Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Tiga Kali Gagal hingga Menjadi Pemimpin Muda Terbaik

Dari Tiga Kali Gagal hingga Menjadi Pemimpin Muda Terbaik
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Kegagalan bukan akhir perjalanan

Kepemimpinan pelajar adalah kemampuan mengajak orang lain bergerak melalui empati, kepercayaan, dan kesediaan mendengarkan, bukan sekadar memegang jabatan di sekolah. Perjalanan Mizan Hisyamuddin Ahmad memperlihatkan mengapa prinsip itu lebih kuat daripada kemenangan seleksi semata. Sebelum mengikuti Indonesian Student Leadership Camp (ISLC) XV, pelajar Muhammadiyah Boarding School Al Amin Religi Bojonegoro ini tiga kali gagal dalam seleksi kegiatan kepemudaan. Rentetan penolakan itu sempat membuatnya meragukan kapasitas diri dan pesimis saat pertama kali mendaftar ISLC. Namun, kisahnya bukan tentang bakat yang tiba-tiba menang; melainkan tentang kemauan untuk mencoba lagi ketika rasa percaya diri sedang surut. Senior, guru, dan keluarga mendorongnya agar kembali melangkah. Dukungan itu tidak menghapus kegagalan sebelumnya, tetapi membantu Hisyam mengubahnya menjadi alasan untuk berusaha sekali lagi.

Ia pernah menganggap ISLC mungkin menjadi kesempatan terakhirnya selama SMA dan merasa tiga kegagalan membuatnya tidak punya kapasitas untuk bersaing. Karena itu, saat namanya dinyatakan lolos, pencapaian tersebut terasa seperti mimpi sekaligus amanah. Pengalaman Hisyam memberi pelajaran yang lebih berguna daripada slogan bahwa pantang menyerah pasti berbuah sukses: tidak ada jaminan hasil, tetapi kegagalan juga bukan bukti bahwa seseorang tidak layak mencoba.

Kesempatan yang diraih dengan persiapan

Lolos ISLC bukan datang tanpa kerja. Hisyam menyiapkan esai dan video bertema empati sambil membagi waktu dengan kegiatan sekolah. Esainya membutuhkan waktu sekitar seminggu, sedangkan video ia selesaikan dalam sehari selama kurang lebih lima jam. Proses ini memperlihatkan sisi kepemimpinan yang sering luput dari sorotan: disiplin mengerjakan hal-hal kecil sebelum mendapat panggung besar. Ketika pengumuman melalui surel tiba pada 30 Agustus, ia masih pesimis akan terpilih dan berangkat ke Jakarta. Keraguan itu membuat kabar kelolosannya semakin bermakna, tetapi keberhasilan tersebut tetap bertumpu pada persiapan dan keberanian mengirim karya.

ISLC XV berlangsung pada 17–21 Oktober 2026 di Universitas Indonesia, Depok, dan mempertemukan pelajar dari berbagai daerah. Dari seluruh peserta terpilih, Hisyam menjadi satu dari 100 ketua OSIS dan pemimpin muda terbaik. Pengakuan itu patut dirayakan, tetapi nilai yang paling penting bukan gelarnya: seleksi menjadi pintu masuk untuk belajar, bukan garis akhir yang membebaskan seorang pemimpin dari tanggung jawab.

Belajar memimpin dengan mendengar

Selama lima hari, peserta mengikuti lokakarya kepemimpinan, seminar, diskusi interaktif, pendampingan berbasis masalah, serta kunjungan ke lembaga pemerintahan, parlemen, dan industri. Musyawarah Besar Forum OSIS Nasional dan Kenduri Kebangsaan juga mempertemukan beragam gagasan serta budaya. Bagi Hisyam, berjumpa dengan 100 ketua OSIS dari berbagai daerah memperluas cara pandangnya tentang perbedaan karakter dan komunikasi. Kunjungan ke Gedung DPR RI, termasuk diskusi dengan anggota DPR RI Komisi VII Yoyok Riyo Sudibyo, menjadi salah satu pengalaman yang berkesan. Ia juga berbincang tentang pengalaman dan perjalanan karier dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Pelajaran terpentingnya bukan cara tampil sebagai pemimpin, melainkan cara memberi ruang bagi orang lain. Hisyam menyimpulkan, “Seorang pemimpin harus bisa menurunkan ego, mendengarkan, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menyampaikan gagasannya.” Gagasan itu sejalan dengan tema ISLC XV, tentang kepemimpinan yang berempati dan dibangun di atas kepercayaan. Musyawarah dan upaya memahami akar persoalan, menurut pengalaman Hisyam, perlu mendahului keputusan. Ini pendekatan yang lebih menuntut daripada sekadar memberi instruksi—dan justru karena itu lebih layak diterapkan.

Membawa pengalaman pulang ke Bojonegoro

Hisyam ingin membawa pembelajaran itu kembali ke sekolah, bukan menyimpannya sebagai kebanggaan pribadi. Langkah awalnya adalah memperkuat internal OSIS MBS Al Amin Religi Bojonegoro dengan kepemimpinan berbasis empati dan kepercayaan. Ia juga menyiapkan SAPA, atau Seminar Inspirasi Pemimpin Muda, bagi pelajar SMP, SMA, hingga pesantren di Kabupaten Bojonegoro. Rencana ini penting karena pengalaman kepemimpinan akan lebih berarti ketika membuka kesempatan bagi pelajar lain untuk mengembangkan diri, bukan berhenti pada satu nama.

Dalam gagasan berikutnya, ia ingin mempertemukan OSIS tingkat kabupaten untuk membahas persoalan pelajar dan merumuskan aspirasi yang dapat disampaikan kepada Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono. Cita-cita jangka panjangnya ialah membentuk Forum OSIS Kabupaten Bojonegoro sebagai ruang kolaborasi dan pemecahan masalah. Dari tiga kali gagal hingga terpilih sebagai salah satu pemimpin muda terbaik di ISLC XV, perjalanan Hisyam menunjukkan ukuran keberhasilan yang lebih besar daripada seleksi: apakah kesempatan yang didapat mampu menjadi manfaat bagi orang lain. Jika rencana itu dijalankan dengan mendengar para pelajar, gelarnya akan menjadi awal kontribusi, bukan penutup kisah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!