Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Pria Modern Tidak Lagi Malu Merawat Kulit

Mengapa Pria Modern Tidak Lagi Malu Merawat Kulit
Minat|Perawatan Pria

Skincare Pria Modern: Dari Wilayah Terlarang Menjadi Kebiasaan Wajar

Skincare pria modern adalah kebiasaan perawatan kulit yang dilakukan laki-laki secara sadar, terencana, dan terbuka, menggunakan produk grooming pria untuk menjaga kondisi kulit sekaligus mengekspresikan identitas dan rasa percaya diri mereka. Dulu, bagi banyak laki-laki, membicarakan sabun muka, moisturizer, sunscreen, apalagi rangkaian perawatan kulit pria yang lengkap, terasa seperti melangkah ke wilayah yang secara sosial bukan milik mereka. Laki-laki dianggap cukup mandi lalu berangkat kerja, dan kulit kering atau terbakar matahari diterima sebagai risiko “namanya juga laki-laki”.

Kini skenario itu bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “bolehkah laki-laki memakai skincare?”, melainkan “mengapa harus menahan diri?”. Pertanyaan ini membuka pembahasan lebih luas tentang tubuh, identitas, dan maskulinitas baru yang tidak alergi pada perawatan diri.

Runtuhnya Stigma Perawatan Pria di Generasi Muda dan Profesional

Perubahan terbesar ada pada cara laki-laki memandang tubuhnya sendiri. Keputusan membeli skincare pria modern tidak lagi murni lahir dari kebutuhan fungsional; konsumen juga membeli simbol, pengalaman, rasa percaya diri, dan identitas. Penelitian tentang konsumsi kosmetik laki-laki menunjukkan keterkaitan antara konsep maskulinitas dan penggunaan produk grooming pria.

Namun, sisa stigma perawatan pria belum menghilang sepenuhnya. Banyak laki-laki masih merasa perlu membenarkan penggunaan skincare dengan alasan “fungsional”: karena kulit kering, agar nyaman setelah bercukur, atau supaya terlihat profesional. Dengan kata lain, mereka boleh merawat diri selama narasinya tetap terdengar maskulin. Di sini, generasi muda dan kalangan profesional berperan sebagai katalis: mereka membuktikan bahwa memakai sunscreen ke kantor atau menggunakan moisturizer sebelum rapat bukan ancaman bagi maskulinitas, tetapi bagian dari standar penampilan kerja modern.

Kahf dan Bahasa Baru Perawatan Kulit Pria

Ilustrasi paling jelas datang dari pengalaman menyarankan seorang buruh harian untuk mencoba produk perawatan laki-laki dari Kahf. Ia bukan pekerja kantoran dengan ruangan ber-AC; setiap hari ia berhadapan dengan debu, panas, keringat, dan kerasnya pekerjaan lapangan. Bagi sosok seperti ini, skincare pria modern bukan soal ingin tampak seperti model, melainkan kebutuhan karena kulitnya terus-menerus terkena matahari dan lingkungan kerja yang kasar.

Kahf, yang lahir dari ParagonCorp dan diposisikan sebagai brand grooming untuk laki-laki dengan fokus pada bahan alami, halal, dan pengujian dermatologis, menawarkan lebih dari sekadar produk. Ia membangun bahasa yang membuat perawatan diri terasa kompatibel dengan identitas laki-laki. Strategi ini penting karena tantangan terbesar bukan hanya membuat produk bagus, tetapi membuat laki-laki merasa nyaman menjadi konsumennya. Di sisi lain, ketika brand terlalu keras menekankan label “produk laki-laki”, mereka membuka pintu bagi konsumen baru sekaligus berisiko mempersempit definisi bagaimana laki-laki “seharusnya” tampil.

Dampak Nyata bagi Pengguna: Dari Mahasiswa sampai Buruh Harian

Normalisasi perawatan kulit pria terasa di berbagai lapisan. Seorang mahasiswa mungkin membeli sunscreen karena sering naik motor ke kampus; seorang pekerja kantoran memakainya untuk menjaga kondisi kulit; laki-laki lain sekadar merasa nyaman ketika wajahnya terawat. Seorang buruh harian seperti sahabat tadi membutuhkan skincare agar kulitnya tidak terus menerus tersiksa oleh panas, debu, dan keringat, bukan untuk mengejar standar kecantikan iklan.

Artinya, konsumen skincare pria modern tidak bisa dibaca hanya dari jenis kelamin. Mereka perlu dipahami dari kebutuhan, gaya hidup, pekerjaan, lingkungan, usia, daya beli, nilai yang dianut, dan cara memandang diri sendiri. Ketika brand kecantikan dan produk grooming pria peka terhadap keragaman ini, peluang pasar baru terbuka lebar. Perawatan bukan lagi milik satu kelas sosial atau satu tipe pekerjaan; ia menjadi bahasa bersama lintas profesi dan generasi.

Ke Depan: Dari Narasi Maskulin ke Narasi Kemanusiaan

Masa depan produk grooming laki-laki tidak harus bergantung pada gagasan bahwa “merawat diri adalah tindakan maskulin”; narasinya bisa bergerak lebih jauh: merawat diri adalah tindakan manusia. Di titik ini, brand seperti Kahf menghadapi tantangan: bagaimana mempertahankan identitas sebagai brand laki-laki tanpa terjebak pada definisi laki-laki yang sempit.

Perubahan terbesar sedang terjadi di level cara laki-laki memahami tubuhnya. Laki-laki tidak menjadi “lebih feminin” hanya karena membeli skincare; mereka sedang belajar bahwa tubuh yang selama ini dianggap sekadar alat kerja adalah bagian dari diri yang layak dirawat. Normalisasi perawatan pria membuka ruang bagi industri kecantikan dan grooming untuk merancang produk, pesan, dan pengalaman yang tidak menindas, tetapi memanusiakan. Kesimpulannya tegas: saat laki-laki berhenti malu merawat kulit, yang runtuh bukan kejantanan, melainkan stigma yang selama ini membatasi mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!