Jennie, Lisa, Jisoo dan Rosé: Saat BlackPink Menjadi Empat Kerajaan Solo

Jennie, Lisa, Jisoo dan Rosé: Saat BlackPink Menjadi Empat Kerajaan Solo
Minat|Penyanyi/Band Pop

Gelombang Solo BlackPink: Bukan Perpisahan, Tapi Ekspansi

Gelombang karier solo member BlackPink merujuk pada fase ketika Jennie, Lisa, Jisoo, dan Rosé secara bersamaan mengembangkan proyek individu—mulai dari EP, album, hingga kolaborasi global—tanpa menghentikan aktivitas sebagai grup, sehingga identitas BlackPink berubah dari sekadar girl group menjadi payung kolektif bagi empat brand pribadi yang berdiri sendiri namun tetap saling menguatkan.

Inti kisah BlackPink member solo hari ini bukan drama bubar atau girl group hiatus strategi, melainkan ekspansi kekuasaan kreatif. Untuk merayakan ulang tahun ke-10, Jennie, Lisa, dan Jisoo memilih merilis musik baru, sementara Rosé menjaga panasnya sorotan berkat kolaborasi APT bersama Bruno Mars. Keputusan ini menegaskan bahwa fase pasca-satu dekade mereka adalah tahap konsolidasi, bukan pelarian dari nama BlackPink. Mereka menandatangani kontrak grup dan sekaligus memutuskan mengejar jalur individu, menjadikan identitas BlackPink seperti label besar yang menaungi empat artis utama.

Jennie, Lisa, Jisoo dan Rosé: Saat BlackPink Menjadi Empat Kerajaan Solo

Jennie, Lisa, Jisoo: Lajur Musik Baru yang Saling Berbeda

Jennie, Lisa, dan Jisoo tidak sekadar "coba-coba" solo; mereka menata rute yang jelas dan saling kontras. Jisoo akan merilis lagu baru berjudul "Click" pada 4 September, menandai kembalinya ia ke karier solo sejak kolaborasi "Eyes Closed" bersama Zayn di Oktober 2025. Lagu tersebut menjadi bagian dari album studio solo debut yang proses video musiknya digarap oleh sutradara pemenang Grammy, Joseph Kahn, di Bangkok. Di sisi lain, Jennie menyiapkan EP digital "Fallen Angel (Digital EP)" yang rilis 28 Agustus sebelum versi fisik "Fallen Angel" dengan total 6 lagu dan pilihan spesial seperti "Sweettooth", "Lockitdown", dan "Face" untuk penggemar.

Lisa, sang maknae, mengambil jalur paling teatrikal. Ia menyiapkan single solo "SaWaDiKa" pada 3 September dan EP "Press Play" untuk 23 Oktober. Di luar pengumuman formal, Lisa sengaja memicu hype: pada 20 Agustus, ia membagikan foto liburan di Utah dengan tato baru bertuliskan "BABY" yang jelas terlihat, membuat penggemar langsung berspekulasi akan hadirnya proyek musik besar. URL di bio Instagram-nya berubah menjadi "hellosawadika.com" dan seorang teman meninggalkan emoji not musik di unggahan tersebut, memperkuat asumsi bahwa seorang K-pop idol ini sedang menyiapkan "bom" karier solo yang jauh lebih besar dari sekadar satu single.

Jennie, Lisa, Jisoo dan Rosé: Saat BlackPink Menjadi Empat Kerajaan Solo

Rosé dan APT: Mengamankan Tahta Global Tanpa Rilis Baru

Dalam narasi karier solo K-pop idol, Rosé justru menunjukkan bahwa momentum tidak selalu butuh rilis bertubi-tubi. Sementara tiga rekannya sudah menjadwalkan musik baru, Rosé belum mengumumkan perilisan berikutnya, tetapi namanya tetap menguasai percakapan berkat APT dan album "Rosie". Kolaborasi APT bersama Bruno Mars mencapai posisi ke-8 di Billboard Hot 100 dan menjadikannya artis K-pop wanita pertama yang menembus Top 10 chart bergengsi itu. Lagu yang sama memuncaki Billboard Global 200 dan diakui sebagai Lagu Global Terbaik Tahun 2025 oleh Apple Music, sementara album "Rosie" debut di nomor 3 Billboard 200 dengan 102.000 unit setara dan bertahan 27 minggu.

Prestasi ini mengubah Rosé APT kolaborasi menjadi studi kasus tentang bagaimana satu proyek dapat mengamankan reputasi jangka panjang. Di era di mana banyak idol mengejar kuantitas, Rosé memilih kualitas dan positioning: ia menempatkan dirinya sebagai penyanyi-penulis lagu yang relevan di pasar global, bukan sekadar idol yang menumpang popularitas grup. Dampaknya terhadap BlackPink member solo juga jelas—Rosé menunjukkan bahwa identitas individu bisa berfungsi sebagai mercusuar yang menerangi nama BlackPink di peta dunia, bahkan saat aktivitas grup tengah menurun intensitasnya.

BlackPink Sebagai Kolektif: Empat Brand, Satu Payung

Pertanyaan krusialnya: apakah agresifnya karier solo K-pop idol ini merusak identitas grup? Fakta di lapangan berkata sebaliknya. Album studio solo Jisoo yang akan datang justru lahir setelah keempat anggota menandatangani kembali kontrak untuk aktivitas grup dan sekaligus memutuskan mengejar jalur individu masing-masing. Menurut satu laporan, pengaruh mereka dibangun dari kombinasi kekuatan personal dan kolektif, dengan jangkauan lebih dari 412,6 juta akun di Instagram dan 151,7 juta pengikut di TikTok. Angka ini menunjukkan bahwa BlackPink kini berfungsi seperti ekosistem, bukan entitas tunggal: akun grup menguatkan akun individu, dan sebaliknya.

Satu pernyataan penting menyoroti betapa tidak lazim model ini: "Korea Selatan memiliki semangat kolektif yang sangat kuat; sebagian besar grup musik tidak memiliki satu anggota tertentu yang menonjol, tetapi BlackPink berbeda. Keempat anggotanya dipromosikan secara terpisah, sesuatu yang biasanya tidak Anda lihat di Korea Selatan." Dengan empat anggota yang masing-masing membangun kerajaan di musik, mode, akting, dan barang mewah, identitas BlackPink bergeser menjadi merek payung yang mengizinkan kemandirian, bukan mengekangnya. Hasilnya: punching power mereka sebagai girl group tetap terjaga, sementara peluang individu meroket.

Kesimpulan: Masa Depan Girl Group Ada di Model BlackPink

Gelombang BlackPink member solo saat ini bukan sekadar bab baru dalam kisah empat idol; ini blueprint yang berpotensi mengubah cara industri memandang umur sebuah girl group. Jennie, Lisa, dan Jisoo menegaskan bahwa jeda aktivitas grup bisa diisi dengan musik baru yang berani dan sangat personal, sementara Rosé menunjukkan bahwa satu proyek global macam APT dapat mengamankan relevansi tanpa harus mengejar rilis beruntun. Dalam kombinasi, keempatnya membuktikan bahwa kekuatan kolektif dapat tumbuh ketika masing-masing anggota dipersilakan berdiri sebagai brand penuh.

Masa depan karier solo K-pop idol tampak akan menuntut model yang mirip: kontrak grup yang fleksibel, promosi individu yang intens, dan kesadaran bahwa nama grup lebih kuat bila didukung empat kerajaan kecil di bawahnya. BlackPink menunjukkan bahwa pasca-satu dekade, sebuah girl group tidak harus memudar atau bergantung pada nostalgia. Mereka bisa berevolusi menjadi platform yang melahirkan bintang-bintang mandiri—dan dalam prosesnya, mendefinisikan ulang arti kesuksesan kolektif di panggung global.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!