Ketika penerbangan bertemu mode
Estetika penerbangan dalam mode adalah penerjemahan suasana, detail, dan pengalaman perjalanan udara menjadi gagasan visual serta pilihan desain busana yang dapat dibaca di runway. Di Jakarta Fashion Week 2026, Starlux Airlines menjadikan gagasan itu inti kolaborasinya dengan desainer lokal Byo dan Jan Sober. Sebagai mitra penerbangan pertama ajang tersebut, maskapai Taiwan ini tidak berhenti pada logo atau penempatan merek: dua awak kabinnya ikut berjalan di catwalk dalam peragaan bertema “Redefine the Sky” pada 29 Oktober. Pilihan itu terasa tepat karena menghadirkan unsur penerbangan sebagai bagian dari pertunjukan, bukan sekadar latar promosi. Starlux ingin memperluas cara publik memandang perjalanan udara—bukan hanya sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga pengalaman budaya dan desain. Ambisi itu memberi kolaborasi ini alasan kreatif yang lebih kuat daripada kemitraan seremonial.
Dua pendekatan, satu langit
Kekuatan kolaborasi Starlux Jakarta Fashion Week terletak pada pertemuan dua bahasa desain yang berbeda. Byo membawa perhatian pada material dan keberlanjutan: merek ini mengolah sisa kulit interior mobil mewah Eropa menjadi tas, serta memakai spanduk iklan plastik bekas di Jakarta dan sisa plastik industri susu formula bayi untuk busana. Jan Sober, sebaliknya, mengarahkan perhatian pada perubahan identitas lewat koleksi busana pria musim semi/panas 2027, “The Shape of Becoming”. Kontras ini membuat tema penerbangan terasa lebih luas daripada kilau dan citra futuristis. Ada pula pertanyaan tentang bagaimana bahan memperoleh kehidupan baru dan bagaimana seseorang membentuk ekspresi dirinya. Inilah nilai kolaborasi desainer lokal tersebut: estetika udara menjadi pemantik, bukan cetakan seragam yang memaksa kedua label tampil dengan cara sama.

Detail yang menghubungkan langit dan busana
Jan Sober menambahkan unsur perak, emas, dan langit berbintang untuk menjalin hubungan antara dunia penerbangan dan mode. Detail itu berpotensi memberi koleksi kesan kosmik, tetapi gagasan yang lebih menarik justru hadir dalam percakapan antara kemajuan teknologi dan keterampilan manusia. Elandra Putri dari Jan Sober menekankan bahwa desain tetap bergantung pada kreativitas serta kerja tangan, meski teknologi dan kecerdasan buatan terus berkembang. Pernyataan ini membuat “The Shape of Becoming” terasa relevan: perubahan bukan hanya soal mesin atau material baru, melainkan juga pilihan manusia dalam membentuk identitas. Sementara itu, pendekatan daur ulang Byo memberi sisi tak terduga pada estetika penerbangan—sebuah pengingat bahwa desain yang memandang masa depan tetap dapat berangkat dari bahan yang sudah ada.
Kolaborasi yang memperluas makna runway
Jakarta Fashion Week berlangsung pada 26 Oktober hingga 1 November di Pondok Indah Mall, mengusung tema “City of New Lights” dan diikuti 111 desainer. Di tengah skala acara itu, kerja sama Starlux dengan Byo dan Jan Sober menawarkan cara yang cukup meyakinkan untuk membawa citra penerbangan ke runway: bukan dengan menyalin seragam atau bentuk pesawat, melainkan lewat pengalaman, bahan, dan gagasan tentang masa depan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pandangan General Manager Starlux untuk Indonesia, Ting Hao-wei, bahwa layanan dan pengalaman di pesawat dapat berkembang ke ranah estetika serta desain. Bagi penonton, hasilnya membuka sudut pandang baru tentang perjalanan udara; bagi mode, kolaborasi lintas bidang memberi ruang bagi cerita yang lebih berlapis. Kesimpulannya, penerbangan menjadi inspirasi yang paling menarik ketika ia memberi desainer kebebasan menafsirkan, bukan sekadar menyisipkan identitas merek.






