Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Runway, Pameran, dan Manekin Hidup Mengubah Cara Menikmati Peragaan Mode

Runway, Pameran, dan Manekin Hidup Mengubah Cara Menikmati Peragaan Mode
Minat|Pertunjukan Busana

Satu perhelatan, tiga cara memandang busana

DEWI Fashion Knights adalah perhelatan mode pilihan Majalah DEWI yang mengapresiasi desainer melalui presentasi karya dan menjadi bagian dari Jakarta Fashion Week. Edisi 2026 menandai 35 tahun perjalanan majalah tersebut dengan membawa pengalaman mode ke Museum Nasional Indonesia. Digelar sebagai salah satu agenda puncak sekaligus penutup rangkaian Jakarta Fashion Week 2027, acara ini mempertemukan lima desainer dengan tiga pendekatan: runway, pameran, dan living mannequin. Perubahan format ini lebih dari variasi panggung. Ia menggeser cara pengunjung membaca pakaian: bukan hanya melihat tampilan akhir, tetapi juga memperhatikan gerak, konstruksi, material, dan hubungan busana dengan ruang. Pilihan itu terasa tepat untuk perayaan yang menengok perjalanan panjang sekaligus menegaskan bahwa apresiasi mode tak harus berlangsung dalam satu bentuk.

Perayaan 35 tahun memberi DEWI alasan kuat untuk memperluas format yang selama ini lekat dengan runway. Namun, nilai utamanya bukan kebaruan demi kebaruan: tiga cara presentasi memberi pengunjung kesempatan menentukan bagaimana mereka ingin mendekati karya. Hasilnya lebih menyerupai kunjungan yang mengundang pengamatan daripada tontonan satu arah.

Lima nama, tiga pengalaman

Lima desainer yang tampil ialah Hian Tjen, Sebastian Gunawan Signature, STELLARISSA, ANW, dan STUDIO JEJE HOMME. Hian Tjen dan Sebastian Gunawan Signature membawa koleksi ke runway, tempat siluet, tekstur, dan styling terbaca lewat gerak. STELLARISSA memilih pameran, memberi pengunjung ruang untuk mengamati konstruksi serta material dari dekat. Sementara itu, ANW dan STUDIO JEJE HOMME menyajikan busana melalui living mannequin: model hadir sebagai bagian dari instalasi, memperlihatkan hubungan antara tubuh, pakaian, dan ruang. Pembagian ini bukan sekadar daftar format. Runway menyampaikan kesatuan visual yang dinamis, pameran mengundang pemeriksaan detail, dan manekin hidup membuat tubuh serta ruang menjadi bagian dari pembacaan desain. Karena tiap pendekatan menawarkan pengalaman berbeda, acara ini terasa lebih kaya daripada peragaan yang hanya mengandalkan satu panggung.

Perbedaan tersebut juga mengubah peran pengunjung. Mereka bisa menikmati gerak koleksi di panggung, berhenti untuk mengamati detail di ruang pamer, atau melihat bagaimana busana berinteraksi dengan tubuh dalam instalasi. Inilah daya tarik fashion show interaktif yang tidak bergantung pada layar atau teknologi: pengalaman terbentuk dari pilihan jarak, sudut pandang, dan tempo saat menikmati karya.

Runway, Pameran, dan Manekin Hidup Mengubah Cara Menikmati Peragaan Mode

Museum sebagai bagian dari percakapan

Museum Nasional Indonesia memberi lapisan makna pada presentasi mode. Di ruang yang menyimpan jejak sejarah dan warisan budaya, karya kontemporer tidak hadir dalam ruang hampa; pengunjung diajak melihat bagaimana busana dapat berdialog dengan ingatan, identitas, dan perubahan zaman. Bersamaan dengan perhelatan ini, pameran “Waves of Weaves” menelusuri warisan tekstil Asia Tenggara, sementara “Suwung” menghadirkan kisah dan koleksi busana Gusti Nurul. Konteks tersebut membuat keberagaman presentasi terasa lebih dari soal tata acara. Pakaian dapat dibaca sebagai benda artistik sekaligus pembawa cerita, dan tempat penyajiannya ikut membentuk cara publik memahami cerita itu. Menyatukan runway, pameran, dan living mannequin di museum adalah pilihan yang memperkaya pengalaman, asalkan ruang tetap memberi perhatian pada karya dan bukan sekadar menjadi latar yang menarik.

Bagi pengunjung, pilihan format punya manfaat praktis: runway memperlihatkan bagaimana busana bergerak sebagai satu kesatuan, pameran membantu melihat detail, sedangkan sesi kuratorial dapat memperluas pemahaman terhadap karya. Kombinasi itu membuat presentasi mode lebih mudah diakses oleh orang dengan cara menikmati yang berbeda-beda. Namun, keberhasilan pendekatan ini bergantung pada kurasi yang jelas agar tiap format memiliki tujuan, bukan sekadar menjadi variasi visual.

Keberagaman lebih penting daripada satu formula

Kekuatan DEWI Fashion Knights terletak pada keberanian memperlakukan mode sebagai pengalaman yang bisa dilihat, diamati, dan ditafsirkan dalam ruang. Format runway tetap punya daya tarik karena menampilkan busana dalam gerak, tetapi pameran dan living mannequin memberi jeda untuk memperhatikan kerja desain yang sering luput saat peragaan berlangsung. Pendekatan beragam ini juga menegaskan bahwa satu format tidak harus menggantikan format lain. Ketiganya justru saling melengkapi, selama pilihan presentasi sesuai dengan karakter koleksi dan tidak mengalihkan perhatian dari gagasan perancang.

Pada akhirnya, perayaan 35 tahun DEWI di Museum Nasional Indonesia menawarkan cara yang lebih luas untuk mendekati mode: sebagai pertunjukan, objek visual, dan perjumpaan antara tubuh dengan ruang. Perpaduan itu membuat edisi 2026 terasa relevan bukan hanya sebagai penutup rangkaian pekan mode, melainkan sebagai argumen bahwa apresiasi desain layak mendapat lebih dari satu panggung. Keberagaman format adalah langkah yang patut dipertahankan ketika ia memperdalam cara orang melihat busana, bukan sekadar menambah sensasi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!