Penginapan Grup Murah: Bukan Hotel, Tapi Institusi Sosial
Penginapan grup murah untuk acara besar adalah model akomodasi yang memanfaatkan fasilitas institusi sosial seperti sekolah, pesantren, dan rumah ibadah sebagai tempat menginap bersama, sehingga rombongan besar dapat ditampung dengan biaya lebih terjangkau dibanding hotel komersial, tanpa mengorbankan kebutuhan dasar seperti tidur layak, sanitasi, konsumsi, dan dukungan logistik yang memadai.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang menjadi contoh paling segar bagaimana konsep ini bekerja dalam skala besar. Panitia tidak menggantungkan diri pada jaringan hotel, melainkan mengubah ruang kelas, asrama, hingga kompleks gereja menjadi penginapan peserta muktamar. Sebanyak 576 peserta ditempatkan di MTsN 3 Jombang yang difungsikan sebagai Tower 6, lengkap dengan kasur satu orang dan pendingin ruangan di 48 ruang penginapan. Di sisi lain, jaringan komunitas lintas iman membuka rumah singgah gratis di tiga lokasi gereja sebagai bentuk kontribusi sosial. Inilah wajah baru akomodasi acara besar: efisien di anggaran, kaya makna sosial.
MTsN 3 Jombang: Ruang Kelas Berubah Jadi Hotel Raksasa
Mengubah sekolah menjadi penginapan peserta muktamar mungkin terdengar nekat, tetapi di Jombang hal itu terbukti efektif. Tower 6 MTsN 3 Jombang menampung 576 peserta Muktamar ke-35 NU dari Jawa Barat, Jawa Timur hingga Papua, memanfaatkan 48 ruang kelas yang sementara beralih fungsi menjadi kamar tidur bersama. Alih-alih bangku dan papan tulis, ruang-ruang ini diisi kasur satu orang per peserta, dengan AC untuk menjaga kenyamanan di tengah padatnya agenda forum.
Model penginapan institusional seperti ini adalah bentuk penginapan grup murah yang logis untuk acara ribuan orang. Panitia tidak berhenti pada soal tempat tidur. Mereka menyiapkan 48 unit MCK dan 13 kamar mandi, plus konsumsi tiga kali sehari, snack, dan kebutuhan dasar seperti sandal dan sabun bagi para muktamirin. Peserta juga mendapat fasilitas antar-jemput ke lokasi utama muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Dalam satu paket, peserta memperoleh akomodasi acara besar yang terintegrasi: tidur, makan, dan transportasi, dengan biaya yang jelas lebih terkendali dibanding menyebarkan rombongan ke puluhan hotel terpisah.
Rumah Singgah Gratis di Gereja: Toleransi Jadi Fasilitas Utama
Jika MTsN 3 Jombang menunjukkan efisiensi, tiga gereja di Jombang menambahkan satu dimensi lain: keberanian merayakan perbedaan. Guest house GKJW Jombang, pastori GKI Jombang, dan guest house BAMAG di Mojongapit dibuka sebagai rumah singgah gratis bagi peserta Muktamar NU, melalui kolaborasi Jaringan NU Kultural (JANUR) dan komunitas lintas iman. Di sini, penginapan grup murah berubah menjadi panggung perjumpaan sosial.
Kasur matras, bantal, AC, dan fasilitas mandi disiapkan di lingkungan gereja, bahkan disediakan ruang khusus bagi tamu Muslim untuk salat. Hingga saat ini, 47 muktamirin dari berbagai daerah—mulai pengurus NU, dosen, peneliti, aktivis hingga jurnalis—memilih bermalam di tiga rumah singgah tersebut. Bagi mereka yang datang jauh, seperti dari Sulawesi, adanya fasilitas ini sangat membantu karena mengurangi beban biaya akomodasi acara besar. Pernyataan simbolik di balik pintu gereja yang terbuka lebih kuat dari sekadar diskon kamar: rumah singgah gratis ini menjadi argumen hidup bahwa identitas agama yang berbeda tidak menghalangi kerja bersama.
Dari Muktamar ke Masa Depan: Mengapa Model Ini Perlu Diperbanyak
Muktamar NU di Jombang menegaskan bahwa solusi penginapan terjangkau tidak harus mencari jawaban di brosur hotel. Dengan mengoptimalkan sekolah, pesantren, dan rumah ibadah, kota penyelenggara bisa menyediakan penginapan grup murah sekaligus memperkuat ekosistem sosial. Panitia menyiapkan sejumlah lokasi khusus untuk menampung para muktamirin selama forum berlangsung di PP Bahrul Ulum Tambakberas, sementara komunitas gereja menghadirkan rumah singgah gratis sebagai kontribusi nyata untuk menyukseskan Muktamar ke-35.
Bagi penyelenggara acara besar lain—dari konferensi keagamaan hingga jambore organisasi—pelajaran utamanya jelas. Pertama, penginapan institusional membuat biaya peserta lebih ringan tanpa mengorbankan kebutuhan dasar. Kedua, kolaborasi lintas iman mengubah akomodasi menjadi ruang pendidikan toleransi yang konkret. Ketiga, kehadiran donatur atau jaringan komunitas dapat memperluas kapasitas, bahkan sampai menghadirkan penginapan diskon besar atau sepenuhnya gratis. Jika pola ini diadopsi lebih luas, kota-kota penyelenggara tidak lagi kewalahan setiap kali event besar datang; mereka tinggal mengaktifkan jaringan sekolah dan rumah ibadah sebagai tulang punggung akomodasi acara besar.






