Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Krisis Irigasi Berkepanjangan: Petani Terjepit Antara Saluran Rusak dan Anggaran Terpangkas

Krisis Irigasi Berkepanjangan: Petani Terjepit Antara Saluran Rusak dan Anggaran Terpangkas
Minat|Asia Tenggara

Krisis Irigasi: Ketika Saluran Rusak Menjadi Ancaman Nyata Ketahanan Pangan

Krisis irigasi adalah kondisi ketika infrastruktur irigasi daerah—mulai dari saluran, bangunan air, hingga jaringan distribusi—tidak lagi mampu mengalirkan air secara andal dan merata ke lahan pertanian, sehingga memicu krisis air petani, penurunan produksi, dan alih fungsi lahan secara luas, terutama saat musim kemarau pertanian memuncak dan kemampuan pemerintah memperbaiki jaringan irigasi terbatas oleh anggaran perbaikan irigasi yang terpangkas. Di Karawang, Magetan, hingga Simalungun, gambaran ini bukan teori, melainkan realitas di sawah dan kebun. Petani dipaksa menyesuaikan pola tanam, mengurangi musim tanam, atau meninggalkan padi sama sekali. Ketika jaringan irigasi rusak dibiarkan berlarut, kita sesungguhnya sedang merelakan ketahanan pangan melemah pelan-pelan.

Karawang: Normalisasi Tambun Bukti Bahwa Saluran Bisa Diselamatkan Kalau Ada Kemauan

Di Karawang, kita melihat contoh kontras: ketika negara turun tangan serius, jaringan yang tersendat bisa kembali hidup. Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Citarum melakukan normalisasi Saluran Sekunder Tambun di Desa Karyamakmur, Kecamatan Batujaya, untuk memperlancar irigasi ke 875,68 hektare sawah yang kekeringan. Normalisasi sepanjang sekitar 3.500 meter ini dimulai 28 Agustus dan ditargetkan selesai 15 Oktober, dengan pemantauan sampai tuntas. Pernyataan Menteri PU bahwa penanganan kekeringan harus cepat dan terukur bukan sekadar kalimat seremonial; normalisasi ini menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur irigasi daerah yang dirawat berkala. Tanpa pengerukan sedimen dan vegetasi air, kapasitas saluran turun dan air yang sedikit di musim kemarau tidak pernah sampai ke petani hilir. Karawang menunjukkan bahwa krisis air petani bukan takdir, melainkan soal prioritas kebijakan.

Empat Lawang dan Simalungun: Petani Hilir Menanggung Beban Jaringan Irigasi Rusak

Berbeda dengan Karawang, di banyak daerah lain krisis ini dibiarkan menggerogoti ruang hidup petani. Di Daerah Irigasi Tanjung Ning, Kecamatan Saling, persoalan jaringan irigasi kembali menjadi sorotan karena air tidak mengalir merata, terutama ke wilayah hilir. Keluhan disuarakan Sopian Ardi dalam sidang Komisi Irigasi di aula BAPPEDA dan Litbang pada 3 September, menegaskan bahwa petani hilir telah kesulitan pasokan air selama sekitar empat hingga lima tahun dan mulai mengalihfungsikan sawah menjadi perkebunan sawit. Pola serupa terjadi di Nagori Silaumalaha, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, di mana saluran irigasi yang diperkirakan mengairi 30 hektare lahan puluhan tahun tak kunjung diperbaiki. Akibatnya, petani meninggalkan padi, bertahan dengan palawija yang hasilnya buruk, bahkan beralih ke tanaman keras seperti kelapa sawit. Dalam dua kasus ini, ketidakpastian air memaksa petani mengubah lanskap pangan menjadi lanskap komoditas jangka panjang demi bertahan.

Magetan: Anggaran SDA Terpangkas, Musim Kemarau Menguji Kepedulian Pemerintah Daerah

Contoh paling terang bagaimana kebijakan anggaran bisa memperparah krisis air petani terlihat di Magetan. Memasuki musim kemarau di awal September, kebutuhan perbaikan jaringan irigasi meningkat, tetapi anggaran Bidang Sumber Daya Air DPUPR tersisa sekitar Rp7 miliar, turun dari kisaran Rp15–20 miliar sebelumnya. Efisiensi ini memaksa pemerintah melakukan perbaikan berbasis skala prioritas, sementara jaringan irigasi yang bocor atau rusak membuat air yang seharusnya mengaliri sawah terbuang di perjalanan. Tambahan anggaran melalui P-APBD pun lebih diprioritaskan untuk jalan rusak, bukan saluran air. Dukungan pusat melalui rehabilitasi Dam Jejeruk dan pembangunan sumur jelas penting, tetapi tidak bisa menutup fakta bahwa di tingkat daerah, infrastruktur irigasi daerah masih dianggap sekunder dibanding infrastruktur transportasi. Ketika musim kemarau pertanian mengencangkan krisis, skala prioritas yang mengabaikan saluran air adalah contoh salah baca situasi.

Tanpa Normalisasi Menyeluruh dan Pemerataan Anggaran, Ketahanan Pangan Hanya Slogan

Benang merah dari Karawang, Empat Lawang, Simalungun, dan Magetan jelas: normalisasi saluran irigasi dan rehabilitasi jaringan harus menjadi prioritas nyata, bukan janji di Musrenbang. Di Karawang, normalisasi SS Tambun diintegrasikan dalam upaya menjaga layanan irigasi dan ketahanan pangan. Di Magetan, pemerintah mengakui perbaikan jaringan irigasi di tengah kemarau adalah faktor penting agar ketersediaan air tetap terjaga dan beban petani tidak makin berat. Namun keluhan tokoh masyarakat di Silaumalaha terhadap dana mitigasi ratusan miliar yang tidak merata menunjukkan persoalan lain: pemerataan anggaran perbaikan irigasi yang lemah. Selama petani hilir mengalami krisis air petani yang kronis, dan lahan terus beralih fungsi ke sawit demi bertahan hidup, kita sedang gagal menjaga basis pangan. Kesimpulannya tegas: memperbaiki jaringan irigasi rusak dengan anggaran yang adil dan menyeluruh adalah syarat minimum, bukan tambahan, jika ketahanan pangan ingin lebih dari sekadar kata-kata.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!