Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Melepas Tukik ke Laut: Edukasi Konservasi yang Mengubah Cara Belajar Anak

Melepas Tukik ke Laut: Edukasi Konservasi yang Mengubah Cara Belajar Anak
Minat|Kura-kura

Pelepasan Tukik Penyu: Ketika Pantai Menjadi Ruang Kelas

Pelepasan tukik penyu yang dipadukan dengan penanaman mangrove adalah bentuk edukasi konservasi pantai yang mengajak siswa, guru, dan masyarakat belajar langsung tentang ekosistem pesisir melalui tindakan nyata, bukan sekadar teori di dalam kelas, sehingga mereka melihat hubungan antara vegetasi, satwa, dan habitat sebagai satu kesatuan yang harus dilindungi sebagai fondasi kehidupan pesisir yang sehat.

Pada Jumat 4 September 2026, guru dan siswa SD Inpres Mamuya bersama mahasiswa dan dosen Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera turun ke Pantai Wauwo di Desa Mamuya untuk menanam mangrove dan melaksanakan pelepasan tukik penyu. Di hari yang sama, 100 bibit mangrove Rhizophora apiculata ditanam dan 30 tukik penyu dilepas ke laut setelah dirawat sekitar satu minggu. Ini bukan sekadar seremoni konservasi; ini adalah kelas lapangan yang menunjukkan pada anak-anak bahwa menjaga pesisir berarti mengurus seluruh rantai kehidupan, dari akar mangrove hingga jejak tukik di pasir.

Bagi siswa, pengalaman memegang bibit mangrove dan menyaksikan tukik pelan-pelan menuju ombak mengubah pelajaran yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret dan personal. Di sinilah inti edukasi konservasi pantai: membangun kesadaran lingkungan generasi muda dengan memberi mereka kesempatan mengalami konservasi sebagai tindakan bersama, bukan kewajiban yang jauh dan anonim. Pantai Wauwo tidak lagi hanya lokasi wisata atau titik di peta, tetapi laboratorium hidup yang mengajarkan tanggung jawab ekologis.

Program Mangrove Tukik: Restorasi Ekosistem Pesisir yang Bertingkat

Menggabungkan penanaman mangrove dengan pelepasan tukik penyu melalui program mangrove tukik adalah pendekatan restorasi pesisir yang bekerja di banyak lapis sekaligus: melindungi garis pantai, menyediakan habitat bagi berbagai biota, dan memperkuat upaya konservasi penyu dalam satu rangkaian kegiatan yang terencana. Alih-alih proyek yang terpisah, pesisir dipandang sebagai ekosistem utuh yang menuntut intervensi menyeluruh.

Di Pantai Wauwo, rehabilitasi pesisir dimulai dari pembibitan 1.000 mangrove jenis Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorhiza sejak 2025. Sebagian bibit yang dirawat itu kemudian ditanam sebagai bagian program konservasi bertahap, yang disertai pelepasliaran 30 tukik penyu setelah perawatan sekitar satu minggu. Menurut Ketua Program Konservasi Mamoa, penanaman mangrove, pelepasan tukik, dan perlindungan habitat burung Mamoa tidak bisa dilihat sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, karena semuanya bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir secara utuh.

Pendekatan ini patut dijadikan rujukan bagi wilayah pesisir lain. Mangrove melindungi garis pantai dan menjadi rumah bagi organisme kecil; penyu dan burung Mamoa memberi nilai konservasi yang lebih luas. Ketika semua unsur dijalankan dalam satu program mangrove tukik yang terintegrasi, pesan kepada warga jelas: ekosistem pesisir tidak bisa dipulihkan dengan langkah tunggal, tetapi dengan serangkaian aksi saling menopang yang konsisten.

TJSL BUMN: Dari CSR ke Komitmen Konservasi Jangka Panjang

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan BUMN seharusnya tidak berhenti pada citra perusahaan. Di Pantai Wauwo, TJSL menjadi kendaraan konkret untuk mengalihkan sumber daya korporasi ke konservasi pesisir jangka panjang, termasuk pelepasan tukik penyu dan rehabilitasi mangrove. Ini contoh bagaimana CSR bisa diubah menjadi komitmen ekologis yang terukur, bukan sekadar kampanye hijau.

