Guru Informatika AI: Dari Pengajar Komputer ke Fasilitator Literasi
Guru informatika AI adalah pendidik yang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis komputer dan koding, tetapi juga membimbing siswa memahami, menilai, dan menggunakan kecerdasan buatan secara kritis, kreatif, aman, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di luar kelas. Perubahan ini menggeser fokus dari sekadar menguasai perangkat ke kemampuan bernalar dan mengambil keputusan etis terhadap teknologi.
Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membuat peran guru Informatika di sekolah semakin penting. Pertemuan MGMP Informatika Rayon Wonogiri yang digelar di SMPN 1 Wonogiri menjadi contoh bagaimana komunitas guru merespons perubahan ini dengan serius. Forum tersebut tidak lagi sekadar membahas cara mengajar komputer, tetapi juga literasi digital, etika bermedia, dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran sehari-hari. Guru informatika kini didorong menjadi pelopor digitalisasi pembelajaran dan penggerak inovasi di sekolah masing-masing.
Posisi baru ini menuntut guru berani meninggalkan identitas lama sebagai “penjaga lab komputer” dan beralih menjadi fasilitator literasi AI pendidik. Mereka diharapkan tidak hanya menguasai alat, tetapi juga memandu siswa membaca jejak digital, memahami bias algoritma, dan menyadari batas serta risiko penggunaan AI. Tanpa pergeseran peran ini, sekolah akan tertinggal dari laju teknologi yang terus mengalir masuk ke kehidupan anak.
MGMP Wonogiri: Laboratorium Mindset Baru Guru Informatika
Pertemuan MGMP Informatika di Wonogiri memperlihatkan dengan jelas bahwa literasi AI pendidik tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Pertemuan di SMPN 1 Wonogiri itu menjadi ruang berbagi pengalaman pembelajaran informatika, koding, literasi digital, etika penggunaan teknologi, hingga pemanfaatan AI dalam kelas. Di sini, guru informatika AI belajar menjadi komunitas profesional yang belajar terus-menerus, bukan sekadar pelaksana RPP.
Dalam forum tersebut, materi literasi digital ditekankan bukan hanya soal mengoperasikan perangkat, tetapi kemampuan menggunakan teknologi secara kritis, aman, bertanggung jawab, dan beretika. Pernyataan eksplisit bahwa "guru Informatika tidak lagi hanya dituntut mengajarkan keterampilan menggunakan teknologi" menjadi peringatan keras: jika guru berhenti pada level teknis, mereka akan kalah cepat dari aplikasi dan tutorial daring.
Menariknya, praktik baik yang dibagikan menunjukkan AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru. AI digunakan untuk mencari ide pembelajaran, menyusun bahan ajar, mengembangkan media digital, hingga membuat aktivitas belajar lebih interaktif. Namun proses berpikir kritis dan kreativitas tetap dijaga sebagai pusat pembelajaran. Dengan kolaborasi antarguru, MGMP ini diharapkan menjadi ruang lahirnya inovasi pembelajaran yang selaras perkembangan teknologi.
Pembelajaran Coding SD: SDN 1 Nawin Hilir sebagai Contoh Berani
Jika selama ini pembelajaran coding SD dianggap “ketinggian”, SDN 1 Nawin Hilir justru membalik anggapan itu. Sekolah ini menjadi yang pertama menerapkan pembelajaran coding dan artificial intelligence dari 2.900 sekolah dasar di Kalimantan Selatan. Keputusan berani ini mendapat dukungan penuh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) provinsi, yang melihatnya sejalan dengan program prioritas pembelajaran berbasis teknologi di tingkat sekolah dasar.
Penerapan pembelajaran coding di SD ini tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. BGTK memberikan pendampingan langsung, memastikan bahwa guru tidak sekadar menyalin materi kursus daring, tetapi membangun pengalaman belajar yang relevan bagi anak usia SD. Menurut kepala BGTK, kegiatan seperti ini sangat cocok diterapkan di sekolah-sekolah dalam rangka pembelajaran berbasis teknologi. Ini adalah contoh konkret bagaimana pembelajaran coding SD dan AI bisa turun ke kelas, bukan berhenti di dokumen kebijakan.
