Dari Ranah Minang ke Panggung Kreatif Dunia
Padang UNESCO gastronomi adalah upaya Kota Padang memanfaatkan kekayaan kuliner Minangkabau dan ekosistem ekonomi kreatif untuk diakui dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO, sehingga kota ini tidak cuma dikenal sebagai tujuan wisata kuliner, tetapi juga sebagai pusat inovasi gastronomi yang menyatukan budaya, tradisi, komunitas, dan keberlanjutan dalam satu identitas kota kreatif yang utuh. Kota berjuluk Ranah Minang ini secara resmi dinyatakan lolos pada Seleksi Nasional Tahap I Pengusulan Nominasi Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/UCCN) untuk tahun 2027 melalui surat KemenEkraf tertanggal 19 Agustus 2026. Keputusan Panselnas tersebut menegaskan bahwa ambisi Padang bukan mimpi sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk merebut posisi sebagai Padang kota gastronomi dunia. Ketika banyak kota masih sibuk membangun citra pariwisata generik, Padang memilih jalur lebih spesifik: gastronomi sebagai poros utama identitas dan daya saing.

Masuk Enam Besar: Momentum Politik Gastronomi Padang
Lolos ke enam besar kota kreatif UNESCO 2027 pada seleksi nasional adalah tonggak politik gastronomi yang tidak bisa diremehkan. Padang kini berdiri sejajar dengan lima daerah lain yang tengah mengincar UCCN nominasi Indonesia, namun dengan modal yang berbeda: reputasi kuliner Minangkabau yang sudah mendunia dan ekosistem pelaku kreatif yang aktif. “Padang masuk dalam enam besar daerah yang dinyatakan lolos seleksi nasional untuk pengusulan nominasi UCCN 2027,” tertulis dalam surat resmi KemenEkraf. Di sektor gastronomi, Padang bersaing langsung dengan Kota Batu dan Kota Pangkal Pinang, sementara Bantul, Sleman, dan Yogyakarta bertarung di kategori kriya dan seni rakyat, film, dan seni media. Konstelasi ini penting: Padang bukan saja menantang kota lain, tetapi juga menantang cara lama melihat kuliner sebagai pelengkap pariwisata. Di sini, gastronomi adalah strategi pembangunan kota.
Dossier, Presentasi, dan Taruhan Reputasi Kreatif
Tahap kedua seleksi nasional UCCN adalah ujian seberapa serius Padang mengemas cerita gastronominya dalam bahasa kebijakan dan data. Setelah penilaian mendalam atas dossier pada 6–11 Agustus dan rapat pleno 12 Agustus, Panselnas kini menunggu paparan langsung Wali Kota Fadly Amran pada 2 September, yang dibatasi hanya 10 menit. Batas waktu ini memaksa Padang untuk fokus pada argumen inti: bahwa gastronomi di kota ini adalah ekosistem, bukan sekadar daftar menu. Kepala Dinas Pariwisata menegaskan bahwa dossier tahap kedua menjadi tantangan untuk memaparkan materi dengan baik, sebelum tim seleksi memverifikasi kebenaran dan kedalaman isi dokumen. Di sinilah reputasi Padang sebagai kota kreatif dipertaruhkan: apakah narasi kuliner, komunitas Bundo Kanduang, UMKM, perguruan tinggi, dan pelaku ekonomi kreatif sanggup dirangkum menjadi visi kota gastronomi dunia yang meyakinkan?
Kolaborasi Lokal Menuju Pengakuan Global
Kekuatan nyata Padang dalam kompetisi kota kreatif UNESCO 2027 justru terletak pada jaringan kolaborasi lokalnya. Pemerintah kota menegaskan bahwa keberhasilan menembus Tahap II adalah buah sinergi antara pimpinan daerah, akademisi, komunitas Bundo Kanduang, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, media, dan sektor swasta. Ini bukan sekadar daftar stakeholder; ini adalah indikasi bahwa gastronomi sudah dipahami sebagai urusan bersama, bukan proyek elit. Wali Kota Fadly Amran menyebut lolos ke tahapan berikutnya sebagai langkah yang membuat posisi Padang semakin dekat untuk menjadi kota gastronomi dunia, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membersamai upaya ini. Jika Padang gagal memanfaatkan energi kolaboratif ini, status kota kreatif akan berhenti sebagai label. Namun jika kolaborasi diikat dalam kebijakan dan program nyata, pengakuan global akan menjadi pengungkit ekonomi kreatif dan identitas budaya jangka panjang.
Tarikh 1 Oktober: Lebih dari Sekadar Pengumuman
Bagi Padang, tanggal 1 Oktober bukan hanya soal siapa yang terpilih mewakili negeri ini ke UNESCO, melainkan ujian konsistensi menjadikan gastronomi sebagai poros pembangunan kota. Dari enam peserta seleksi nasional, hanya dua daerah dari dua cabang berbeda yang akan melaju sebagai wakil resmi dalam UCCN nominasi Indonesia. Artinya, peluang Padang terbuka namun jauh dari pasti. Keberhasilan menembus Tahap II sudah menjadikan Kota Padang selangkah lebih dekat untuk mengukuhkan identitasnya sebagai salah satu poros gastronomi di jejaring kota kreatif dunia. Namun ambisi itu hanya akan bermakna jika dijadikan kompas: menguatkan kebijakan keberlanjutan pangan, memperbaiki tata ruang kuliner, memperkuat UMKM, dan menjaga tradisi kuliner Minangkabau sebagai sumber inovasi. Apapun hasil pengumuman, Padang sudah terlanjur melangkah ke panggung kota kreatif; mundur bukan lagi pilihan.






