Inti Teknologi i-DM JETOUR: Janji Besar, Ambisi Besar
Teknologi i-DM JETOUR adalah sistem plug-in hybrid pintar yang menggabungkan mesin bensin, motor listrik, baterai, dan transmisi khusus dalam satu arsitektur terintegrasi untuk memaksimalkan efisiensi energi, memperpanjang jangkauan hingga lebih dari 1.200 km, sekaligus mempertahankan performa responsif di kecepatan tinggi dan berbagai kondisi berkendara. i-DM (intelligent Dual Mode) sendiri didefinisikan sebagai teknologi sistem hibrida pintar (PHEV) garapan JETOUR yang menggabungkan mesin bensin Dedicated Hybrid Engine, transmisi Dedicated Hybrid Transmission (DHT), serta motor listrik ganda (Dual Electric Motor). Dari awal, konsepnya jelas: bukan sekadar menempelkan motor listrik pada SUV, tetapi membangun sebuah SUV hybrid pintar yang bisa dipakai harian, dipacu jauh, dan tidak membuat pengemudi sibuk mengatur mode setiap saat.

Bagaimana Hybrid Dual Mode i-DM Bekerja di Balik Layar
Kekuatan teknologi i-DM JETOUR ada pada cara semua komponennya bekerja seperti satu otak kolektif. Fondasinya adalah mesin bensin turbo 1.5 TGDI Dedicated Hybrid Engine yang memang dirancang khusus untuk sistem hybrid, dengan efisiensi termal diklaim menembus lebih dari 44,5% dan tenaga 100 kW (156 PS) serta torsi 220 Nm. Tenaga ini diteruskan ke Dedicated Hybrid Transmission (DHT) dengan efisiensi transmisi lebih dari 97,6%, yang bertugas menggabungkan tenaga mesin dan motor listrik secara seefisien mungkin. Di sisi listrik, baterai CATL LFP 18,4 kWh menyediakan jarak tempuh listrik murni hingga 90 km (siklus NEDC), cukup untuk banyak perjalanan harian tanpa menyentuh bensin. Otak pengaturnya adalah Hybrid Management System yang secara otomatis memilih skenario kerja paling efisien secara real-time.
Di sini hybrid dual mode benar-benar terasa berbeda. Dua motor listrik berbagi peran: Motor 1 berfungsi utama sebagai pengisi daya internal ke baterai, namun siap membantu dorongan ketika dibutuhkan; Motor 2 dipasang langsung di transmisi untuk mengirim torsi instan ke roda sekaligus memanen energi lewat regenerative braking saat deselerasi. Kombinasi ini membuat SUV hybrid pintar ini bisa melaju terasa gesit di tanjakan, tetap tenang di kemacetan, dan mengisi baterai sambil jalan tanpa pengemudi perlu memikirkan kapan harus berganti mode. Bukan teknologi yang tampak heboh di brosur, tetapi terasa logis di penggunaan nyata, terutama bagi mereka yang malas mengatur mode berkendara manual.
Jangkauan 1.200 Km: Angka Besar, Manfaat Lebih Besar
JETOUR berani mengklaim jangkauan lebih dari 1.200 km saat baterai dan tangki bensin terisi penuh pada T2 i-DM, berkat kombinasi baterai dan tangki bahan bakar yang dikelola sistem i-DM. Klaim ini bukan sekadar angka pemanis, karena sistem Intelligent Dual Mode mampu mempertahankan performa optimal bahkan di kecepatan tinggi jalan tol, tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar. Dengan kata lain, di skenario perjalanan antarkota padat—di mana hybrid konvensional sering kehilangan keunggulan ekonominya—i-DM justru didesain tetap efisien.
