Skala disinformasi melampaui satu kabar palsu
Disinformasi adalah penyebaran klaim palsu atau menyesatkan yang dapat membentuk persepsi publik, terutama ketika diulang lintas platform dan dibingkai seolah-olah mengungkap fakta tersembunyi. Temuan CNA Verify memperlihatkan bagaimana narasi yang mengaitkan Singapura dengan gejolak pasar dan pertemuan rahasia dapat meraih jangkauan besar sebelum dibantah.
CNA Verify menemukan hampir 400 unggahan di Instagram, TikTok, YouTube, X, dan Facebook yang menyebarkan atau mengulang klaim tak berdasar tentang Singapura. Unggahan hoaks itu ditonton hampir 12 juta kali; separuh tayangan datang hanya dari 10 unggahan. Angka ini menegaskan bahwa penyebaran bukan sekadar soal jumlah akun: segelintir konten bisa menguasai perhatian dan memberi kesan bahwa tuduhan yang sama datang dari banyak arah. Karena itu, hoaks Singapura perlu dibaca sebagai rangkaian narasi yang saling menguatkan, bukan sebagai satu rumor yang berdiri sendiri.
Dua narasi, satu sasaran: membangun kecurigaan
Narasi pertama menuduh Singapura menjadi dalang anjloknya pasar saham Indonesia dan menyebut negara itu harus dihukum. Narasi kedua mengklaim Dino Patti Djalal dan akademisi Saiful Mujani bertindak atas perintah Singapura, dengan cerita bahwa keduanya berkunjung ke kediaman Duta Besar Singapura di Jakarta pada 18 Oktober.
Kedutaan Singapura membantah kunjungan itu dan menyebut klaimnya sebagai disinformasi. Dino dan Saiful juga menyatakan kabar tersebut fiktif. Dino mengatakan pada tanggal yang disebut dalam unggahan ia berada di Perth untuk agenda terkait perubahan iklim. Kabar pertemuan rahasia itu mendapat daya tarik karena menempel pada isu yang sedang panas: sehari sebelumnya Dino membantah tuduhan bahwa Singapura menyebabkan kejatuhan pasar, sementara jajak pendapat SMRC yang dirilis sepekan sebelumnya menunjukkan dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto menurun. Dalam suasana seperti itu, cerita tentang hubungan rahasia menawarkan penjelasan dramatis, tetapi dramatis bukan berarti benar.

Pola akun memberi alasan untuk waspada
CNA Verify menemukan tanda-tanda bahwa sejumlah akun penyebar tuduhan bergerak terkoordinasi: beberapa dibuat pada hari yang sama, memakai kata-kata dan gambar identik, lalu mengunggahnya dalam waktu berdekatan. Namun, temuan itu belum memastikan bahwa seluruh akun dikendalikan satu pihak. Perbedaan ini penting. Bukti pola serupa cukup untuk memicu pemeriksaan lebih lanjut, tetapi tidak cukup untuk menunjuk pelaku tertentu.
Isu tersebut beredar pada 19–27 Oktober, ketika kabut asap karhutla menyebar ke sejumlah negara kawasan dan pasar saham Indonesia mencatat penurunan terburuk dalam dua hari sepanjang sejarah. Peneliti RSIS Muhammad Faizal Bin Abdul Rahman menilai sebagian aktivitas buzzer mungkin dikoordinasikan aktor politik lokal, sebagian lain tumbuh organik dari masyarakat, atau merupakan campuran keduanya. Sikap paling masuk akal ialah menguji asal-usul dan bukti setiap klaim, bukan menganggap pengulangan sebagai konfirmasi. Kedutaan menyatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menindaklanjuti penyebaran informasi palsu.
Kesimpulannya, skala hampir 400 unggahan dan hampir 12 juta tayangan membuat disinformasi Singapura ini lebih dari sekadar rumor kecil. Bantahan resmi dan pola akun yang serupa menunjukkan perlunya kehati-hatian, tetapi juga batas yang harus dijaga: temuan koordinasi bukan bukti bahwa semua unggahan berasal dari satu pengendali. Dalam arus tuduhan yang cepat, verifikasi tetap lebih kuat daripada kecurigaan.