Harapan yang disampaikan jelas: kegiatan coding dan AI di SDN 1 Nawin Hilir tidak berhenti sebagai ekstrakurikuler, tetapi merata ke semua siswa. Artinya, literasi AI bukan hak eksklusif anak “pintar” atau klub tertentu, melainkan bagian dari hak belajar semua murid. Di sini, guru informatika AI yang mengajar di SD dihadapkan pada tantangan ganda: menyederhanakan konsep kompleks sekaligus menanamkan etika dan tanggung jawab teknologi sejak dini.
Pelatihan AI Guru di Blitar: Dari Seminar ke Praktik Sehari-hari
Transformasi guru informatika AI tidak mungkin terjadi tanpa pelatihan AI guru yang terstruktur. Short course AI untuk guru yang digelar di Blitar adalah contoh upaya menghubungkan perkembangan AI dengan kebutuhan nyata di sekolah. Kegiatan ini diadakan di sebuah edutorium kejuruan, dengan sedikitnya 50 guru mengikuti gelombang pertama pelatihan.
Melalui short course ini, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi AI untuk menunjang aktivitas mereka di lingkungan pendidikan. Materinya tidak berhenti pada pengenalan konsep, tetapi diarahkan pada bagaimana AI bisa digunakan secara tepat dalam pekerjaan sehari-hari guru. Kutipan yang patut dicatat: "Melalui Short Course AI untuk Guru, para peserta akan mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi AI untuk menunjang aktivitas mereka di lingkungan pendidikan".
Yang perlu dikritisi adalah apakah pelatihan seperti ini akan berlanjut menjadi pendampingan jangka panjang atau berhenti pada satu kali acara. Tanpa praktik berulang dan komunitas pendukung, pengetahuan AI guru akan cepat menguap. Namun, kehadiran mentor yang dinilai kompeten di bidang teknologi dan AI memberi harapan bahwa pelatihan ini dapat menjadi titik awal perubahan budaya belajar guru.
Mindset Baru: Guru sebagai Pembimbing Eksplorasi Teknologi yang Bertanggung Jawab
Benang merah dari Wonogiri, SDN 1 Nawin Hilir, dan short course di Blitar adalah kebutuhan mindset baru: guru tidak lagi menjadi penyampai konten, melainkan pembimbing eksplorasi teknologi yang bertanggung jawab. Penggunaan AI ditekankan tetap sebagai alat bantu; kreativitas, kemampuan bernalar, rasa tanggung jawab, dan proses berpikir kritis peserta didik harus tetap menjadi bagian utama pembelajaran.
Literasi digital juga ditegaskan melampaui kemampuan teknis; guru dan peserta didik perlu menggunakan teknologi secara kritis, aman, bertanggung jawab, dan beretika. Di SDN 1 Nawin Hilir, harapan agar coding dan AI tidak hanya menjadi ekstrakurikuler, tetapi merata ke semua siswa, menunjukkan orientasi baru yang inklusif terhadap pembelajaran berbasis teknologi.
Langkah-langkah ini belum sempurna, tetapi sudah memberi sinyal jelas: era guru informatika yang hanya menjaga lab komputer sudah selesai. Ke depan, yang dibutuhkan adalah guru informatika AI yang siap menjadi fasilitator literasi AI pendidik, merancang pembelajaran coding SD yang bermakna, mengikuti pelatihan AI guru secara berkelanjutan, dan berani memposisikan diri sebagai penjaga etika di tengah gempuran teknologi. Jika transformasi ini konsisten, sekolah tidak sekadar “mengikuti tren AI”, tetapi betul-betul membentuk generasi yang cerdas dan bertanggung jawab dalam berteknologi.






