Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kontroversi Mindfulness di Media Sosial dan Pelajaran Kesehatan Mental

Kontroversi Mindfulness di Media Sosial dan Pelajaran Kesehatan Mental
Minat|Kesehatan Mental

Mindfulness, Privilege, dan Ledakan Kritik ke Video Maudy Ayunda

Mindfulness adalah praktik kesadaran penuh untuk hadir pada momen saat ini, mengamati pikiran, emosi, dan sensasi tubuh tanpa menghakimi, yang idealnya membantu orang merespons tekanan hidup dengan lebih tenang, empatik, dan rasional ketimbang terjebak dalam kepanikan atau penyangkalan realitas di sekelilingnya. Nama penyanyi dan aktris Maudy Ayunda mendapat sorotan setelah membagikan video berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News" tentang cara menjaga kesehatan mental di tengah banyaknya kabar buruk. Konten ini memicu mindfulness kontroversi media: publik menilai pembahasan ketenangan emosional itu kurang empatik terhadap situasi warga yang sedang bergulat dengan krisis sosial dan bencana. Di Threads dan X, Maudy dicap tone deaf karena video memasak makanan sehatnya dianggap kontras dengan kisah orang yang kesulitan napas akibat asap karhutla atau akses BBM. Kritiknya bukan semata isi pesan, tetapi timing, visual, dan privilege yang terasa menonjol.

Mengapa Publik Marah: Ketika Penderitaan Dianggap Sekadar ‘Berita Buruk’

Kemarahan warganet berakar pada anggapan bahwa video Maudy memposisikan tragedi sosial sebagai "gangguan ketenangan pikiran" alih-alih penderitaan konkret manusia. Di saat kebakaran hutan dan lahan, krisis air, kelangkaan BBM, serta masalah ekonomi dan kebijakan pemerintah masih mengancam hidup banyak orang, ajakan untuk menjaga kewarasan dengan mengatur konsumsi berita terasa timpang. Seorang warganet menilai konten itu seharusnya disimpan untuk diri sendiri karena, "Di situasi kayak sekarang, hal kayak gini tuh sesuatu yang semestinya dia keep buat dirinya sendiri, bukan di-upload di platform dia". Di sini tampak dampak influencer pada kesehatan: satu video edukasi psikologi yang salah konteks dapat membuat sebagian orang merasa pengalamannya direduksi menjadi sekadar noise digital. Publik bukan menolak kesehatan mental di sosial media, tetapi menolak narasi yang terasa mengabaikan ketidakadilan struktural.

Penjelasan Pakar Psikologi: Mindfulness Bukan Pelarian dari Realitas

Di tengah polemik, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Luh Surini Yulia Savitri (Mba Vivi), menjelaskan definisi ilmiah mindfulness: kesadaran untuk hadir "di sini dan saat ini", memberi perhatian pada pengalaman yang dijalani, termasuk pikiran, perasaan, dan keadaan diri maupun orang lain. Latihan ini bukan bertujuan menghilangkan rasa sakit atau menutup mata terhadap ketidakadilan, tetapi melatih ketahanan mental agar ada ruang jeda sebelum menentukan respons yang rasional dan bijaksana saat berada di bawah tekanan. Dengan kata lain, mindfulness yang tepat secara ilmiah tidak memerintahkan orang berhenti peduli, melainkan mengajak tetap peduli tanpa hancur oleh arus informasi. Seorang pemerhati neuroscience menilai video Maudy berupaya mengintegrasikan gagasan psikologi, mindfulness, dan perilaku manusia untuk menjawab pertanyaan "how to survive in digital era". Di sinilah inti kesalahpahaman: publik menangkap pesan pelarian, sementara konsep ilmiahnya justru mengakui realitas pahit.

Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Tanggung Jawab Influencer

Kontroversi ini memperlihatkan bagaimana kesehatan mental di sosial media tidak pernah berdiri di ruang hampa. Algoritma mempercepat persebaran konten, tetapi tidak menjamin konteks dan empati ikut tersebar. Pemerhati neuroscience menilai bagian menarik dari video Maudy adalah upaya memberi tips hidup yang lebih "mentally healthy" di era social media, dengan fokus pada "how to survive in digital era". Namun peristiwa ini sekaligus menjadi pelajaran keras: penyampaian pesan kesehatan jiwa perlu diselaraskan dengan sensitivitas sosial serta kondisi riil masyarakat luas. Influencer yang berbicara soal mental health memegang dampak influencer pada kesehatan, baik berupa inspirasi maupun rasa terlukai. Sebuah narasi edukasi akan lebih diterima bila memperhitungkan ruang, waktu, dan siapa yang paling terdampak oleh krisis yang sedang terjadi. Tanpa itu, edukasi psikologi yang salah konteks mudah dianggap menyejukkan yang aman, sambil melupakan mereka yang masih terbakar.

Pelajaran dari Kasus Maudy: Meramu Mindfulness yang Peka Sosial

Setelah kritik menguat, Maudy menyatakan penyesalan dan mengakui bahwa bisa "step away from the news" adalah bentuk privilege yang tidak dimiliki semua orang, terutama mereka yang hidupnya terdampak langsung oleh peristiwa tersebut. Sikap ini penting, tetapi kasusnya tetap menjadi cermin bagi seluruh ekosistem konten: mindfulness kontroversi media muncul ketika narasi ketenangan dipisahkan dari konteks ketidakadilan. Untuk membuat komunikasi kesehatan mental yang efektif di platform digital, beberapa prinsip menjadi krusial: mengakui ketimpangan, tidak mengecilkan penderitaan nyata menjadi sekadar berita, menjelaskan tujuan mindfulness sebagai alat memperkuat, bukan mematikan kepekaan, dan memberi ruang pada suara korban, bukan hanya suara yang aman. Pada akhirnya, mindfulness yang sehat bukan ajakan untuk menutup mata, melainkan ajakan untuk melihat lebih jernih, agar kita sanggup bertindak, berduka, dan berjuang tanpa kehilangan kewarasan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!