Menyusui lebih penting daripada buru-buru berdiet
ASI eksklusif adalah pilihan Amanda Manopo setelah melahirkan untuk mengutamakan pemberian ASI kepada anaknya, alih-alih segera menjalani diet demi mengembalikan bentuk tubuh sebelum hamil. Sikap ini layak dibaca sebagai penolakan terhadap tekanan agar ibu cepat kembali langsing, bukan sebagai ajakan untuk mengabaikan kesehatan diri. Amanda mengatakan tidak ingin terburu-buru menjalani program diet setelah melahirkan anak pertamanya, dan menyatakan fokusnya saat ini adalah menyusui penuh. Ia menyampaikan keputusan tersebut saat ditemui di Semanggi, Jakarta Selatan, Senin, 2 November 2026. Bagi Amanda, kesehatan dan kebahagiaan bayinya lebih bernilai daripada tekanan untuk segera berdiet. Prioritas itu memberi ruang bagi dirinya untuk menjalani peran baru tanpa menjadikan angka timbangan sebagai ukuran keberhasilan menjadi ibu.

Berat badan ibu bukan tenggat untuk kembali bekerja
Amanda mengungkapkan berat badannya naik cukup banyak selama kehamilan, dan kondisi itu membuatnya belum percaya diri untuk kembali aktif di dunia hiburan. Namun, kenaikan berat badan ibu setelah hamil tidak semestinya otomatis diperlakukan sebagai masalah yang harus segera diperbaiki. Amanda belum berencana menjalani diet untuk mengembalikan bentuk tubuh seperti sebelum hamil. Ia memilih menjaga asupan makanan demi memenuhi kebutuhan nutrisi selama menyusui. Pilihan ini mengingatkan bahwa diet setelah melahirkan bukan perlombaan dengan garis akhir berupa tubuh sebelum hamil. Kebutuhan pemulihan dan pola makan setiap ibu berbeda, sehingga langkah yang terasa tepat bagi satu orang belum tentu sesuai bagi orang lain. Yang patut dihindari adalah tekanan untuk mengubah tubuh dengan cepat tanpa mempertimbangkan kondisi ibu dan kebutuhan bayinya.

Pemulihan juga bagian dari merawat bayi
Keputusan menunda diet tidak berarti Amanda mengabaikan dirinya. Ia menikmati fase menjadi ibu sambil menjalani pemulihan pascapersalinan dan memberikan perhatian penuh kepada anaknya. Hari-harinya kini berisi rutinitas mengurus bayi, mulai dari memandikan dan menidurkan hingga menemani tumbuh kembangnya. Di tengah masa menyusui, ia juga menjaga asupan makanan agar kebutuhan nutrisi selama menyusui tetap terpenuhi. Itu adalah dampak praktis dari pilihannya: perhatian dan energi diarahkan pada kebutuhan bayi, sementara tuntutan untuk segera berdiet ditangguhkan. Tidak ada kepastian dalam sumber mengenai kapan Amanda akan mempertimbangkan diet, sehingga kesimpulan yang tepat bukan bahwa diet tak akan pernah dilakukan, melainkan bahwa saat ini ia belum menjadikannya prioritas.
Prioritas yang pantas dihormati, bukan dijadikan standar
Pilihan Amanda memberi contoh bahwa ibu dapat menolak dorongan untuk segera mengejar bentuk tubuh tertentu setelah melahirkan. Namun, pengalaman pribadinya bukan aturan yang harus diikuti semua orang: keputusan mengenai pola makan dan pemulihan sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan masing-masing ibu dan bayi. Yang patut diambil dari ceritanya adalah kebebasan menentukan prioritas tanpa rasa malu atas perubahan tubuh. Untuk Amanda, fokusnya sekarang adalah ASI eksklusif, kesehatan bayi, dan menikmati kehidupan baru sebagai ibu. Berat badan ibu tidak semestinya menjadi tolok ukur tunggal keberhasilan pemulihan atau pengasuhan. Kesimpulannya, menunda diet setelah melahirkan dapat menjadi pilihan yang masuk akal ketika perhatian utama ibu adalah menyusui dan pulih, selama keputusan tersebut sesuai dengan kondisi serta kebutuhannya.






