat di Pasar Wiwitan, yang melibatkan lebih dari 200 UMKM lokal. Penyelenggaraannya memberi ruang promosi, tetapi tantangan berikutnya ialah mengubah kesempatan sesaat menjadi pesanan, jaringan usaha, dan pekerjaan yang berkelanjutan. Ferry Irwandi berharap UMKM dapat membuka lebih banyak lapangan kerja dan membantu peralihan dari pekerjaan informal ke formal. Pemerintah, kreator, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, investor, dan mitra internasional perlu bekerja bersama agar pertumbuhan regional bertumpu pada potensi lokal.







