Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Vakum Enam Tahun ke Runway: Comeback yang Nyaman dan Peka Bencana

Dari Vakum Enam Tahun ke Runway: Comeback yang Nyaman dan Peka Bencana
Minat|Pertunjukan Busana

Comeback yang Mengutamakan Rasa Nyaman dan Kepedulian

Fenomena desainer Indonesia comeback dengan koleksi fashion nyaman yang sekaligus membawa fashion dengan misi sosial adalah gerakan kreatif ketika rancangan tidak hanya memikirkan estetika dan penjualan, tetapi juga pengalaman tubuh pemakai serta dampak nyata bagi komunitas rentan, misalnya korban bencana alam, melalui sebagian keuntungan yang dialokasikan untuk bantuan kemanusiaan dan pemulihan lingkungan hidup. Di tengah tren ini, langkah Andhita Siswandi terasa penting. Setelah sempat vakum enam tahun untuk fokus pada perannya sebagai ibu, ia kembali ke dunia mode dengan koleksi bertajuk "Adorn" yang secara terang-terangan memadukan kenyamanan, keunikan, dan kepedulian terhadap korban karhutla. Ini bukan sekadar comeback personal, melainkan pernyataan bahwa busana bisa menjadi medium empati. Ketika banyak label mengejar sensasi, Andhita memilih menjadikan runway sebagai ruang refleksi atas tubuh perempuan dan krisis ekologis.

Adorn: Rancangan Quirky yang Paham Tubuh Perempuan

Kekuatan utama Andhita Siswandi koleksi Adorn ada pada keberanian mengakui pengalaman tubuh perempuan sebagai sumber desain, bukan sekadar objek dekoratif. Empat kali mengandung, melahirkan, dan mengalami post-partum membuatnya memahami bagian tubuh yang kerap memicu stres dan rasa tidak percaya diri. Alih-alih menutupi fakta itu dengan ilusi glamor, ia merancang potongan yang membuat pemakainya merasa paling nyaman, sambil tetap tampil quirky dan dewasa. Koleksi ini berisi kemeja, dress, kaus berkerah, blazer, bomber jacket, berbagai jenis rok, celana pendek dan panjang, gaun, serta cape yang dirancang sebagai baju siap pakai. Nuansa warna lembut seperti kuning, merah muda, lavender, hijau, dan biru dipadukan dengan hitam sebagai penyeimbang, mempertegas bahwa kenyamanan tidak harus mengorbankan karakter. "Adorn ini kombinasi antara nyaman dan cantik," tegas sang desainer.

Teknik Rumit, Detail Kaya, Tapi Tetap Ramah Pemakai

Yang menarik, koleksi fashion nyaman ini tidak berhenti pada potongan longgar atau bahan lembut. Andhita menantang anggapan bahwa pakaian yang enak dipakai harus sederhana secara teknis. Ia banyak bermain dengan ruffle, pita, anyaman, drapery, volume, peplum, hingga detail bulu, lalu menjahitnya dengan teknik french seam finishing yang membuat koleksi comeback ini lebih rumit dari sebelumnya. Bahan premium seperti duchess dan tweed dipertemukan dengan material yang nyaman seperti sutra, katun, organza, chiffon, dan semi wool, menunjukkan bahwa kemewahan bisa berdampingan dengan kepraktisan sehari-hari. Peragaan busana di Hallf Pati Unus, Jakarta Selatan, membuka sekuen dengan motif garis bernuansa ceria, lalu bergeser ke dress dan gaun flowy yang ultrafeminin, sebelum berakhir pada tampilan bold yang lebih dewasa. Ini bukan koleksi yang minta dimengerti lewat konsep rumit; ia meminta dirasakan lewat gerak tubuh.

Fashion dengan Misi Sosial: Dari Runway ke Korban Karhutla

Dimensi paling politis dari comeback ini adalah pilihan menjadikan Adorn sebagai fashion dengan misi sosial. Menandai fase baru eksistensinya, Andhita menggelar fashion show dan koleksi yang ditujukan untuk korban terdampak karhutla, menghubungkan dunia runway dengan realitas asap dan kehilangan di lapangan. Salah satu tampilan yang mencuri perhatian adalah t-shirt bertuliskan "Worth Wild" yang secara eksplisit ditujukan untuk mereka yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Lebih jauh, ia merilis kaus terbatas dalam warna hitam dan putih, di mana seluruh keuntungannya akan disumbangkan kepada para korban dampak karhutla, dengan harga Rp 300 ribu per kaus. Di sini, desainer Indonesia comeback bukan hanya soal kembali menjual koleksi, tetapi menguji apakah konsumen bersedia menjadikan gaya sebagai aksi solidaritas. Busana tidak berhenti di cermin; ia bergerak ke posko bantuan.

Gelombang Baru Desainer Lokal: Estetika, Tradisi, dan Tanggung Jawab

Langkah Andhita sejalan dengan gelombang desainer lokal yang menolak memisahkan komersial dan nilai. Sebelumnya, Ayu Dyah Andari menghadirkan koleksi Puspa Nusantara sebagai perayaan wastra melalui Sasirangan, Batik, dan Songket dalam busana feminin, elegan, dan berkelas, sambil mengingatkan pentingnya merawat warisan budaya di tengah industri mode modern. Jika Ayu menekankan tanggung jawab terhadap tradisi, Andhita menyorot tanggung jawab terhadap tubuh perempuan dan korban bencana ekologis. Keduanya menunjukkan bahwa label lokal tidak puas menjadi peniru tren global; mereka membangun narasi sendiri. Tren desainer yang menggabungkan komersial dengan misi sosial bukan sekadar strategi branding, melainkan cara menegaskan posisi mode sebagai bagian dari ekosistem sosial. Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi "apa yang kita pakai", melainkan "siapa yang terbantu ketika kita memilih pakaian itu".

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!