Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dua SMA, Dua Jalur untuk Mengasah Jurnalisme Pelajar

Dua SMA, Dua Jalur untuk Mengasah Jurnalisme Pelajar
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Belajar menyampaikan informasi, bukan sekadar menulis

Pelatihan jurnalistik siswa adalah kegiatan belajar yang membekali peserta dengan cara mengumpulkan, menyusun, dan menyampaikan informasi secara jelas melalui tulisan maupun visual. Nilainya terletak pada latihan untuk mengamati, memilih fakta, lalu mengomunikasikannya kepada orang lain—keterampilan yang makin penting di tengah derasnya informasi digital. Dua sekolah mengambil jalur berbeda untuk tujuan yang berdekatan. Guru dan siswa SMAN 16 Pandeglang mengikuti pelatihan jurnalistik dan fotografi di sekolah pada Rabu, 21 Oktober, sementara 40 siswa SMAN 1 Pasie Raja mengikuti pelatihan jurnalistik dasar dan karya tulis populer pada Selasa, 20 Oktober 2026. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pembelajaran jurnalistik tak perlu berhenti pada teori berita: gambar dan tulisan populer juga dapat menjadi pintu bagi siswa untuk menyampaikan informasi.

Pandeglang memadukan berita dan fotografi

Di SMAN 16 Pandeglang, pelatihan melibatkan guru sekaligus pelajar dan memadukan jurnalistik dengan fotografi untuk siswa. Pilihan ini masuk akal: sebuah informasi bisa lebih mudah dipahami ketika tulisan yang tertata didukung foto yang relevan. Namun, keterampilan visual sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari proses bercerita, bukan hiasan yang berdiri sendiri. Wakil kepala sekolah bidang kurikulum, Joharudin, menyebut jumlah rombongan belajar di sekolah itu bertambah menjadi enam dan menilai perkembangan sekolah perlu diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk literasi media. Ia juga menyoroti cepatnya perkembangan teknologi informasi. Karena itu, pelatihan menjadi upaya praktis agar guru dan siswa dapat mengikuti perubahan, alih-alih hanya menjadi pengguna pasif media digital. Panitia Gungun Gunawan berharap peserta menerapkan ilmu yang diperoleh sebagai keterampilan tambahan.

Pasie Raja memberi ruang untuk menulis dan berlatih

SMAN 1 Pasie Raja memilih fokus yang lebih terarah pada jurnalistik dasar dan karya tulis populer. Sebanyak 40 siswa—termasuk pengurus OSIS, Pramuka, serta perwakilan kelas X dan XI—mengikuti pelatihan selama empat hari, dari 20 sampai 23 Oktober 2026. Polanya juga menyediakan waktu untuk praktik: satu hari tatap muka, lalu tiga hari tugas mandiri dengan mengirimkan tulisan populer. Model ini patut diapresiasi karena materi tidak berhenti setelah narasumber selesai berbicara. Siswa memperoleh kesempatan mencoba menulis, sementara harapan sekolah agar karya mereka dapat dimuat di media cetak maupun daring memberi sasaran yang konkret. Kepala sekolah Safril menyatakan pelatihan itu ditujukan untuk mengembangkan bakat dan minat menulis siswa. Dengan demikian, jurnalistik sekolah dapat tumbuh dari karya yang benar-benar dibuat siswa, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Dua pendekatan, satu kebutuhan literasi

Perbedaan kedua kegiatan justru memperlihatkan keluasan pelatihan jurnalistik siswa. SMAN 16 mengajak guru dan pelajar menghubungkan berita dengan fotografi; SMAN 1 Pasie Raja mengarahkan 40 siswa pada dasar jurnalistik dan latihan menulis populer. Yang satu memperkuat cara menyampaikan informasi melalui gabungan kata dan gambar, sedangkan yang lain memberi tekanan pada pengembangan tulisan dan proses praktik. Keduanya membuka ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan menyampaikan informasi, kreativitas, daya kritis, dan komunikasi. Perwakilan Dinas Pendidikan di Aceh Selatan, Husna, berharap kegiatan di Pasie Raja dapat menjadi awal lahirnya penulis muda, jurnalis pelajar, pengelola majalah sekolah, serta kreator konten edukatif. Harapan itu lebih mungkin terwujud bila latihan berlanjut menjadi kebiasaan: mengamati lingkungan, memeriksa informasi, lalu menulis atau memotret dengan tujuan yang jelas.

Kesimpulannya, tidak ada satu format pelatihan yang harus dipakai semua sekolah. Menggabungkan fotografi, dasar jurnalistik, dan karya tulis populer sesuai kebutuhan siswa akan memberi mereka lebih banyak cara untuk berbagi informasi dengan bertanggung jawab. Ukuran keberhasilannya bukan hanya antusiasme saat pelatihan, melainkan karya yang terus dibuat setelah kegiatan berakhir.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!