Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kabut Asap Lintas Negara: Krisis yang Menguji Solidaritas ASEAN

Kabut Asap Lintas Negara: Krisis yang Menguji Solidaritas ASEAN
Minat|Asia Tenggara

Kabut asap karhutla lintas negara: definisi dan skala krisis

Kabut asap karhutla lintas negara adalah polusi udara transboundary yang timbul dari kebakaran hutan dan lahan di satu wilayah, lalu terbawa angin menyeberangi batas administratif ke beberapa negara sekaligus, mengubah krisis ekologis lokal menjadi darurat kesehatan publik, pendidikan, dan ekonomi di seluruh kawasan. Dalam episode terbaru, asap dari kebakaran hutan Kalimantan Sumatera kembali menyelimuti Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina, mendorong indeks kualitas udara di sejumlah kota naik ke kategori tidak sehat dan berbahaya. Fakta bahwa satu rangkaian kebakaran mampu memicu gangguan sekolah, penerbangan, dan aktivitas bisnis lintas perbatasan menegaskan: ini bukan lagi masalah kebakaran musiman, melainkan krisis asap Asia Tenggara yang berulang dan belum diselesaikan secara struktural.

Kabut Asap Lintas Negara: Krisis yang Menguji Solidaritas ASEAN

Ketika diplomasi baru bergerak setelah asap menyeberang

Respons politik terhadap krisis asap Asia Tenggara lagi-lagi datang terlambat: baru ketika kabut menebal di Serian, Sarawak, dan indeks polusi udara menembus angka 500 hingga memaksa deklarasi keadaan darurat serta penutupan ratusan sekolah, isu ini diseret ke meja ASEAN. Di Bandar Seri Begawan, Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan Sultan Hassanal Bolkiah sepakat membawa persoalan ini ke mekanisme perjanjian AATHP ASEAN, menugaskan menteri luar negeri mengirim nota diplomasi ke Sekretariat ASEAN dalam waktu dekat. Kutipan pentingnya jelas: “Kami berdua sepakat untuk menggunakan mekanisme ASEAN sebagai pilihan terbaik,” ujar Anwar. Namun pola ini mengkhawatirkan. ASEAN bergerak bukan untuk mencegah, melainkan meredam kerusakan yang sudah meluas. Selama negara-negara anggota menunggu kabut asap karhutla lintas negara mencapai titik darurat sebelum berkoordinasi, AATHP akan tetap tampak sebagai payung yang dibuka ketika hujan sudah deras, bukan saat awan mulai menghitam.

Kabut Asap Lintas Negara: Krisis yang Menguji Solidaritas ASEAN

Angka kebakaran dan emisi yang menelanjangi kegagalan pencegahan

Data resmi dan independen menggambarkan skala kegagalan pencegahan kebakaran hutan Kalimantan Sumatera. Pemetaan satelit mencatat 178.232 hektare lahan terbakar hanya dalam semester pertama, melampaui angka 107.465 hektare versi sistem pemerintah. Estimasi lain menunjukkan hampir 300.000 hektare telah hangus sepanjang tahun ini, sebagian besar terkonsentrasi di dua pulau yang menjadi jantung ekosistem gambut tropis. Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service, kebakaran tersebut menghasilkan lebih dari 23 juta metrik ton emisi karbon hanya dalam pekan 28 Agustus–3 September, sudah melampaui emisi periode sama pada 2015 yang terkenal sebagai tahun El Niño kuat. Kutipan datanya tajam: “Kita sekarang melihat emisi kebakaran yang sangat ekstrem, sebanding dengan tahun-tahun El Nino kuat sebelumnya,” ujar Mark Parrington. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah bukti langsung bahwa AATHP gagal mengubah perilaku di lapangan, khususnya terkait tata kelola lahan gambut dan praktik pembakaran.

Dampak nyata: sekolah lumpuh, paru-paru anak menjadi korban

Di balik istilah teknis polusi udara transboundary, ada konsekuensi sangat konkret bagi warga biasa. Lebih dari 5 juta orang terpapar langsung kabut asap dari kebakaran di Sumatra dan Kalimantan, sementara di tujuh provinsi tercatat lebih dari 50.000 infeksi pernapasan hanya pada Juli–Agustus dan hampir seperempatnya menyerang anak di bawah lima tahun. Sekitar 1,4 juta siswa dipaksa beralih ke pembelajaran daring karena kualitas udara yang memburuk, sekolah-sekolah di berbagai wilayah ditutup, dan sebagian penerbangan di Kalimantan Barat terganggu. Di Singapura, PSI menembus 105, masuk kategori tidak sehat untuk pertama kali sejak Oktober tahun sebelumnya, sehingga otoritas meminta warga mengurangi aktivitas luar ruang. Malaysia menutup ratusan sekolah di Sarawak akibat kabut asap karhutla lintas negara. Situasi ini mengungkap paradoks: ASEAN memiliki perjanjian AATHP ASEAN yang menjanjikan perlindungan kolektif, tetapi di kelas-kelas yang kosong dan klinik yang penuh, janji itu terasa sangat jauh.

Kabut Asap Lintas Negara: Krisis yang Menguji Solidaritas ASEAN

El Niño bukan kambing hitam, melainkan alarm untuk reformasi regional

Fenomena El Niño kuat memang mengurangi curah hujan, mengeringkan vegetasi, dan membuat kebakaran lebih mudah menyebar. Namun menyalahkan cuaca berarti menutup mata dari akar masalah: lahan gambut yang dikeringkan untuk perkebunan, konversi hutan tanpa pengelolaan air yang memadai, serta pembakaran disengaja yang terus berulang di area konsesi kehutanan dan sawit. Analisis citra menunjukkan hampir setengah titik api pada akhir Agustus berada di wilayah usaha tersebut. Asia Tenggara sebenarnya sudah memiliki kerangka kerja bersama sejak 2002 melalui perjanjian AATHP ASEAN, lengkap dengan komitmen pemantauan, berbagi informasi, dan koordinasi tindakan. Masalahnya, koordinasi regional terlalu fokus pada pemadaman dan penindakan sesaat, bukan pada pencegahan sebelum musim kebakaran. Hujan akan kembali dan krisis asap Asia Tenggara akan mereda, tetapi selama tata kelola lahan, perizinan, dan penegakan hukum dibiarkan lemah, kawasan ini akan kembali “bergantung pada hujan” untuk mengakhiri musim asap yang seharusnya bisa dicegah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!