Gastronomi Kota Batu: Ambisi Global yang Bertumpu pada Ekosistem Lokal
Gastronomi kota adalah pembangunan ekosistem kuliner yang memadukan sejarah, identitas rasa, pelaku usaha, dan pengalaman wisata sehingga makanan tidak hanya dinikmati sebagai hidangan, tetapi sebagai destinasi budaya yang terhubung dengan narasi, tata ruang, dan ekonomi kreatif setempat. Dalam konteks Kota Batu, ambisi menjadi kota gastronomi UNESCO bukan sekadar slogan, melainkan kelanjutan dari kerja panjang pelaku usaha yang sudah menyiapkan fondasi selama satu dekade. Pemerintah kota menetapkan kuliner sebagai subsektor unggulan ekonomi kreatif dan mendaftarkan diri ke jejaring kota kreatif UNESCO bidang gastronomi, langkah yang dinilai tepat oleh PHRI karena sejalan dengan praktik di lapangan. Di sini terlihat jelas: kebijakan datang belakangan, menyusul ekosistem yang telah tumbuh dari bawah. Kota Batu tidak memulai dari nol, melainkan dari ekosistem wisata kuliner lokal yang sudah hidup dan teruji.

Satu Dekade Ekosistem Gastronomi: Dari Festival Jalanan ke Visi Kota Gastronomi UNESCO
Kekuatan utama Kota Batu hari ini adalah ekosistem gastronomi yang tumbuh organik lewat kolaborasi hotel, restoran, dan pelaku usaha kecil selama kurang lebih sepuluh tahun. Batu Street Food Festival (BSFF), yang konsisten digelar sejak 2018, menjadi katalis penting: panggung di mana potensi pangan lokal diangkat, diuji, dan dirayakan sebagai bagian dari wisata kuliner lokal. Menurut Ketua BPC PHRI Kota Batu Sujud Hariadi, langkah mengangkat subsektor gastronomi sudah dilakukan sejak satu dekade lalu melalui BSFF, sehingga ketika pemerintah menjadikannya unggulan, tugas utama kini adalah memperkuat, bukan memulai. BSFF #9 bertema “Pesta Rasa di Kota Wisata” menandai pergeseran penting: festival makanan tradisional tidak lagi sekadar menampilkan makanan kekinian, tetapi kembali ke akar dengan menantang hotel dan restoran mengolah apel—ikon pertanian Batu—menjadi saus, dessert, hingga main course berkelas. Inilah contoh konkret bagaimana festival bisa menggerakkan industri, bukan sekadar menjadi agenda seremonial.

Identitas Kuliner dan Riset Sejarah: Syarat Mutlak Menuju Standar Internasional
Jika fondasi ekosistem sudah terbentuk, tantangan berikutnya adalah memperjelas identitas kuliner yang layak dibawa ke panggung internasional sebagai kota gastronomi UNESCO. Ketua BPC HIPMI Kota Batu, Dr. M. Rizky Ramdhan, mengingatkan bahwa wisata gastronomi bukan sekadar mengajak wisatawan mencicipi makanan, melainkan mengemas kuliner menjadi tujuan wisata dengan ciri khas yang jelas. Kota Batu belum memiliki ikon kuliner sekuat Ayam Betutu di Bali atau Gudeg di Yogyakarta; nasi empok dan berbagai varian tempe seperti tempe mbeji dinilai masih terlalu universal dan belum membentuk karakter yang spesifik. Di sisi lain, warung-warung legendaris seperti Warung Sidik dan Rawon Jamiah menunjukkan bahwa memori rasa sudah ada, tetapi belum dirangkum dalam narasi sejarah yang sistematis. Riset sejarah, penggalian “DNK makanan khas”, dan pendataan komprehensif bukan pekerjaan tambahan; itu adalah syarat mutlak jika Batu ingin menjelaskan kepada dunia mengapa kulinernya layak disebut warisan, bukan sekadar menu.
Data, Narasi, dan Kolaborasi: Jalan Panjang Menuju Wisata Gastronomi Berkelanjutan
Menuju pengakuan internasional, persoalan terbesar Kota Batu bukan pada rasa, melainkan pada dokumentasi dan narasi. HIPMI menyoroti bahwa upaya mendaftarkan warisan kuliner ke UNESCO membutuhkan fondasi riset sejarah dan narasi pendukung yang mendalam, sementara kesiapan data historis masih lemah. Tanpa pendataan sistematis, sulit membuktikan keunikan dan keberlanjutan sebuah tradisi kuliner. Di sinilah kolaborasi lintas sektor menjadi kunci: PHRI sudah menggerakkan hotel dan restoran untuk mendukung penuh penguatan subsektor gastronomi sebagai unggulan ekonomi kreatif, sementara HIPMI mendorong sinergi dengan komite ekonomi kreatif dan jejaring kota kreatif lain. Wisata gastronomi berkelanjutan membutuhkan lebih dari festival makanan tradisional; ia menuntut standar, kurasi, dan cerita yang konsisten dari dapur UMKM hingga meja restoran. Tanpa itu, ambisi global akan berhenti di proposal, bukan pengakuan.
Kesimpulan: Dari Pesta Rasa ke Kota Gastronomi UNESCO
Kota Batu sudah punya satu modal penting: ekosistem gastronomi yang hidup, didukung pelaku usaha, dan diperkuat oleh festival seperti BSFF yang mengangkat pangan lokal ke panggung kota. Namun untuk melompat menjadi kota gastronomi UNESCO, fondasi rasa harus dipertebal dengan identitas, riset sejarah, dan pendataan yang rapi. Wisata kuliner lokal perlu dirancang sebagai pengalaman yang bisa diceritakan, bukan hanya disantap. Kolaborasi PHRI dan HIPMI menunjukkan arah yang tepat: gastronomi diposisikan sebagai subsektor unggulan ekonomi kreatif, dengan visi wisata gastronomi berkelanjutan yang menyatukan pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas. Pertanyaannya bukan lagi apakah Batu layak, tetapi apakah Batu siap menjelaskan, menulis, dan membuktikan keunikan kulinernya kepada dunia. Sepuluh tahun ekosistem adalah awal; dekade berikutnya harus menjadi masa konsolidasi data dan narasi.






