Edukasi digital harus berjalan bersama pembentukan karakter
Edukasi digital di sekolah adalah pembelajaran tentang cara menggunakan teknologi secara kritis, bertanggung jawab, dan tetap menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pesan tentang bijak bermedia sosial dan anti perundungan sekolah tidak semestinya dipisahkan: ruang digital memperluas jangkauan tindakan, tetapi etika menentukan dampaknya.
Pada Senin, 2 November 2026, Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty menyampaikan pesan tentang media sosial, perundungan, dan karakter positif saat kunjungan program Polisi Peduli Pendidikan di SMA Negeri 2 Taruna Pamong Praja. Ia berbicara kepada ratusan siswa dalam suasana dialog interaktif, menekankan bahwa kemampuan akademis perlu disertai etika, kepribadian, dan kepedulian sosial.
Pendekatan ini tepat karena imbauan umum tentang keamanan digital akan lebih bermakna ketika dikaitkan dengan kebiasaan nyata: memeriksa informasi, menahan diri sebelum membagikan konten, dan memperlakukan teman dengan hormat. Sekolah bukan hanya tempat menyampaikan larangan, melainkan ruang untuk melatih pertimbangan dan empati.

Media sosial dan AI menuntut sikap kritis
Di Bojonegoro, Yenni meminta pelajar berpikir kritis, tidak mudah percaya hoaks, dan tidak sembarangan membagikan konten. Pesan itu menempatkan literasi digital pelajar sebagai keterampilan praktis, bukan sekadar pengetahuan tentang aplikasi: siswa perlu menilai informasi sekaligus mempertimbangkan akibat unggahannya bagi orang lain.
Di Pasuruan, Kapolres AKBP Irawan Setyono mengajak sekitar 800 pelajar dan tenaga pendidik Yayasan Al-Yasini menggunakan AI secara bijak serta menghindari perundungan. Dalam upacara Polri Peduli Pendidikan di SMKN 1 Wonorejo pada hari yang sama, ia mengingatkan bahwa informasi dari AI belum tentu benar. Prinsipnya jelas: teknologi membantu belajar, tetapi tidak menggantikan guru atau penilaian kritis siswa.
Perbedaan penekanannya saling melengkapi. Pesan Bojonegoro berangkat dari perilaku di media sosial dan pembentukan watak; Pasuruan memperluas pembahasan ke penggunaan AI dalam belajar. Keduanya menolak sikap menerima informasi begitu saja. Penggunaan AI bijak berarti memeriksa hasilnya dan tetap berdialog dengan guru, bukan menyerahkan proses berpikir kepada mesin.
Sekolah aman perlu dibangun, bukan sekadar diumumkan
Kedua kapolres menempatkan pencegahan perundungan sebagai bagian inti dari pendidikan. Yenni meminta siswa menjauhi perundungan langsung maupun melalui media sosial serta menjadikan sekolah tempat mengembangkan potensi, bukan saling merendahkan. Irawan mengingatkan agar pelajar saling menghormati tanpa membedakan usia, kondisi fisik, kemampuan akademik, atau latar belakang keluarga.
Sikap ini penting sebab seruan anti perundungan sekolah akan kehilangan arti bila siswa tidak tahu bagaimana mencari bantuan atau bagaimana teman sebaya dapat merespons. Komunitas sekolah perlu memperlakukan laporan dengan serius, memberi ruang aman bagi siswa yang terdampak, dan menegaskan bahwa penghinaan verbal maupun tindakan di media sosial tetap merupakan perundungan.
Edukasi langsung dari polisi dapat membuka percakapan dan memperkuat pesan sekolah, tetapi pembentukan budaya aman membutuhkan tindak lanjut sehari-hari dari guru, keluarga, dan siswa. Dialog interaktif serta penghargaan bagi siswa yang berani menyampaikan pendapat, seperti dalam kunjungan Bojonegoro, membantu membuat pelajar ikut bersuara, bukan hanya menjadi pendengar.
Literasi juga menyentuh disiplin dan keselamatan
Kunjungan Pasuruan mengaitkan tanggung jawab digital dengan risiko yang lebih luas. Irawan mengingatkan pelajar untuk mematuhi aturan lalu lintas karena sebagian siswa menggunakan sepeda motor untuk pergi ke sekolah; ia menegaskan bahwa berkendara harus memenuhi persyaratan usia dan memiliki SIM, serta keselamatan lebih penting daripada kecepatan.
Ia juga mengingatkan bahaya narkoba dan meminta pelajar melapor kepada polisi melalui Call Center 110 atau kepada guru BK jika mengetahui penyalahgunaan maupun peredaran zat terlarang. Cakupan ini membuat program pendidikan kepolisian relevan dengan keputusan harian siswa, dari menyaring informasi hingga menjaga keselamatan diri.
Program Polisi Peduli Pendidikan di Bojonegoro ditujukan untuk mempererat hubungan dengan dunia pendidikan, membangun sinergi, serta mencegah kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan pengaruh negatif media sosial. Di Pasuruan, program Polri Peduli Pendidikan diharapkan memperkuat hubungan kepolisian dan sekolah serta mendorong disiplin, keselamatan, penggunaan teknologi yang bijak, dan pergaulan positif.
Kesimpulannya, masuknya kapolres ke sekolah paling bernilai ketika pesan tentang etika digital diterjemahkan menjadi kebiasaan dan dukungan nyata. Literasi media sosial, pemahaman AI, dan pencegahan perundungan bukan agenda terpisah: semuanya menuntut pelajar berpikir kritis, bertanggung jawab, dan saling menjaga.






