Festival kuliner viral: dari hiburan jadi mesin penggerak UMKM pangan
Festival kuliner viral adalah gelaran makanan berskala besar yang mengumpulkan puluhan hingga puluhan tenant jajanan lokal dan populer dalam satu lokasi, memanfaatkan hype media sosial dan keramaian pusat perbelanjaan untuk memperluas jangkauan pasar, mengangkat brand pedagang UMKM pangan, serta menghubungkan konsumen lintas kota dengan ragam kuliner tradisional dan kekinian dalam pengalaman makan yang terkurasi dan intensif selama beberapa hari. Di titik ini, festival kuliner bukan sekadar wisata lidah, melainkan mesin penggerak ekonomi mikro yang layak diperlakukan sebagai strategi pemasaran serius. Ketika ribuan orang berkumpul untuk berburu jajanan lokal Jakarta atau kuliner halal hits, yang terjadi bukan hanya antrean panjang, tetapi juga percepatan pengenalan merek, pengetesan menu baru, dan pembentukan komunitas pelanggan yang tidak mungkin tercapai jika pedagang bergerak sendirian dari kios kecil di sudut kota.
Jajanan Viral Jakarta di TSM Bali: bukti pasar lintas kota itu nyata
Festival bertajuk Jajanan Viral Jakarta (Bali Vol 2) yang digelar di Atrium 2, Lantai GF Trans Studio Mall Bali pada 7–18 Oktober 2026 menghadirkan sekitar 70 tenant kuliner dari ibu kota. Ini bukan sekadar parade jajanan lokal Jakarta seperti Aldi's Burger, Ci Mehong PIK Baking House, atau Gohyong Viral Jakarta, melainkan eksperimen serius: apakah brand jajanan yang lahir di satu kota bisa hidup di pasar kota lain tanpa kehilangan karakter. Jawabannya terlihat dari antusiasme warga Bali yang memanfaatkan momentum ini untuk mencicipi kuliner yang belum ada di daerah mereka. Menurut pihak mal, tiga hari pertama festival sudah menarik sekitar 29.000 pengunjung, atau rata-rata 9.000 orang per hari, dan di akhir pekan angka ini diperkirakan meningkat. Kutipan ini penting: "Per hari ini sudah sekitar 29.000 orang yang datang dalam 3 hari ini. Per harinya sekitaran 9.000." Angka tersebut menunjukkan bahwa ketika festival kuliner viral masuk ke pusat perbelanjaan modern, dampaknya bukan hanya ke tenant, tetapi juga ke ekosistem ritel secara keseluruhan.
Halalicious Food Festival: panggung gaya hidup halal dan UMKM pangan
Di Jakarta, Halalicious Food Festival 2026 menjadi wajah lain dari event kuliner 2026: fokus, terkurasi, dan berorientasi pada gaya hidup halal. Festival ini berlangsung selama lima hari, 14 hingga 18 Oktober 2026, di Jakarta International Convention Centre (JICC), Senayan, dengan 66 tenant yang menawarkan beragam makanan dan minuman halal, dari kuliner khas Nusantara hingga hidangan Jepang dan Timur Tengah yang tengah populer di media sosial. Area festival dirancang seperti zona kuliner lengkap dengan deretan tenant di kanan-kiri dan meja kursi di tengah, yang mulai padat menjelang siang hari. Meski antrean tertib, pengunjung harus bergantian menggunakan tempat duduk, mengingat keterbatasan ruang. Di balik keramaian, ada agenda yang lebih besar: Ekonom Senior Bank Indonesia, Aulia Fitria Y, menegaskan bahwa Halalicious adalah agenda tahunan yang membuka ruang promosi bagi usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang kuliner, sekaligus memperkenalkan halal lifestyle melalui produk yang halal dan thayyib.

Jajanan tradisional dan brand lokal: yang viral bukan hanya yang kekinian
Salah satu kesalahan umum dalam membaca fenomena festival kuliner viral adalah menganggap hanya menu kekinian yang diuntungkan. Fakta di lapangan berkata lain. Di Jajanan Viral Jakarta di TSM Bali, kuliner tradisional seperti Kerak Telor Betawi Bang Ahmad yang sudah hadir sejak 1970, serta Kue Ape dan Kue Cubit Mang Ayi, ikut meramaikan festival dan berdiri sejajar dengan burger, pizza, dan gelato. Di Halalicious Food Festival, kurasi tenant bahkan secara eksplisit mempertimbangkan keunikan makanan, popularitas produk, serta sajian khas lokal dan luar negeri yang sudah menyesuaikan cita rasa dengan selera konsumen. Artinya, pedagang jajanan tradisional tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap nostalgia, tetapi sebagai bagian dari portofolio brand lokal yang layak dipromosikan ke pasar nasional. Bagi pedagang UMKM pangan, kehadiran di festival seperti ini adalah kesempatan langka untuk menguji apakah resep turun-temurun mereka bisa diterjemahkan menjadi identitas merek yang kuat di hadapan generasi yang tumbuh dengan algoritma media sosial.
Ekosistem baru: kolaborasi festival kuliner dan pusat perbelanjaan modern
Dua event kuliner 2026 ini memperlihatkan pola yang sama: festival kuliner viral tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berkolaborasi dengan pusat perbelanjaan dan agenda ekonomi yang lebih luas. Jajanan Viral Jakarta di TSM Bali menjadi pengalaman baru bagi ICIP ICIP FEST karena untuk pertama kalinya mereka menggelar acara di dalam mal, bukan di area terbuka. Dampaknya langsung terasa, jumlah kunjungan ke mal terdongkrak signifikan dan pengunjung didominasi masyarakat Bali dari Denpasar dan Tabanan, plus wisatawan yang mengabadikan suasana festival melalui vlog. Di Jakarta, Halalicious terintegrasi dengan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), menjadikan zona kuliner halal sebagai pintu masuk ke diskursus gaya hidup halal dan penguatan UMKM. Kolaborasi seperti ini menciptakan ekosistem baru: pusat perbelanjaan mendapat traffic, festival mendapatkan fasilitas dan legitimasi, sementara pedagang mikro memperoleh panggung, data perilaku konsumen, dan peluang membangun jaringan distribusi di luar kota asal. Jika tren ini dijaga, festival kuliner bisa menjadi salah satu kanal paling efektif untuk mengangkat jajanan lokal ke level brand nasional.






