Kelanjutan harus terlihat dalam kebijakan dan praktik
Ekonomi hijau adalah pendekatan pembangunan yang mengejar kegiatan ekonomi sekaligus menjaga daya dukung lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat. Di Sumatera Selatan, arah ini penting karena pertanian, perkebunan, perikanan, dan kebutuhan rumah tangga bergantung pada bentang alam serta sumber air yang sehat.
Pada 29 Oktober, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menerima laporan capaian dan dokumen perencanaan hasil Land4Lives dari ICRAF Indonesia di Kantor Bappeda. Penyerahan itu menandai berakhirnya lima tahun kerja proyek dalam membangun kapasitas daerah menghadapi perubahan iklim melalui pelatihan, pendampingan petani, dan dukungan perencanaan. Namun, penutupan proyek bukan alasan untuk mengakhiri ikhtiarnya. Plt. Kepala Bappeda Dody Eko Prasetyo menyatakan inisiatif dan praktik baik tersebut akan dilanjutkan, termasuk dengan memasukkannya ke Rencana Kerja Pemerintah Daerah. Ukuran keseriusan ekonomi hijau Sumsel kini bukan banyaknya dokumen, melainkan apakah arahan itu tetap hidup dalam keputusan dan pelaksanaan daerah.
Dari dokumen iklim menuju ketahanan daerah
Land4Lives—Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods in Indonesia—dilaksanakan ICRAF Indonesia, yang kini memakai nama operasional Landscape Alliance, dengan dukungan Global Affairs Canada dan arahan Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas. Di Sumsel, proyek ini bekerja sama dengan pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Banyuasin, dan KPH Lalan Mendis sejak 2021. Jejak pentingnya adalah pengaitan kerja di tingkat tapak dengan perencanaan pemerintah, bukan klaim bahwa semua risiko iklim telah teratasi.
Land4Lives membantu memasukkan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta indikator peka gender ke lima dokumen daerah: RTRW 2024–2044, RPJPD 2025–2045, RPJMD 2025–2029, RAD-KSB 2022–2024, dan RPPEG Provinsi 2024–2053. Dokumen yang diserahkan juga mencakup Rencana Induk Pertumbuhan Ekonomi Hijau Sumsel 2025–2045, rencana pengelolaan ekosistem gambut di Banyuasin, serta RPHJP KPH Lalan Mendis. Bagi ketahanan iklim Sumsel, langkah berikutnya ialah menjaga agar rencana lintas sektor itu diterjemahkan konsisten dalam kebijakan dan kegiatan daerah.
Kualitas air perlu menjadi bagian dari agenda iklim
Ketahanan iklim dan kualitas air Sumsel saling terkait dalam pengelolaan bentang alam. Sungai Musi dan anak-anak sungainya, rawa, gambut, serta daerah aliran sungai menopang kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, rumah tangga, dan ekonomi masyarakat. Karena itu, menjaga air bukan urusan lingkungan yang terpisah dari pembangunan: tekanan pada lahan dan tata air dapat berdampak pada ekosistem sekaligus kegiatan yang bergantung pada sumber daya tersebut.
Sumber tekanan terhadap air dapat datang dari limpasan pertanian dan perkebunan, permukiman, maupun industri. Sedimen, unsur hara, residu bahan kimia, dan limbah domestik berpotensi memengaruhi perairan. Ini menjelaskan mengapa agenda adaptasi iklim patut disandingkan dengan perhatian pada kualitas air, tetapi bukan berarti Land4Lives telah menjalankan program pemantauan air tertentu—rincian seperti itu tidak tersedia. Sebagai arah pengelolaan yang relevan, pertanian konservasi dapat dihubungkan dengan pemantauan sungai, saluran irigasi, dan badan air dekat lahan pertanian agar produksi tidak menjadi satu-satunya tolok ukur.

Ujian berikutnya adalah kesinambungan
Land4Lives juga mendampingi studi kelayakan pembayaran berbasis hasil REDD+ dari Green Climate Fund, dengan alokasi bagi Sumatera Selatan senilai Rp10,8 miliar untuk 41 kelompok masyarakat. Angka itu menunjukkan adanya dukungan yang diarahkan kepada kelompok, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan rincian penggunaan dana atau hasil lingkungan yang telah dicapai. Pemerintah perlu menjaga agar manfaat kegiatan dan pengetahuan yang terbentuk tidak berhenti ketika periode proyek berakhir.
Kelanjutan program ekonomi hijau dan ketahanan iklim akan lebih bermakna bila perencanaan daerah memperhatikan kondisi nyata di lapangan—termasuk hubungan penggunaan lahan, tata air, dan kualitas perairan—tanpa mengklaim capaian yang belum terukur. Kesimpulannya, penyerahan dokumen adalah awal tahap baru, bukan garis finis. Pemprov Sumsel telah menyatakan akan melanjutkan praktik baik Land4Lives melalui RKPD; kini konsistensi pelaksanaan dan perhatian pada sumber air menjadi ujian utama bagi janji tersebut.






