Edukasi di sekolah harus lebih dari sekadar imbauan
Edukasi lalu lintas di sekolah adalah pembelajaran yang mengenalkan aturan jalan, risiko berkendara, dan kebiasaan aman kepada siswa agar keselamatan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. Nilainya paling besar ketika sosialisasi tidak berhenti sebagai pesan seremonial, melainkan diteruskan oleh sekolah dalam aturan dan kebiasaan yang konsisten.
Pada Senin, 26 Oktober 2026, Satlantas Polresta Barelang melalui Satgas 1 Preemtif Operasi Patuh Seligi mendatangi SMA Pelita Utama di Batam. Dalam kegiatan pukul 07.00 hingga 08.00, petugas menyampaikan amanat saat upacara serta mengenalkan rambu lalu lintas dan cara berkendara aman. Langkah ini tepat karena siswa bukan hanya calon pengendara: mereka juga pejalan kaki dan pengguna jalan lain yang perlu mengenali bahaya. Bekal tersebut membantu keselamatan pelajar sekaligus menanamkan tertib berlalu lintas sejak dini.

Operasi kepolisian memperluas sasaran, bukan hanya penindakan
Di Bengkulu Selatan, Operasi Patuh Nala berlangsung selama 14 hari, mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026. Satlantas Polres Bengkulu Selatan menyatakan sosialisasi menyasar siswa dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA, sebagai bagian dari pendekatan preemtif dan preventif serta penegakan hukum. Cakupan lintas usia ini penting: pemahaman tentang rambu dan perilaku aman sebaiknya dibangun sebelum anak menjadi pengendara.
Berbeda dari pembinaan di satu sekolah, operasi memberi kepolisian jalur untuk menjangkau banyak kelompok dan menggabungkan pesan keselamatan dengan pengawasan. Namun, penindakan saja tidak cukup untuk mengubah kebiasaan. Sosialisasi yang berulang, disertai penjelasan yang sesuai usia, lebih mungkin membuat aturan dipahami sebagai perlindungan, bukan sekadar ancaman sanksi. Pesan praktis bagi pengguna jalan tetap jelas: patuhi rambu dan lengkapi perlengkapan kendaraan sebelum bepergian.
Polisi dan sekolah perlu berbagi tanggung jawab
Di Slawi, Unit Kamsel Satlantas Polres Tegal mengunjungi SMKN 2 Slawi pada hari pertama Operasi Patuh Candi, Senin, 26 Oktober 2026, untuk memberi bimbingan dan penyuluhan langsung. Melalui program Polisi Peduli Pendidikan dan pendekatan Police Goes to School, materi keselamatan jalan disandingkan dengan pembahasan perundungan, tawuran, narkoba, judi daring, dan literasi digital. Luasnya topik itu masuk akal, sebab disiplin di jalan berkaitan dengan tanggung jawab yang juga dibutuhkan di lingkungan sosial.
Ada batas yang harus disampaikan tanpa samar: siswa yang belum memiliki SIM dilarang membawa kendaraan bermotor ke sekolah, dan pengendara wajib memakai helm berstandar SNI. Kepolisian dapat menjelaskan aturan dan risiko; sekolah dapat memperkuatnya lewat kebijakan, pengawasan, serta komunikasi dengan keluarga. Sosialisasi di sekolah akan lebih berdampak jika pesan itu muncul bukan hanya saat operasi, tetapi juga dalam rutinitas sekolah.
Perbandingan tiga kegiatan ini menunjukkan dua peran yang saling melengkapi: operasi kepolisian membuka momentum dan menjangkau pelajar, sedangkan sekolah menjaga kesinambungan pendidikan. Edukasi berkala diharapkan membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan bebas dari kenakalan remaja. Kesimpulannya, keselamatan bukan hasil satu kunjungan polisi; ia tumbuh ketika aturan dipahami, dicontohkan, dan ditegakkan bersama setiap hari.







