Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Pria Modern Berani Investasi pada Skincare

Mengapa Pria Modern Berani Investasi pada Skincare
Minat|Perawatan Pria

Dari Sabun Batang ke Skincare: Maskulinitas Sedang Direvisi

Skincare pria modern adalah praktik perawatan kulit yang dilakukan laki-laki secara sadar dan terencana, menggunakan produk khusus wajah dan tubuh, untuk menjaga kesehatan, penampilan, serta rasa percaya diri sebagai bagian dari rutinitas hidup sehari-hari. Dulu, rutinitas itu dianggap wilayah perempuan; laki-laki cukup mandi, cuci muka, lalu berangkat kerja. Membicarakan sabun muka, moisturizer, atau sunscreen terasa seperti melanggar batas sosial yang menandai siapa “laki-laki sejati”. Kini, kebiasaan itu bergeser. Pertanyaan yang relevan bukan lagi “bolehkah pria memakai skincare?”, melainkan “mengapa mereka tidak menggunakannya sejak dulu?”. Normalisasi skincare pria menunjukkan bahwa standar maskulinitas konservatif mulai kehilangan cengkeramannya. Pria peduli penampilan bukan tanda kelemahan, tetapi kesadaran baru bahwa tubuh bukan sekadar alat kerja, melainkan aset yang layak dirawat dan dilindungi.

Mengapa Pria Modern Berani Investasi pada Skincare

Pria di Depan Cermin: Self-care, Bukan Kejumawaan

Perubahan paling kentara terlihat di hal sederhana: laki-laki sekarang semakin sering berdiri di depan cermin, memperhatikan wajah, kulit, aroma tubuh, hingga pakaian yang dikenakannya. Laki-laki lapangan, mahasiswa motoran, pekerja kantoran, sampai anak muda aktif media sosial mulai sadar bahwa penampilan bukan monopoli perempuan. Seorang buruh harian yang tiap hari berhadapan dengan debu, panas, dan keringat membutuhkan skincare bukan untuk tampil seperti model, tetapi agar kulitnya tidak rusak oleh lingkungan kerja yang keras. Seorang mahasiswa bisa membeli sunscreen karena sering mengendarai sepeda motor, sementara pekerja kantoran memakainya demi menjaga kondisi kulit di ruang ber-AC. "Studi konsumsi kosmetik laki-laki yang melibatkan 476 responden menunjukkan faktor psikologis seperti vanity dan konsep maskulinitas berhubungan dengan konsumsi produk grooming." Artinya, skincare pria modern adalah kombinasi kebutuhan fungsional dan cara baru memahami diri.

Peran Brand Lokal: Kahf dan Bahasa Baru Maskulinitas

Normalisasi skincare pria tidak muncul sendiri; ada bahasa pemasaran yang membukakan pintu. Beberapa waktu lalu, seorang penulis menyarankan sahabatnya yang berprofesi sebagai buruh harian untuk mencoba produk perawatan laki-laki dari Kahf. Pilihan itu bukan karena ikut tren, melainkan kepercayaan pada rekam jejak ParagonCorp yang bertahun-tahun membangun produk personal care dan kosmetik untuk berbagai segmen konsumen. Kahf lahir sebagai brand grooming untuk laki-laki dengan perhatian pada bahan alami, kehalalan, dan pengujian dermatologis. Ia tidak sekadar menjual produk perawatan pria, tetapi membangun bahasa yang membuat perawatan diri terasa kompatibel dengan identitas laki-laki. Paragon bahkan mendeskripsikan Kahf sebagai brand halal grooming untuk pria dan menempatkannya sebagai pilihan terdepan dalam produk perawatan pria. Di sini, brand lokal memimpin gerakan normalisasi: memberi sinyal bahwa investasi pada skincare pria modern sah, dan tetap bisa terasa maskulin.

Budaya Bergeser: Tubuh Pria sebagai Aset, Bukan Sekadar Alat Kerja

Kunci perubahan ada pada cara pria memandang tubuh. Dalam konstruksi maskulinitas tradisional, laki-laki ditempatkan sebagai sosok yang harus kuat, tangguh, tahan kondisi fisik, dan tidak terlalu sibuk dengan penampilan; merawat diri berlebihan dianggap feminin. Namun, perilaku grooming pria sekarang tidak bisa dibaca sekadar sebagai peningkatan konsumsi; ada perubahan cara mereka memaknai tubuh. Tubuh yang dulu dilihat sebagai alat untuk bekerja dan menunjukkan kekuatan, perlahan dipahami sebagai sesuatu yang perlu dirawat, ditampilkan, dan dikelola. Perubahan ini lahir dari pertemuan banyak faktor: budaya populer, media sosial, lingkungan pergaulan, tuntutan dunia kerja, perhatian pada kesehatan, serta cara baru laki-laki memahami dirinya. Dalam psikologi konsumen, keputusan membeli bukan hanya soal fungsi; konsumen juga membeli simbol, pengalaman, rasa percaya diri, dan identitas. Skincare pria modern menjadi bagian dari praktik self-care yang menyatukan kesehatan fisik dan mental.

Menjaga Agar Normalisasi Skincare Pria Tetap Sehat

Makin banyak produk perawatan pria khusus di pasaran adalah kabar baik, selama tidak mengunci pria pada satu versi maskulinitas saja. Penelitian menunjukkan banyak laki-laki masih merasa perlu membenarkan penggunaan produk grooming dengan alasan fungsional: kulit kering, kenyamanan setelah bercukur, atau tampil profesional. Narasi ini membantu mereka masuk ke dunia skincare tanpa merasa identitasnya terancam, tetapi juga berisiko mempersempit batasan tentang apa yang “layak” bagi laki-laki. Iklan sering menggabungkan skincare dengan simbol tubuh kuat, aktivitas luar ruangan, dan ketangguhan demi menjaga nuansa maskulin. Strategi itu efektif untuk normalisasi skincare pria, namun kita perlu kritis: pria peduli penampilan seharusnya tidak harus selalu dibingkai dengan stereotip macho. Kesimpulannya, investasi pada skincare pria modern adalah langkah sehat, selama tujuan utamanya jelas: melindungi kulit, menjaga kesehatan, dan membangun hubungan yang lebih ramah dengan tubuh sendiri, bukan mengejar satu model laki-laki ideal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!