Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Peringkat 3 di ASEAN: Alarm atau Kabar Baik untuk Budaya Membaca?

Peringkat 3 di ASEAN: Alarm atau Kabar Baik untuk Budaya Membaca?
Minat|Asia Tenggara

129 Jam per Tahun: Apa Arti Peringkat 3 di ASEAN?

Ranking membaca ASEAN adalah pemeringkatan kebiasaan membaca di negara-negara Asia Tenggara yang diukur dari rata-rata jam yang dihabiskan publik untuk membaca dalam setahun, dan digunakan sebagai indikator kasar untuk melihat seberapa jauh masyarakat menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Data terbaru menunjukkan publik menghabiskan rata-rata 129 jam per tahun untuk membaca. Angka ini menempatkan posisi di urutan ketiga dalam daftar negara paling gemar membaca di kawasan ASEAN, berdasarkan survei CEOWorld Magazine. Dalam bahasa sederhana, secara regional kebiasaan membaca tidak buruk: masih kalah dari Singapura yang memimpin dengan 155 jam dan Thailand dengan 149 jam per tahun, tetapi unggul atas Filipina, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan Brunei. Ini bukan capaian kecil; namun menyebutnya sebagai kemenangan mutlak akan menipu diri sendiri. Peringkat ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal potensi—bahwa masyarakat mau meluangkan waktu untuk membaca—ketimbang bukti bahwa budaya literasi sudah mapan.

Peringkat 3 di ASEAN: Alarm atau Kabar Baik untuk Budaya Membaca?

Membaca di ASEAN: Satu Kawasan, Kebiasaan yang Berbeda Jauh

Jika daftar negara paling gemar membaca di ASEAN disusun berdasarkan jam membaca per tahun, hasilnya menunjukkan jurang kebiasaan yang cukup lebar. Singapura berada di puncak dengan 155 jam per tahun (sekitar 6,72 buku), disusul Thailand dengan 149 jam (6,37 buku). Indonesia menyusul di posisi ketiga dengan 129 jam dan sekitar 5,91 buku per tahun. Di bawahnya berderet Filipina dan Vietnam masing-masing 123 jam, Malaysia 122 jam, lalu menurun tajam ke Kamboja (78 jam), Myanmar (74 jam), dan Brunei Darussalam yang hanya 60 jam per tahun.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa ranking membaca ASEAN bukan sekadar angka durasi, tetapi cerminan variasi literasi dan keterlibatan budaya membaca di tiap negara. Ketika satu negara mengalokasikan lebih dari dua kali lipat waktu membaca dibanding negara lain di kawasan yang sama, artinya ekosistem pengetahuan—dari akses bahan bacaan sampai tradisi intelektual—juga berlapis-lapis berbeda. Di sini, posisi tiga besar menggambarkan keterbukaan terhadap pengembangan diri, tetapi juga menegaskan bahwa persaingan regional dalam literasi masih jauh dari merata.

Antara Jam Baca, Skor Literasi, dan Kebiasaan Sehari-hari

Durasi membaca sering dipakai sebagai indikator mudah untuk menilai seberapa kuat kebiasaan membaca masyarakat. Semakin banyak waktu yang dicurahkan untuk membaca, semakin besar peluang seseorang berinteraksi dengan beragam gagasan dan informasi baru. Namun, angka jam baca adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Secara global, posisi di peringkat ke-31 dunia menurut CEOWorld Magazine menunjukkan kebiasaan membaca yang cukup kompetitif, tetapi belum menembus papan atas dunia.

Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Masyarakat 2025 mencatat skor nasional sebesar 54,8, dengan komponen pra-membaca 50,05, saat membaca 53,94, dan pasca-membaca 57,90. Angka ini mengungkap paradoks: jam membaca cukup tinggi, tetapi budaya membaca secara nasional masih dianggap rendah. Penelitian menunjukkan faktor sosial budaya menjadi penghambat utama; membaca belum menjadi rutinitas rumah tangga, masih identik dengan tugas sekolah, sementara banyak sekolah dasar bahkan belum memiliki perpustakaan yang layak. Dengan kata lain, 129 jam per tahun menunjukkan kemauan, tetapi belum menjamin kualitas pemahaman dan konsistensi kebiasaan.

Mengapa Peringkat Tinggi Belum Cukup dan Apa Langkah Berikutnya?

Ranking sebagai negara paling gemar membaca di ASEAN sering dirayakan, tetapi euforia mudah menutupi pekerjaan rumah. Durasi membaca, sebagaimana diingatkan data CEOWorld Magazine, hanyalah salah satu indikator literasi. Keberhasilan membangun budaya literasi bergantung pada kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi yang dibaca. Tanpa ini, jam baca berubah menjadi konsumsi informasi tanpa kedalaman.

Rangkaian solusi yang sudah diusulkan peneliti menunjukkan bahwa persoalan ini bisa ditangani secara praktis: pembiasaan membaca lima lembar atau lima belas menit setiap hari sebelum pelajaran dimulai; penyediaan perpustakaan keliling dua kali seminggu; program satu buku satu anak dengan tenggat satu bulan; hingga penguatan perpustakaan daerah dengan distribusi buku yang diperbarui. Di tingkat komunitas, program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) dirancang untuk menembus akar rumput dan bekerja bersama dinas perpustakaan daerah. Peringkat tiga di ASEAN seharusnya dibaca sebagai mandat: masyarakat sudah siap memberi waktu, tugas negara dan komunitas adalah memastikan waktu itu berbuah kualitas, bukan sekadar statistik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!