Suara kolektif di tengah pertumbuhan usaha
Omah Petrok adalah komunitas sekaligus koperasi di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara, yang secara kolektif menyuarakan kelestarian lingkungan ketika industri rumahan setempat berkembang masif dan menekan sumber air warga. Kelompok yang digerakkan para pemuda ini berkarya di tengah geliat industri rumahan yang ikut menggerakkan perekonomian masyarakat. Pada Rabu, 28 Oktober, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Omah Petrok kembali menegaskan pesan lingkungan itu melalui upaya kolektif. Sikap ini penting karena keberhasilan ekonomi lokal tidak seharusnya dinilai hanya dari bertambahnya kegiatan usaha. Jika pertumbuhan dibayar dengan rusaknya sumber air yang digunakan warga, manfaatnya menjadi timpang. Omah Petrok mengangkat persoalan yang kerap tertutup oleh cerita tentang pesanan dan kemajuan usaha: siapa yang menanggung dampak ketika kegiatan produksi mencemari lingkungan?
Dampak pencemaran terasa di sekitar rumah
Industri rumahan di Troso memang menopang sendi ekonomi warga, tetapi sungai dan sumur mulai tercemar. Dampaknya bukan perkara pemandangan semata: sumur warga disebut mulai tidak layak digunakan. Gambaran itu terlihat pada sungai di Desa Troso yang tampak berwarna merah muda bercampur hitam pada Selasa, 27 Oktober. Ketika sumber air sehari-hari tercemar, beban lingkungan masuk langsung ke kehidupan rumah tangga. Inilah alasan kampanye Omah Petrok tidak patut dipandang sebagai penolakan terhadap kegiatan ekonomi. Persoalannya adalah bagaimana usaha berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan dasar warga. Warna sungai yang berubah menjadi tanda yang sulit diabaikan; kemajuan usaha kehilangan maknanya bila masyarakat harus menghadapi sumber air yang kian tidak aman.
Pertumbuhan perlu disertai tanggung jawab
Pelajaran utama dari Omah Petrok bukan bahwa satu komunitas dapat menyelesaikan pencemaran sendirian, melainkan bahwa suara kolektif perlu hadir ketika dampak industri mulai dirasakan warga. Kontras antara kegiatan usaha yang menggerakkan ekonomi dan sumber air yang tercemar menuntut perhatian lebih besar pada tanggung jawab lingkungan. Sikap itu layak mendapat tempat dalam pembicaraan tentang pembangunan lokal: keuntungan ekonomi tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan jika biaya ekologis dibebankan kepada masyarakat. Karena itu, langkah Omah Petrok menyuarakan kelestarian lingkungan di tengah pertumbuhan industri rumahan merupakan pengingat yang relevan bagi pelaku usaha dan warga. Kesimpulannya jelas: ekonomi lokal perlu tumbuh, tetapi bukan dengan menjadikan sungai dan sumur sebagai korban. Tanpa perlindungan sumber air, kemajuan hanya akan terasa bagi sebagian pihak.






