Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Telur Mentah dan Setengah Matang: Mengapa Bayi Harus Dilindungi

Telur Mentah dan Setengah Matang: Mengapa Bayi Harus Dilindungi
Minat|Pengetahuan Parenting

Telur Mentah Bukan Superfood untuk Bayi, Melainkan Sumber Bahaya

Telur mentah bayi adalah praktik pemberian telur dalam kondisi tidak dimasak sempurna kepada bayi dan anak kecil, yang berisiko membawa bakteri Salmonella penyebab infeksi saluran cerna, sehingga dapat menimbulkan gejala berat seperti diare, muntah, demam, nyeri perut, dan dehidrasi yang mengancam keselamatan mereka. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara tegas mengingatkan orang tua agar tidak memberikan telur mentah maupun setengah matang kepada bayi dan anak. Larangan ini bukan sikap berlebihan, melainkan respons terhadap risiko nyata yang sudah terlihat dalam kasus-kasus di lapangan. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menjelaskan bahwa telur yang tidak dimasak hingga matang berisiko mengandung Salmonella penyebab salmonelosis, infeksi saluran cerna yang dapat berdampak lebih berat pada bayi dan anak kecil. Mengabaikan peringatan ini sama saja mempertaruhkan kesehatan anak demi mitos gizi yang tidak berdasar.

Telur Mentah dan Setengah Matang: Mengapa Bayi Harus Dilindungi

Risiko Salmonella: Dehidrasi dan Komplikasi Berat pada Anak Kecil

Orang tua sering menganggap sedikit diare atau muntah sebagai hal biasa, padahal pada bayi, infeksi Salmonella dari infeksi telur setengah matang bisa berubah menjadi kondisi gawat. Telur yang tidak dimasak sempurna berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat memicu infeksi saluran cerna, dan pada bayi dampaknya bisa lebih berat. Gejala yang muncul bukan sekadar ketidaknyamanan: diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi dapat terjadi secara bersamaan. Dehidrasi adalah ancaman utama karena tubuh bayi kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat, sementara cadangan dan kemampuan tubuh mereka untuk mengompensasi masih terbatas. IDAI menekankan bahwa kondisi tubuh bayi yang masih berkembang membuat risiko infeksi perlu diwaspadai lebih serius, karena pada bayi dan anak kecil infeksi berpotensi berjalan lebih berat dan menimbulkan komplikasi serius. Mengabaikan tanda-tanda ini dan tetap memaksa memberikan telur mentah bayi adalah bentuk kelalaian yang tidak bisa ditoleransi.

Telur Tetap Aman dan Bergizi: Kuncinya Dimatangkan Sempurna

Melarang telur mentah bukan berarti menghapus telur dari menu MPASI. Telur adalah sumber protein berkualitas tinggi dengan beragam zat gizi penting untuk tumbuh kembang anak, tetapi manfaat itu baru layak diambil bila keamanan MPASI telur dijaga dengan cara memasaknya hingga matang. IDAI menegaskan bahwa telur yang dimasak matang memiliki tingkat keamanan pangan yang lebih baik dibandingkan telur mentah atau setengah matang, sekaligus meningkatkan daya cerna proteinnya. Putih dan kuning telur harus dimasak hingga matang sebelum diberikan kepada bayi. Dalam pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), orang tua perlu menyesuaikan makanan dengan usia dan kemampuan makan bayi, termasuk keamanan bahan pangan, tekstur, dan cara penyajian. Untuk hidangan yang secara resep tidak dimasak sempurna, pedoman IDAI menyarankan penggunaan telur pasteurisasi yang memenuhi standar keamanan pangan. Pilihan ini jelas jauh lebih bertanggung jawab dibanding mempertahankan kebiasaan telur mentah bayi yang berisiko tinggi.

Mitos Telur Mentah dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Menyiapkan MPASI

Banyak mitos beredar bahwa telur mentah atau setengah matang lebih "berkhasiat" atau membuat anak cepat gemuk. Padahal, selain risiko infeksi, telur mentah atau setengah matang tidak memberikan keuntungan gizi yang membenarkan risiko pemberiannya kepada bayi. Kandungan gizi telur tetap ada dan dapat dimanfaatkan optimal ketika dimasak matang; tidak ada alasan ilmiah untuk mempertaruhkan risiko salmonella anak demi klaim gizi yang tidak terbukti. IDAI juga mengingatkan bahwa keamanan makanan harus menjadi pertimbangan utama dalam pemberian asupan kepada bayi. Kebersihan saat menyiapkan makanan—mencuci tangan dan peralatan, mencegah kontaminasi silang, serta menyimpan telur dengan benar—adalah bagian dari tanggung jawab orang tua. Bila setelah mengonsumsi makanan berisiko bayi menunjukkan diare, muntah, atau demam, orang tua wajib segera mencari pertolongan medis. Mengikuti pedoman IDAI bukan sekadar patuh pada aturan, melainkan memilih berpihak pada keselamatan anak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!