Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kain Ulos Tradisional Menjadi Simbol Mode Internasional di Medan Fashion Culture Festival

Kain Ulos Tradisional Menjadi Simbol Mode Internasional di Medan Fashion Culture Festival
Minat|Pertunjukan Busana

Ulos in Innovation: Saat Warisan Leluhur Menyapa Panggung Global

Medan Fashion Culture Festival adalah sebuah perhelatan fesyen dan budaya yang menjadikan kain ulos tradisional sebagai pusat perhatian, dengan cara menghubungkan tekstil warisan budaya dengan desain dan ekspresi busana kontemporer melalui peragaan, pameran, dan kolaborasi desainer lokal di ruang publik kota. Di Sun Plaza Medan, festival ini dibuka oleh Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas pada Selasa, 13 Oktober 2026, dengan tema tegas: “Ulos in Innovation”. Tema ini bukan sekadar slogan, tetapi pernyataan sikap bahwa ulos tidak boleh berhenti sebagai kain seremoni adat. Ia harus hidup, dipakai, dan dibaca ulang di tubuh generasi baru. Ketika Rico menyebut kain dari Nusantara harus sering “manggung di Eropa”, pesan yang terdengar jelas adalah: sudah waktunya panggung mode dunia menyesuaikan diri dengan ulos, bukan sebaliknya.

Koleksi Ulos Tua: Bukti Bahwa Keanggunan Tidak Pernah Kedaluwarsa

Bagian paling menggugah dari Medan Fashion Culture Festival adalah pameran busana berbahan kain ulos yang usianya mencapai puluhan tahun hingga mendekati satu abad. Di Atrium Sun Plaza Medan, Sabtu 17 Oktober 2026, pengunjung menyaksikan bagaimana bahan ulos berusia hingga 80 tahun diolah menjadi busana bernilai seni tinggi tanpa menghapus karakter tradisionalnya. Di sini, waktu bukan musuh, melainkan lapisan makna. Menurut Wali Kota Rico Waas, sebagian kain yang ditampilkan bahkan ada yang berusia ratusan tahun dan tetap menyimpan nilai yang “baik sekali” bagi budaya dan kreativitas lokal. Kutipan ini penting, karena menegaskan bahwa umur panjang ulos bukan alasan untuk mengurungnya di lemari, tetapi alasan untuk mengangkatnya ke panggung. Pewarna alami dan jahitan tangan yang digunakan dalam beberapa karya menunjukkan bahwa fashion inovasi tradisional bisa berjalan tanpa mengorbankan keaslian.

Kain Ulos Tradisional Menjadi Simbol Mode Internasional di Medan Fashion Culture Festival

Desainer Lokal Medan: Menggubah Ulos Menjadi Bahasa Mode Masa Kini

Jika ulos hari ini terasa relevan, itu karena desainer lokal Medan berani menginterpretasi ulang tanpa rasa bersalah. Peragaan busana di MFCF menampilkan karya Torang Sitorus dan Feby Ayang yang memadukan ulos dengan siluet modern sehingga mudah menyatu dengan gaya berpakaian masa kini. Di hari lain, nama-nama seperti La’Mojo, Nadia Azhari, Yuni Pohan, dan Wieke Dwiharti mencuri perhatian pengunjung di Main Atrium Sun Plaza Medan pada Minggu, 18 Oktober 2026. Kreativitas mereka mendapat apresiasi langsung dari Ketua Dekranasda Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, yang menilai detail dan karakter tiap koleksi sebagai bukti potensi besar desainer lokal dalam mengembangkan industri fesyen kota ini. Pemberian buket bunga di akhir acara bukan sekadar seremoni; itu pengakuan bahwa masa depan ulos di panggung global sangat bergantung pada keberanian para desainer ini untuk terus bereksperimen.

Dari Tekstil Warisan Budaya ke Ekosistem Industri Kreatif

MFCF menunjukkan bahwa kain ulos tradisional bukan hanya simbol identitas, tetapi juga motor ekonomi kreatif. Penggunaan ulos dalam fesyen modern disebut sebagai cara menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda. Di balik panggung, festival ini membuka ruang bagi perajin, UMKM, dan pelaku usaha berbasis budaya untuk mengembangkan produk yang lebih menarik pasar luas. Ulos sebagai tekstil warisan budaya khas Sumatera Utara dinilai memiliki potensi besar untuk memberi nilai tambah bagi pengrajin ketika diolah menjadi busana kontemporer. Di sinilah letak pentingnya tema “Ulos in Innovation”: pelestarian budaya tidak lagi dipahami sebagai upaya membekukan tradisi, tetapi menghidupkannya di dalam industri kreatif yang terus bergerak. Jika ekosistem ini dijaga, ulos tidak akan berhenti sebagai warisan adat, melainkan berkembang sebagai bahasa mode yang dipahami lintas kota dan lintas benua.

Penutup: Ulos Harus Terus Manggung, Bukan Hanya Disakralkan

Medan Fashion Culture Festival membuktikan satu hal penting: kain ulos tradisional tidak kehilangan martabat ketika dibawa ke panggung mode, justru mendapatkan kehidupan baru. Peragaan di Sun Plaza Medan pada 13, 17, dan 18 Oktober 2026 menunjukkan kesinambungan yang indah antara kain berusia puluhan hingga 80 tahun dengan desain modern para desainer lokal Medan. Festival ini menegaskan bahwa warisan budaya dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya. Sikap yang dibutuhkan sekarang bukan lagi sekadar bangga pada ulos sebagai simbol, tetapi berani memakainya, mengolahnya, dan menawarkannya ke panggung internasional. Jika kota-kota lain meniru keberanian Medan menggabungkan tradisi dan inovasi, ulos dan tekstil warisan budaya lain tidak akan sekadar dikenang, melainkan diperebutkan di catwalk dunia.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!