Telur Mentah Bukan “Jamu” untuk Bayi, Melainkan Risiko Kematian
Telur mentah bayi adalah praktik pemberian telur yang belum dimasak sama sekali kepada bayi, biasanya dengan cara dicekoki atau disuapkan langsung, yang sering kali didasari mitos bahwa telur dapat membuat bayi lebih kuat, cepat gemuk, atau kebal penyakit, padahal tindakan ini berisiko tinggi memicu infeksi berat dan bahkan kematian pada bayi yang masih sangat rentan. Praktik memberi telur mentah pada bayi baru lahir bukan tradisi yang perlu dilestarikan, melainkan kebiasaan berbahaya yang harus dihentikan. Kasus-kasus terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan keluarga bisa berakhir di ruang perawatan intensif dan kamar jenazah. Ketika orang dewasa bersikeras pada “warisan cara lama”, tubuh bayi yang rapuh menjadi taruhannya. Di titik ini, orang tua perlu berani berkata tidak, sekalipun pada anggota keluarga sendiri, demi keselamatan anak.

Pelajaran Pahit dari Kasus Bayi A: Viral, NICU, Lalu Berakhir Duka
Kisah bayi berinisial A yang meninggal setelah diduga dicekoki telur mentah seharusnya menjadi alarm keras bagi semua keluarga. Bayi A yang saat itu baru berusia 24 hari dilaporkan dalam kondisi kritis setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya sendiri dan akhirnya mengembuskan napas terakhir pada pukul 07.10 WIB di sebuah rumah sakit rujukan besar setelah menjalani perawatan intensif di ruang khusus. Kasus ini sempat viral di media sosial ketika tantenya memohon bantuan agar A segera mendapat ruang NICU karena kondisinya memburuk setelah dicekoki telur mentah. Dalam kronologi terpisah, disebutkan bahwa bayi berinisial sama meninggal pada usia 28 hari setelah tiga hari dirawat intensif di rumah sakit yang sama pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 07.10 WIB.
Humas rumah sakit, Adin Niken, menegaskan bahwa tim medis sudah memberikan penanganan maksimal sesuai standar, namun bayi tetap tidak tertolong dan meninggal pada pukul 07.10 WIB saat berusia 28 hari. Meski demikian, pihak rumah sakit menyatakan bahwa penyebab pasti kematian masih menjadi misteri dan belum dapat dijelaskan secara terbuka kepada publik, dan hingga kini belum ada keterangan medis resmi yang menghubungkan langsung pemberian telur mentah dengan kematian bayi tersebut. Di sinilah letak masalahnya: meski hubungan sebab-akibat belum dipublikasikan, fakta bahwa bayi kritis setelah dicekoki telur mentah sudah cukup menjadi peringatan moral. Menunggu “vonis ilmiah final” sambil tetap mempertahankan kebiasaan berbahaya adalah sikap abai terhadap nyawa bayi.
Bahaya Medis Telur Mentah: Salmonella Bukan Sekadar Diare
Ikatan Dokter Anak menanggapi kasus ini dengan peringatan keras: pemberian makanan dini, termasuk telur mentah bayi, adalah praktik berisiko tinggi dan tidak boleh dilakukan. Ketua pengurus pusat organisasi tersebut menekankan bahwa setiap makanan atau zat apa pun yang diberikan pada bayi harus mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan agar pertumbuhan dan perkembangan optimal dapat tercapai. Telur mentah maupun setengah matang dijelaskan sangat berbahaya karena berisiko tinggi terkontaminasi bakteri Salmonella yang memicu infeksi saluran pencernaan berat atau salmonelosis.
Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi berat, dan pada bayi infeksi ini bisa berlangsung lebih berat serta berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Inilah inti keracunan Salmonella bayi: tubuh kecil mereka belum mampu melawan serangan bakteri ganas, sehingga infeksi usus bisa menjalar menjadi gangguan sistemik yang mengancam organ vital. Dalam konteks keselamatan MPASI bayi, pesan medisnya tegas: telur hanya boleh diberikan dalam keadaan matang sempurna, pada usia yang sudah sesuai, dan bukan pada bayi baru lahir. ASI tetap ditekankan sebagai asupan nutrisi terbaik bagi bayi.
Panduan Sikap Orang Tua: Tegas Menolak, Berani Mengedukasi Keluarga
Kasus A menunjukkan bahwa tekanan keluarga bisa sangat kuat: niat “menguatkan” bayi dengan telur mentah berubah menjadi tragedi. Di sinilah orang tua perlu memegang kendali penuh atas semua yang masuk ke mulut anak. Peringatan dari Ikatan Dokter Anak jelas: pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. Artinya, siapa pun yang mengusulkan praktik di luar itu—entah nenek, tante, atau tetangga—harus siap dikoreksi. Menyerah demi menjaga perasaan orang dewasa sama saja mengorbankan keselamatan bayi.
Langkah praktisnya: pertama, jadikan ASI sebagai satu-satunya sumber nutrisi utama pada bayi baru lahir, sesuai anjuran medis yang menegaskan bahwa ASI adalah asupan terbaik bagi bayi. Kedua, tolak mentah-mentah telur mentah bayi dalam bentuk apa pun, termasuk dicampur madu, jamu, atau minuman lain. Ketiga, bila bayi menunjukkan gejala diare, demam, muntah, atau tampak lemas setelah diberi makanan selain ASI, segera bawa ke fasilitas kesehatan dan ceritakan dengan jujur apa yang sudah diberikan. Mengakui kesalahan jauh lebih baik daripada kehilangan nyawa anak karena menutup-nutupi.