PLN UIP MPA melalui Program TJSL PLN Peduli mendukung penuh program konservasi Pantai Wauwo, mulai dari pembibitan mangrove hingga penanaman dan pemantauan, sekaligus memastikan upaya konservasi penyu dan habitat Mamoa berjalan. Salah satu pernyataan kuncinya: melalui Program TJSL PLN Peduli, mereka berupaya hadir bukan hanya dalam pembangunan kelistrikan, tetapi juga memberikan aksi nyata menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah kerja. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan kelompok konservasi memberikan kedalaman ilmiah sekaligus jaminan bahwa program tidak berhenti di acara seremonial.

Yang paling penting, keberlanjutan ditekankan secara eksplisit: setelah penanaman dan pelepasan tukik penyu, harus ada pemeliharaan, monitoring, dan pelibatan masyarakat agar manfaat ekologis terus berkembang. Ini garis pembeda antara TJSL yang sekadar "sekali tanam" dan TJSL yang membangun kapasitas lokal untuk menjaga ekosistem. Ketika perusahaan mau berjalan bersama kampus, sekolah, dan kelompok masyarakat, TJSL menjadi fondasi kesadaran lingkungan generasi muda sekaligus investasi ekologis jangka panjang.

Generasi Muda sebagai Penjaga Pesisir: Dari Pengetahuan ke Kesadaran

Tanpa kesadaran lingkungan generasi muda, konservasi akan selalu tertinggal dari laju kerusakan pesisir. Di Pantai Wauwo, pelibatan siswa sekolah dasar dan mahasiswa menunjukkan cara berbeda membangun komitmen ekologis: bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan mempraktikkan pelepasan tukik penyu dan penanaman mangrove bersama mereka. Di sini, edukasi konservasi pantai bukan modul tambahan; ia menjadi pengalaman yang membentuk cara pandang mereka terhadap laut dan pesisir.

Ketua PKM Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera menegaskan bahwa mahasiswa dan siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi melihat dan merasakan langsung bagaimana sebuah ekosistem harus dijaga, sehingga konservasi dipahami sebagai tanggung jawab bersama. Ketika mereka menanam 100 bibit mangrove dan ikut melepas 30 tukik penyu, mereka belajar bahwa setiap tindakan kecil—menancapkan satu bibit, mengantar satu tukik ke ombak—terhubung dengan gambaran besar kelestarian pesisir.

Kegiatan yang berulang dan terstruktur seperti ini layak diperluas sebagai model edukasi di sekolah pesisir lain. Pantai Wauwo diharapkan tidak hanya menjadi kawasan terlindungi, tetapi juga ruang belajar bersama untuk menjaga kekayaan alam pesisir bagi generasi mendatang. Jika praktik seperti program mangrove tukik diterapkan konsisten, pelepasan tukik penyu bisa menjadi momen yang menandai lahirnya penjaga pesisir baru di kalangan anak muda, bukan sekadar acara wisata edukatif yang cepat dilupakan.

Kesimpulan: Menjadikan Konservasi Penyu sebagai Bagian dari Pendidikan Warga

Pelepasan tukik penyu dan penanaman mangrove di Pantai Wauwo menunjukkan bahwa edukasi konservasi pantai paling efektif ketika dilakukan melalui pengalaman langsung, melibatkan sekolah, kampus, kelompok konservasi, masyarakat, dan BUMN dalam satu gerakan terpadu. Program mangrove tukik bukan hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi menyentuh cara generasi muda memaknai lingkungan sekitarnya sebagai sesuatu yang mereka sendiri ikut jaga.

Ke depan, tantangannya adalah memastikan ritme ini tidak terputus: pemeliharaan dan monitoring mangrove, penguatan kelompok konservasi masyarakat, serta kelanjutan edukasi lingkungan harus menjadi agenda tetap, bukan proyek sesaat. Jika pelepasan tukik penyu dijadikan tradisi belajar tahunan dan TJSL BUMN konsisten menopang upaya tersebut, pesisir seperti Pantai Wauwo bisa menjadi contoh bagaimana konservasi turun dari dokumen kebijakan ke praktik warga sehari-hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!