Untuk pengemudi yang rutin menempuh rute jauh, ini mengubah cara merencanakan perjalanan: lebih sedikit berhenti, lebih sedikit kecemasan tentang stasiun pengisian, dan lebih fleksibel memilih rute. Sistem hybrid JETOUR T2 i-DM mengelola tenaga secara cerdas sehingga mobil dapat tetap responsif di jalan tol namun tetap irit. Di sisi lain, jarak tempuh listrik murni sekitar 90 km memungkinkan banyak aktivitas urban dilakukan tanpa menyalakan mesin bensin sama sekali. Pada praktiknya, jangkauan 1.200 km tentu akan bergantung gaya mengemudi dan kondisi jalan, tetapi arsitektur i-DM memberi fondasi teknis yang masuk akal untuk mendekati angka tersebut, bukan sekadar gimmick pemasaran.
Pengisian Daya Cepat 27 Menit dan Fitur V2L: Bukan Sekadar Spec Sheet
Salah satu keunggulan paling terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah pengisian daya cepat. Teknologi i-DM JETOUR mendukung AC charging rumahan dan DC Fast Charging hingga 50 kW. Dengan DC Fast Charging, baterai dapat terisi dari 30% ke 80% hanya dalam 27 menit—angka yang menempatkannya di posisi unggul dibanding banyak SUV hybrid lain yang belum mengadopsi fast charging DC pada level ini. Sementara itu, pengisian AC 6,6 kW dari 30% ke 100% memakan waktu sekitar 180 menit, cocok untuk pengisian malam di rumah. Ini artinya, pengemudi punya dua pola: isi cepat saat singgah sebentar, atau isi penuh saat mobil terparkir lama.
Pengisian pasif selama berkendara pun tidak dilupakan. Baterai dapat terisi otomatis melalui regenerative braking dan drive charging, sehingga energi yang biasanya hilang saat deselerasi dan berkendara bisa dimanfaatkan kembali. Untuk gaya hidup aktif, fitur Vehicle to Load (V2L) dengan output hingga 3,3 kW mengubah mobil menjadi sumber listrik portabel, layaknya “power bank berjalan”. Peralatan camping, perangkat elektronik kerja, hingga perlengkapan rumah tangga ringan bisa dijalankan dari SUV hybrid pintar ini. Di sinilah i-DM menunjukkan bahwa efisiensi energi tidak berhenti di roda, tetapi merembet ke aktivitas di luar mobil.
T1 vs T2 i-DM: Urban Halus atau Petualang Haus Tenaga?
JETOUR tidak memaksakan satu karakter untuk semua orang. Teknologi i-DM diterapkan berbeda pada dua SUV andalan mereka: JETOUR T1 i-DM dan JETOUR T2 i-DM. Keduanya sama-sama memakai mesin turbo 1.500 cc dengan tenaga 136 PS dan torsi 220 Nm, namun pendekatan transmisi dan motor listriknya berbeda. T1 i-DM mengusung satu motor listrik dan transmisi 1-Speed DHT, dengan karakter halus, praktis, dan hemat energi—sangat cocok untuk penggunaan harian di kota padat dan perjalanan antarkota yang mengutamakan kenyamanan. “Sebaliknya, jika Anda membutuhkan mobil harian perkotaan yang menyalurkan tenaga secara linier, seamless tanpa jeda perpindahan gigi, JETOUR T1 yang memakai transmisi 1-Speed DHT, sangatlah cocok,” ungkap Irwan Nugraha Kurnia.
JETOUR T2 i-DM mengambil arah berbeda: dua motor listrik dan transmisi 3-Speed DHT, dirancang untuk pecinta adventure yang membutuhkan akselerasi responsif dan ketangguhan di berbagai medan. Bagi pengemudi yang sering melibas rute antarkota dengan ritme akselerasi padat, T2 i-DM adalah jawabannya. Keduanya tetap membawa fondasi sama: SUV hybrid pintar yang efisien dan sanggup menempuh jarak hingga lebih dari 1.200 km dengan kombinasi baterai dan bensin ketika diisi penuh. Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan apakah teknologi i-DM cukup canggih, tetapi: tipe pengemudi seperti apa Anda? Urban yang ingin semua terasa halus tanpa ribet mode, atau petualang yang ingin performa tanpa meninggalkan efisiensi dan tanpa cemas kehabisan baterai di tengah perjalanan jauh?






