Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pontianak Prioritaskan Krisis Air Bersih dan Kemacetan Kota

Pontianak Prioritaskan Krisis Air Bersih dan Kemacetan Kota
Minat|Asia Tenggara

Krisis Air Bersih dan Kemacetan: Dua Wajah Satu Masalah

Krisis air bersih Pontianak dan kemacetan Pontianak adalah dua masalah infrastruktur yang saling berkaitan, karena keduanya menyentuh kebutuhan dasar warga: akses air layak minum dan mobilitas harian yang aman, lancar, serta terjangkau, sehingga kualitas hidup dan perkembangan ekonomi lokal sangat ditentukan oleh cara pemerintah menangani intrusi air laut dan jaringan transportasi kota secara konsisten dan terukur. Intrusi air laut yang mengganggu kualitas infrastruktur air baku saat musim kemarau telah memicu penurunan layanan PDAM dan memaksa pemerintah kota mencari solusi jangka pendek, menengah, dan panjang. Di saat yang sama, kemacetan yang makin parah akibat kebijakan lalu lintas dan terbengkalainya dermaga feri Bardan-Siantan menunjukkan bahwa tata kelola transportasi belum sejalan dengan kebutuhan lapangan.

Satu Meja Pemkot dan DPR: Komitmen Air Baku Harus Dibuktikan

Pertemuan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dengan Anggota Komisi V DPR RI Syarif Abdullah Alkadrie, balai kementerian, dan perangkat daerah di kantor wali kota pada Rabu 14 Oktober menjadi simbol penting: krisis air bersih Pontianak akhirnya diakui sebagai prioritas bersama, bukan sekadar masalah teknis PDAM. Menurut Edi, intrusi air laut pada musim kemarau sebelumnya telah memengaruhi kualitas air baku Perumda Air Minum, sehingga penanganan harus berjenjang dari solusi jangka pendek hingga perencanaan jangka panjang. Pernyataan bahwa "persoalan air baku ini tetap harus menjadi prioritas" bukan sekadar kutipan seremonial, melainkan janji politik yang bisa diukur dari kebijakan nyata. Penguatan layanan air bersih, termasuk peningkatan kapasitas di Pontianak Utara untuk memenuhi kebutuhan warga dan mendukung kawasan seperti Sekolah Rakyat, adalah langkah awal yang patut diapresiasi, tetapi publik berhak menuntut tenggat waktu dan transparansi pelaksanaan.

Dermaga Feri Bardan-Siantan: Simbol Kemacetan yang Dibiarkan

Berbulan-bulan tidak beroperasinya dermaga feri Bardan-Siantan akibat kerusakan adalah contoh telanjang bagaimana satu titik infrastruktur bisa menyeret kemacetan Pontianak ke level yang lebih mengganggu. Feri di rute ini punya peran strategis: ia bukan hanya moda penyeberangan warga, tetapi juga jalur alternatif bagi kendaraan besar yang melintasi kota. Ketika layanan ini berhenti tanpa kepastian, beban lalu lintas menumpuk di jalur lain, terutama di sekitar Jembatan Kapuas I. Uji coba yang membolehkan kendaraan besar melintasi jembatan tersebut justru memperlihatkan lemahnya perencanaan, karena ruas itu sudah padat dan kebijakan itu berpotensi memperparah kemacetan di kawasan sekitar jembatan. Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin wajar mendesak kepastian: pemerintah kota harus menjelaskan rencana perbaikan, skema pendanaan, dan target waktu pelaksanaan, bukan terus bersembunyi di balik alasan koordinasi dan kajian teknis.

Pontianak Prioritaskan Krisis Air Bersih dan Kemacetan Kota

Air Baku dan Transportasi: Layanan Publik Dasar yang Tak Bisa Ditawar

Kesepakatan Pemkot Pontianak dan Komisi V DPR RI untuk menyatukan langkah penguatan layanan air bersih sekaligus peningkatan kapasitas jalan dan pembangunan jaringan transportasi jangka panjang menunjukkan arah yang tepat: fokus pada layanan publik dasar dan konektivitas lokal. Namun arah saja tidak cukup; warga membutuhkan kepastian eksekusi. Penanganan intrusi air laut pada infrastruktur air baku harus berjalan paralel dengan penguatan distribusi air bersih, terutama di kawasan yang sedang berkembang seperti Pontianak Utara. Di sisi lain, percepatan perbaikan dermaga feri Bardan-Siantan bukan sekadar proyek fisik, melainkan kunci untuk mengelola beban lalu lintas di Jembatan Kapuas I dan memberi alternatif mobilitas bagi kendaraan tertentu. Jika dua agenda ini dijalankan konsisten, Pontianak bisa keluar dari pola reaktif dan mulai membangun kota yang menempatkan hak atas air bersih dan mobilitas layak sebagai fondasi pembangunan, bukan bonus ketika anggaran tersedia.

Kesimpulan: Saatnya Mengukur Komitmen, Bukan Sekadar Janji

Pontianak sedang berada di titik krusial: krisis air bersih dan kemacetan bukan lagi isu pinggiran, melainkan cermin kualitas pemerintahan. Pertemuan lintas level antara Pemkot dan DPR RI memberi harapan bahwa intrusi air laut dan infrastruktur air baku akan ditangani dengan rencana berlapis dan koordinasi yang lebih rapi. Di sisi lain, tekanan DPRD terhadap pemerintah kota terkait dermaga feri Bardan-Siantan menegaskan bahwa publik tidak mau lagi menerima ketidakpastian sebagai jawaban atas masalah mobilitas. Ke depan, ukuran keberhasilan bukan pada banyaknya rapat atau dokumen perencanaan, tetapi pada dua hal sederhana: air bersih mengalir stabil ke rumah warga, dan perjalanan melintasi kota tidak lagi terjebak dalam kemacetan yang sebetulnya bisa diurai. Jika pemerintah mampu menjawab dua kebutuhan dasar ini, barulah komitmen yang hari ini diklaim sebagai prioritas layak disebut sebagai kemajuan, bukan sekadar retorika.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!