Keberlanjutan dimulai dari keputusan material
Fashion berkelanjutan adalah praktik merancang dan membuat pakaian dengan mempertimbangkan dampak material serta prosesnya, bukan sekadar memberi label ramah lingkungan pada sebuah koleksi. Di Jakarta Fashion Week 2027, pendekatan itu tampak melalui dua pilihan: mengolah serat selulosa menjadi kain dan memberi fungsi baru pada material yang sudah terbuang. Tiga brand lokal—Cap Bali, Manzone & Minimal, dan Kami—menampilkan 48 tampilan dalam peragaan Still/Moving dengan viscose dan lyocell sebagai material utama. Bagi pemakai, karakter kedua serat ini berpengaruh langsung pada kenyamanan dan jatuhnya pakaian. Viscose dikenal lembut, sejuk karena sirkulasi udaranya baik, dan memiliki draperi alami. Lyocell terasa halus, kuat, jatuh dengan baik, serta lebih mampu menyerap kelembapan. Perbedaan ini memberi desainer ruang untuk menyesuaikan bahan dengan fungsi dan siluet, bukan memilih serat hanya karena terdengar lebih ramah lingkungan.
APR menyediakan viscose dan lyocell untuk mendukung proses kreatif dalam peragaan tersebut. Namun, serat berbasis selulosa tidak otomatis membuat pakaian sepenuhnya ramah lingkungan. Asal bahan baku, penggunaan bahan kimia, cara produksi, dan pengelolaan limbah ikut menentukan dampaknya. Karena itu, pilihan serat patut dianggap sebagai langkah awal, bukan sertifikat keberlanjutan. Nilainya bergantung pada keterbukaan dan tanggung jawab sepanjang proses produksi.
BYO memberi limbah spanduk hidup baru
BYO mengambil jalur yang lebih langsung terlihat: mengubah limbah menjadi bahan utama karya. Di koleksi JFW 2027, label ini mengolah spanduk dan papan reklame vinil dari Jakarta, sisa plastik industri susu formula bayi, serta sisa kulit produksi otomotif menjadi busana dan aksesori. Sebanyak 15 tampilan siap pakai memperlihatkan bagaimana material bekas bisa beralih fungsi tanpa menyamarkan asal-usul eksperimentalnya. Potongan vinil dan plastik dirangkai menjadi tekstil berbentuk rantai dan ornamen menyerupai bulu, menghasilkan volume serta konstruksi pahatan yang menonjol. Peragaan bergerak dari denim dan kaus sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks. Pendekatan ini menarik karena mengangkat limbah spanduk dari kategori sampah visual menjadi bahan desain yang terbaca jelas di tubuh.
Aksesori Echo Bag menunjukkan sisi lain dari pemanfaatan ulang: tas itu dibuat seluruhnya dari potongan kulit sisa produksi pelapis interior otomotif mewah Eropa. Dengan konstruksi modular khas BYO, potongan yang bentuk dan ukurannya tidak seragam disusun menjadi produk yang dirancang tahan lama. Gagasan desain sirkular ini sebelumnya dikembangkan untuk Circular Design Challenge di New Delhi; setelah menjadi finalis yang mewakili Asia-Pasifik, BYO membawanya ke panggung JFW 2027. Perjalanan itu memberi konteks pada koleksi, tetapi ukuran keberhasilannya tetap pada apakah barang hasil olahan benar-benar berguna dan bertahan, bukan hanya menarik saat diperagakan.
Memilih serat dan memakai ulang bukan hal yang sama
Perbandingan kedua pendekatan menunjukkan bahwa fashion berkelanjutan tidak punya satu resep. Memilih viscose dan lyocell berarti mempertimbangkan karakter serat baru—kelembutan, kemampuan menyerap kelembapan, kekuatan, dan kebutuhan desain—seraya menilai dampak proses pembuatannya. BYO bergerak dari sisi lain: memperpanjang fungsi material yang sudah ada dan mengurangi ketergantungan pada bahan baru dalam bagian koleksinya. Strategi pertama berangkat dari pemilihan bahan; strategi kedua berangkat dari pencegahan limbah. Keduanya bisa bernilai, tetapi keduanya juga menuntut bukti lebih dari sekadar narasi. Serat selulosa tetap memerlukan produksi yang bertanggung jawab, sementara bahan bekas perlu diolah menjadi pakaian atau aksesori yang nyaman, awet, dan layak dipakai berulang.
Kekuatan presentasi Still/Moving ada pada keragaman identitas desain: Cap Bali, Manzone & Minimal, dan Kami menghubungkan eksplorasi bahan dengan warisan budaya Bali, busana modest kontemporer, kenyamanan, dan kebutuhan konsumen. Koleksi-koleksi itu tersedia melalui kanal penjualan masing-masing brand setelah diperkenalkan di JFW 2027. Sementara itu, karya BYO menguji seberapa jauh limbah dapat diubah menjadi objek mode yang punya fungsi dan daya tahan. Kesimpulannya, kedua jalan ini layak diapresiasi, tetapi tidak boleh disamakan dengan bukti bahwa sebuah produk sudah sepenuhnya berkelanjutan. Penilaian yang lebih jujur melihat seluruh siklus: dari sumber material dan proses, sampai masa pakai serta pengelolaan akhirnya.






