Apa Itu Symptom Borrowing dan Mengapa Remaja Mudah Terjebak?
Symptom borrowing adalah fenomena ketika seseorang, khususnya remaja, mengamati konten tentang gangguan kesehatan mental di media sosial dan kemudian mulai meniru, mengklaim, atau menginternalisasi gejala-gejala tersebut seolah-olah dialaminya sendiri, tanpa pemahaman klinis maupun evaluasi profesional yang memadai, hingga memengaruhi cara ia melihat dirinya dan hidup sehari-hari.
Tren symptom borrowing TikTok kini menarik perhatian luas dan membuat banyak remaja meniru gejala kesehatan mental yang mereka lihat di media sosial. Fenomena ini bukan sekadar ikut-ikutan; ia berakar pada kebutuhan remaja untuk merasa terlihat, dimengerti, dan punya identitas. Di dunia digital, label seperti ADHD, cemas, atau depresi sering tampil sebagai identitas yang “relatable”, bukan sebagai diagnosis yang serius. Akibatnya, batas antara empati, edukasi, dan glamorisasi menjadi kabur. Ketika gangguan mental diromantisasi, remaja yang rapuh emosinya mudah merasa “lebih valid” jika memiliki label serupa, lalu meminjam gejala yang sedang tren demi diterima kelompok dan algoritma.

Dari Scroll Tanpa Henti ke Kecemasan Remaja Digital
Symptom borrowing tidak lahir dari ruang kosong; ia tumbuh di atas kebiasaan scroll media sosial berlebihan. Kebiasaan menghabiskan waktu menggulir konten singkat secara terus-menerus dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja. Remaja sekarang dibanjiri konten cepat, terutama lewat scroll TikTok yang memicu lonjakan dopamin berulang dalam jangka panjang.
Paparan rangsangan instan ini punya harga: remaja menjadi lebih gampang bosan dan berpotensi kesulitan menghadapi tekanan hidup jika kemampuan regulasi emosinya lemah. Inilah benih kecemasan remaja digital: otak terbiasa dengan hiburan singkat, tetapi realitas menuntut kesabaran dan ketahanan. Konten tentang gangguan mental kemudian hadir sebagai penjelasan instan atas rasa tidak nyaman itu. Alih-alih belajar mengelola emosi, sebagian remaja memilih “meminjam” gejala yang mereka lihat, seolah label tertentu bisa menyelesaikan kebingungan yang mereka rasakan.
Risiko Psikologis: Antara Edukasi, Romantisasi, dan Diagnosa yang Tersesat
Fenomena symptom borrowing TikTok berpotensi meningkatkan angka diagnosis ADHD dan masalah kesehatan mental lain, meski tidak selalu akurat. Di satu sisi, meningkatnya awareness membuat lebih banyak remaja cepat mengenali perubahan kondisi diri dan bertanya apakah mereka butuh bantuan profesional. Di sisi lain, paparan konten yang tidak seimbang bisa menyesatkan self-diagnosis.
Para ahli kesehatan mental mengkhawatirkan dampak psikologis tren ini pada remaja. Ketika gejala ditiru tanpa dasar, remaja bisa mengabaikan faktor lain seperti lingkungan, spiritual, biologis, dan kemampuan menenangkan diri yang juga memengaruhi kondisi mental. Lebih berbahaya lagi, label yang keliru dapat mengaburkan masalah utama, misalnya perundungan atau konflik keluarga, yang seharusnya ditangani. Konten edukatif yang seharusnya membantu malah berisiko berubah menjadi katalog gejala yang mengundang imitasi, bukan refleksi kritis.
Peran Orang Tua: Waspada, Bukan Panik
Di tengah tren symptom borrowing, orang tua tidak boleh sekadar menyalahkan aplikasi atau melarang gawai, lalu berhenti di sana. Psikiater mengingatkan orang tua dan lingkungan terdekat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja, seperti menjadi lebih murung atau perubahan pola aktivitas. Jika tanda-tanda ini muncul, remaja perlu diberikan ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi.
Artinya, remaja butuh relasi yang hangat, bukan interogasi. Mereka membutuhkan tempat bercerita kepada orang yang dipercaya, karena koneksi sosial membantu mengelola emosi dan mengurangi beban pikiran. Remaja juga dapat diarahkan pada journaling, hobi, dan olahraga yang membantu regulasi emosi dan meningkatkan suasana hati. Edukasi tentang kesehatan mental tetap penting, tetapi harus disertai pesan bahwa diagnosis bukan aksesori, dan bahwa perasaan sulit tidak selalu berarti gangguan klinis.
Menata Ulang Hubungan Remaja dengan Media Sosial dan Kesehatan Mental
Kebiasaan scroll media sosial yang berkepanjangan jelas memengaruhi kesehatan mental remaja, tetapi gangguan mental tidak dapat disimpulkan hanya dipicu media sosial saja. Lingkungan, spiritualitas, faktor biologis, hingga cara menenangkan diri juga ikut berperan. Di tengah kompleksitas ini, symptom borrowing adalah alarm bahwa remaja membutuhkan literasi digital dan literasi emosi yang lebih matang.
Langkah ke depan bukan memusuhi platform, melainkan mengajari remaja membedakan konten edukatif dengan romantisasi masalah. Para ahli menekankan pentingnya edukasi dan kesadaran akan kesehatan mental, namun edukasi itu harus mengajak remaja bertanya: “Apakah ini konten untuk dipelajari, atau label untuk dikoleksi?” Tanpa dialog jujur di rumah dan sekolah, kecemasan remaja digital akan terus mencari jawaban instan dari layar, sementara akar persoalan tetap tidak tersentuh.






