Food photography Gen Z: dari piring ke layar ponsel
Food photography Gen Z adalah kebiasaan memotret makanan segera setelah tersaji di meja, menata posisi piring, mencari cahaya terbaik, lalu mengunggahnya ke media sosial sebagai cara mengabadikan momen, mengekspresikan diri, dan berbagi pengalaman kuliner bersama orang lain. Fenomena ini paling terlihat ketika anak muda berkumpul di kafe atau restoran: pesanan datang, tetapi ponsel lebih dulu diangkat sebelum ada yang berani menyentuh hidangan. Makanan tidak lagi sekadar pengisi perut, melainkan objek fotografi makanan tren yang harus melalui ritual foto kuliner sebelum makan. Di banyak tongkrongan urban, termasuk di Bogor, momen sakral di awal pertemuan bukan doa makan, melainkan suara shutter kamera. Cara makan berubah: yang utama bukan “ayo makan”, tapi “sebentar, fotoin dulu”.
Memori, estetika, dan identitas: motivasi di balik lensa
Di balik tren anak muda fotografi ini, ada dorongan psikologis yang lebih dalam daripada sekadar ikut-ikutan. Bagi Yuli Damayanti, memotret makanan adalah cara menyimpan memori: ia bahkan membuat album khusus hidangan di galeri ponselnya, kebiasaan yang ia mulai sekitar tahun 2020 saat media sosial makin booming. Makanan yang baru datang dianggap momen paling estetik, sehingga “tidak boleh disentuh” sebelum dipotret. Menariknya, tidak semua hidangan layak foto; yang diprioritaskan adalah ramen, sushi, atau makanan lain yang jarang ditemui dan punya nilai estetika tinggi. Di sini terlihat bahwa food photography Gen Z adalah kurasi identitas: yang diabadikan bukan sembarang makan, melainkan citra diri yang ingin ditampilkan sebagai penikmat kuliner unik dan estetis.
Dari hobi fotografi ke konten sosial media
Motivasi lain muncul dari kecintaan pada fotografi makanan tren. Lusi Rahim Taleh mengaku refleks memotret begitu melihat hidangan yang estetik dan cantik, dan ia menilai rata-rata Gen Z memang menyukai fotografi. Target utamanya bukan pecel di warung dekat rumah, melainkan makanan viral dan aneka dessert seperti Dubai Chewy yang enak di mulut sekaligus enak dipandang. Foto yang sudah “cakep” terasa sayang jika ditahan di galeri; langkah berikutnya nyaris otomatis: diunggah ke Instagram. Di titik ini, foto kuliner sebelum makan menjelma konten sosial—alat untuk berbagi rekomendasi tempat, membangun citra diri yang update tren, dan menegaskan kehadiran di ruang digital. Makan di luar tanpa mengunggah konten terasa kurang lengkap, seakan pengalaman kuliner belum sah kalau belum tercatat di timeline.
Ritual sosial baru di kota-kota urban
Fenomena memotret makanan sebelum disantap paling jelas terlihat di kota-kota urban yang sarat kafe dan restoran, salah satunya Bogor. Di meja-meja tempat anak muda berkumpul, makanan “disulap” menjadi konten hangat di media sosial. Psikolog Retno Lelyani Dewi menjelaskan bahwa perilaku ini bukan semata ajang pamer, melainkan gabungan keinginan mendokumentasi pengalaman dan mengekspresikan diri, yang sekaligus berkaitan dengan kebutuhan sosial untuk berbagi informasi tentang tempat makan dan hidangan yang dicoba. Dengan kata lain, foto kuliner menjadi bahasa pergaulan baru: tanda bahwa seseorang hadir, bergaul, dan ikut menikmati arus tren. Pengalaman kuliner bagi sebagian anak muda bukan hanya soal rasa; ada kenangan, kreativitas, dan keinginan berbagi cerita yang ikut tersimpan di setiap jepretan kamera.
Apresiasi, bukan sekadar pamer: bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?
Mudah menghakimi food photography Gen Z sebagai perilaku pamer, tetapi kenyataannya lebih rumit. Memotret makanan sering kali menjadi bentuk apresiasi terhadap tampilan hidangan, yang kemudian berkembang menjadi ritual sebelum makan. Generasi muda menjadikan makanan sebagai medium kreatif—mereka menata, mengatur cahaya, memilih sudut, lalu membingkai pengalaman kuliner dalam satu foto. Apakah ini merusak cara makan? Tidak selalu. Selama proses foto kuliner sebelum makan tidak mengganggu orang lain dan tidak menggeser fokus dari kebersamaan, ia bisa dibaca sebagai adaptasi wajar di era digital. Cara berinteraksi dengan makanan memang berubah, tetapi inti yang dicari tetap sama: rasa yang enak, momen yang hangat, dan kisah yang layak dikenang—bedanya, kini kisah itu hidup di galeri ponsel dan feed media sosial.







