Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Maestro Ukir Jepara Rawat Masjid Istiklal dengan Kayu Jati

Tiga Maestro Ukir Jepara Rawat Masjid Istiklal dengan Kayu Jati
Minat|Pertukangan Kayu

Restorasi Masjid Istiklal: Bukan Proyek Biasa, Melainkan Diplomasi Kayu dan Warisan

Restorasi Masjid Istiklal di kawasan Otoka, Sarajevo, oleh pengukir Jepara tradisional adalah proyek perawatan enam pilar berukir dan elemen kayu lain dengan penggantian total menggunakan kayu jati berkualitas, yang mengutamakan keaslian karakter ukiran, ketepatan teknis, serta kesinambungan warisan budaya woodcarving sebagai bagian dari misi pengakuan warisan takbenda. Tiga maestro ukir dari Jepara akan berangkat ke Sarajevo pada 13 Oktober untuk menggarap enam pilar masjid yang rusak, dengan target penyelesaian dalam lima hari kerja di tengah cuaca dingin yang bisa mencapai minus derajat bersalju. Fakta bahwa restorasi ini lahir dari perjalanan misi UNESCO menunjukkan satu hal penting: seni ukir Jepara sudah melampaui batas lokal dan mulai berfungsi sebagai bahasa diplomasi budaya lintas benua.

Tiga Maestro Ukir Jepara Rawat Masjid Istiklal dengan Kayu Jati

Mengapa Enam Pilar Harus Diganti Total dengan Kayu Jati

Keputusan untuk mengganti total enam pilar berukir, bukan menambal, adalah sikap tegas menjaga integritas estetika dan konstruksi masjid. Menurut maestro ukir Jepara, kondisi pilar yang rusak membuat tambal sulam bukan lagi pilihan; penambalan justru berpotensi melahirkan karakter ukiran berbeda dan merusak kesinambungan visual ruang ibadah itu sendiri. Kayu jati berkualitas dipilih sebagai bahan utama, baik untuk pilar, tangga, maupun hiasan dinding, karena daya tahan, kestabilan, dan tradisi penggunaan jangka panjang dalam dunia furniture serta arsitektur kayu Jepara. Dalam konteks restorasi masjid bersejarah, pilihan material bukan sekadar soal teknis, tetapi juga soal etika: mengganti dengan jati adalah cara menghormati karya lama sekaligus memastikan masjid tetap kokoh menghadapi iklim dingin Bosnia dan perubahan waktu.

Dari Misi UNESCO ke Bengkel Restorasi: Jepara Menjejak Lagi di Sarajevo

Yang membuat proyek ini menarik adalah cara ia lahir: bukan dari tender komersial, melainkan dari perjalanan misi warisan budaya woodcarving ke Bosnia dan Herzegovina. Tim pengukir Jepara awalnya ke sana untuk mencari dukungan agar seni ukir Jepara diakui sebagai warisan budaya takbenda UNESCO, didampingi anggota parlemen yang mendukung pengajuan tersebut. Dalam rangkaian kunjungan ke berbagai pihak dan wilayah, termasuk Konjic, informasi tentang Masjid Istiklal sebagai masjid pemberian pemerintah menjadi pintu masuk baru. Di sana, pengelola menceritakan kerusakan pada sejumlah ukiran, terutama enam pilar yang kondisinya cukup parah sehingga harus direstorasi menyeluruh, bukan diperbaiki parsial. Dari percakapan ini lahirlah tawaran perbaikan, yang bukan saja menyentuh pilar, tetapi merembet ke bagian tangga dan beberapa hiasan dinding.

Jejak Hadiah Masa Lalu dan Standar Presisi Para Maestro Ukir

Restorasi Masjid Istiklal sesungguhnya adalah pertemuan antara jejak masa lalu dan profesionalisme masa kini. Ornamen ukiran di masjid itu disebut sebagai hadiah seorang presiden, dan dibuat oleh pengukir asal Jepara, meski identitas pengrajin awal belum berhasil dilacak hingga sekarang. Dengan kata lain, pengukir Jepara tradisional datang bukan mengklaim karya, melainkan merawat warisan sesama perajin yang pernah mengirim karya ke Sarajevo bertahun-tahun lalu. Pekerjaan mereka tidak berhenti pada enam pilar; tangga dan hiasan dinding ikut masuk daftar perawatan. Satu hiasan dinding telah selesai dibuat di Jepara dan dikirim, sementara dua lainnya dikerjakan di lokasi, menyesuaikan kondisi kerusakan bangunan. Jadwal lima hari dengan opsi lembur menunjukkan standar presisi yang biasa ditemui pada ekspor furniture berkualitas tinggi: waktu terbatas, detail tidak boleh kompromi, dan struktur harus tahan iklim bersalju.

Cuaca Dingin, Tenon-Tradisi, dan Ambisi Warisan Takbenda

Secara teknis, tim pengukir menilai hampir tak ada kendala besar dalam pengerjaan ornamen kayu, termasuk penggantian pilar dan penyesuaian bentuk ukiran dengan bagian bangunan yang rusak. Tantangan utama justru datang dari cuaca: pengalaman kunjungan sebelumnya mencatat suhu bisa turun sampai minus enam derajat dan bersalju, realitas yang menuntut adaptasi fisik dan cara kerja saat memegang kayu jati di ruang terbuka. Di tengah tantangan iklim, mereka membawa seluruh peralatan dari Jepara, memastikan teknik tradisional—termasuk sistem sambungan kayu yang presisi—tetap dijalankan sebagaimana di bengkel Kota Ukir. Proyek ini jelas melampaui makna teknis. “Ini merupakan langkah diplomatik antarnegara untuk mengenalkan seni ukir Jepara ke panggung dunia,” ujar salah satu maestro, yang melihat restorasi sebagai bagian strategi menjadikan seni ukir Jepara warisan budaya takbenda UNESCO.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!