Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Cadangan Emas 87 Ton: Kunci Diversifikasi Devisa dan Mobilisasi Emas Masyarakat

Cadangan Emas 87 Ton: Kunci Diversifikasi Devisa dan Mobilisasi Emas Masyarakat
Minat|Asia Tenggara

Cadangan Emas Resmi Kecil, Risiko Besar bagi Devisa Nasional

Cadangan emas adalah porsi emas yang dimiliki otoritas moneter sebagai bagian dari cadangan devisa nasional, berfungsi sebagai instrumen diversifikasi, lindung nilai terhadap gejolak kurs, dan penyangga kepercayaan pasar keuangan dalam situasi krisis global. Emas dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan cadangan devisa nasional, bukan sekadar hiasan neraca bank sentral. Institute for Development of Economics and Finance menyebut emas dapat menjadi instrumen diversifikasi cadangan sekaligus aset lindung nilai di tengah perubahan ekonomi global. Namun, porsi emas dalam cadangan devisa nasional masih relatif rendah dibanding negara dengan ekonomi besar, sehingga ruang lindung nilai emas kita sempit. Jumlah emas resmi yang ada sekarang setara dengan 9,6 persen dari total cadangan devisa nasional dan sekitar 0,91 persen terhadap PDB 2025.

Kesenjangan dengan Negara Besar: Mengapa 87 Ton Tidak Cukup

Kelemahan utama cadangan emas nasional bukan sekadar jumlah, tetapi juga komposisinya dalam struktur devisa nasional. Data yang dikutip Indef memperlihatkan jurang lebar antara posisi cadangan emas nasional dan negara ekonomi besar. Amerika Serikat memegang 8.133,5 ton emas dengan porsi 84,8 persen dari cadangan devisa; Jerman, Italia, dan Prancis menempatkan emas di kisaran lebih dari 80 persen dari cadangan mereka. Di sisi lain, ekonom Indef Aviliani menegaskan porsi emas dalam cadangan devisa nasional masih rendah. Ini artinya, ketika dolar melemah atau pasar obligasi berguncang, negara-negara tersebut punya bantalan emas yang tebal, sementara kita berjalan dengan penyangga yang lebih tipis. Dalam situasi pasar global yang volatil, posisi ini membuat ekonomi lebih rentan terhadap guncangan eksternal.

Emas Masyarakat 1.800 Ton: Aset Tidur yang Perlu Dibangunkan

Paradoksnya, di saat cadangan emas resmi tipis, emas masyarakat justru menumpuk. “Emas yang ada di bawah bantal, itu ada 1.800 ton,” kata Airlangga dalam sebuah acara peluncuran di sektor bullion. Besarnya kepemilikan emas masyarakat menempatkan posisi nasional cukup strategis dibanding sejumlah negara lain. Namun, selama emas ini mengendap dalam bentuk perhiasan atau disimpan di rumah, nilai strategisnya bagi devisa nasional nyaris nol. Airlangga menyebut potensi tersebut baru bisa dioptimalkan apabila sebagian emas masyarakat dialihkan ke instrumen keuangan, baik melalui perbankan syariah maupun Pegadaian. Dengan kata lain, emas masyarakat adalah “aset tidur”: aman secara individual, tapi belum produktif secara makro. Tanpa skema yang jelas, ajakan memobilisasi emas ini berisiko dianggap sebagai upaya merampas tabungan rakyat, sehingga kuncinya ada pada desain kebijakan dan kepercayaan.

Bullion Bank dan IBMA: Jalan Tengah antara Devisa dan Tabungan Rakyat

Pemerintah menargetkan sekitar 20 persen dari total emas masyarakat masuk ke sistem keuangan. Airlangga menjelaskan tugas Pegadaian dan perbankan syariah untuk menarik emas “bawah bantal” ke instrumen keuangan. Di sinilah konsep bullion bank dan pembentukan lembaga seperti IBMA menjadi krusial: ekosistem bullion nasional diharapkan terintegrasi dan mampu mengelola emas sebagai aset keuangan modern. Pemerintah juga mengaitkannya dengan strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan dan energi. Namun, target 20 persen ini hanya realistis jika produk bullion bank memberi imbal hasil menarik, memastikan keamanan fisik emas, dan transparan soal penggunaan emas sebagai lindung nilai emas bagi devisa nasional. Tanpa tiga hal itu, ekosistem bullion hanya akan menjadi proyek kebijakan, bukan sarana nyata memperkuat cadangan emas Indonesia.

Emas sebagai Instrumen Stabilisasi: Syarat agar Strategi Tidak Gagal

Emas telah lama dikenal sebagai instrumen stabilisasi ekonomi, terutama ketika pasar global volatil. Indef menegaskan emas adalah instrumen diversifikasi sekaligus aset lindung nilai di tengah perubahan ekonomi global. Pemerintah sendiri terus mendorong pengembangan ekosistem bullion sebagai bagian dari strategi hilirisasi demi meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan dan energi. Presiden bahkan telah menyampaikan dukungan terhadap bullion bank sebagai andalan ke depan. Tetapi strategi ini hanya akan berhasil jika mobilisasi emas masyarakat tidak mematikan kepercayaan, dan jika cadangan emas resmi benar-benar ditingkatkan, bukan sekadar digeser antar-pos di neraca. Kesimpulannya, cadangan emas Indonesia dan emas masyarakat harus dipandang sebagai satu ekosistem: negara membutuhkan emas rakyat untuk memperkuat devisa nasional, sementara rakyat membutuhkan kebijakan emas yang adil, aman, dan transparan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!