Budaya Literasi Madrasah: Bukan Program Tambahan, Melainkan Identitas
Budaya literasi madrasah adalah cara berpikir dan pola kerja seluruh warga madrasah yang menjadikan membaca, menulis, berkarya, dan berdiskusi sebagai kebiasaan sehari-hari, terintegrasi dalam pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan kehidupan sosial sehingga melahirkan prestasi, karakter, dan kepekaan terhadap perubahan zaman. Di Aceh Besar dan Sabang, budaya ini tidak berhenti pada slogan; ia menjelma menjadi penghargaan festival literasi, naskah antologi, hingga konten video kreatif. Fakta bahwa siswa ibtidaiyah mampu meraih prestasi siswa nasional, sementara siswa dan guru di tingkat tsanawiyah menembus panggung apresiasi, menunjukkan satu hal: literasi yang dikelola dengan serius akan berbuah pencapaian kolektif, bukan sekadar lomba insidental. Pertanyaannya, apa strategi yang membuat beberapa madrasah mampu melompat lebih jauh dibanding yang lain?
MIN 27 Aceh Besar: 11 Penghargaan Nasional dari Literasi yang Dikelola Sistemik
MIN 27 Aceh Besar menjadi bukti bahwa madrasah dasar pun bisa menguasai panggung Festival Literasi Nasional. Madrasah ini menyabet 11 penghargaan tingkat nasional dalam berbagai kategori pada ajang Festival Literasi Nasional Nyalanesia. Ini termasuk Juara 1 Website Literasi Nasional, predikat Sekolah Penggerak Literasi, Sekolah Berdedikasi Literasi Nasional, hingga berbagai nominasi sekolah percontohan literasi sains, digital, budaya & kenegaraan, finansial, serta keterlibatan 100 penulis siswa terbaik dan 100 penulis guru terbaik tingkat nasional. "Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 27 Aceh Besar menyabet 11 penghargaan tingkat nasional dalam berbagai kategori" adalah pernyataan yang menegaskan bahwa capaian ini bukan kebetulan. Penguatan literasi di madrasah diakui sebagai bagian penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membangun generasi kreatif serta adaptif terhadap perkembangan zaman.
Kunci utama keberhasilan ini bukan hanya program pembinaan literasi, tetapi konsistensi dan kerja kolektif. Kepala kantor agama setempat menegaskan bahwa keberhasilan madrasah tidak terlepas dari kerja keras kepala madrasah, guru, siswa, dan dukungan masyarakat dalam membangun budaya belajar yang konsisten. Artinya, literasi dikelola sebagai ekosistem, bukan acara tahunan. Kepala madrasah bahkan menyebut penghargaan ini sebagai “cambuk semangat” untuk terus menyalakan api literasi di madrasah. Strategi MIN 27 jelas: memadukan pengelolaan website literasi, program penulisan siswa dan guru, serta integrasi berbagai jenis literasi (sains, digital, finansial, budaya) hingga menjadi identitas madrasah. Inilah contoh budaya literasi madrasah yang terstruktur dan terukur, bukan sekadar gerakan spontan.

MTsN Sabang: Komitmen Panjang, Antologi, dan Distribusi Penghargaan
Jika MIN 27 menonjol lewat festival nasional, MTsN Sabang menunjukkan wajah lain budaya literasi: konsistensi pembinaan yang melahirkan karya. Komitmen madrasah ini dalam membangun budaya literasi kembali membuahkan hasil melalui pembinaan berkelanjutan yang mengantarkan murid menerbitkan karya dalam Naskah Antologi FL Aceh #1 bertema kearifan lokal. Sebanyak 50 murid menjadi penulis antologi yang diterbitkan oleh program Nyalanesia, dengan karya berjudul “Sketsa Sabang dari Murid untuk Dunia” yang mengangkat budaya dan kearifan lokal. Ini bukan sekadar prestasi siswa nasional, tetapi bentuk penguatan identitas daerah melalui tulisan. Zharifah Ramadhannyah, Muhammad Fitra, dan Khalisa Reeta Annisa dianugerahi sebagai Penulis Terbaik I, II, dan III, memperlihatkan bagaimana penghargaan festival literasi bisa didistribusikan ke banyak peserta didik, bukan hanya satu juara tunggal.
Strategi MTsN Sabang khas: literasi bukan tugas individu, melainkan kerja komunitas. Penghargaan Guru Aktif Literasi Sekolah diberikan kepada sejumlah guru, sementara kepala madrasah dianugerahi sebagai Kepala Madrasah Aktif Literasi, dan lembaga memperoleh predikat Sekolah Aktif Literasi. Ini menunjukkan program pembinaan literasi yang memposisikan guru sebagai role model, bukan sekadar pengawas tugas. Menurut pimpinan madrasah, tujuan budaya literasi bukan hanya menghasilkan prestasi, tetapi membentuk karakter peserta didik yang gemar membaca, mampu berpikir kritis dan kreatif, serta peduli memperkenalkan potensi daerah melalui karya tulis. Melalui berbagai capaian tersebut, madrasah ini menegaskan bahwa literasi bukan hanya kegiatan membaca dan menulis, melainkan budaya yang melahirkan generasi berprestasi dan berkarakter.
MIN 8 Aceh Besar: Video Konten Literasi sebagai Wajah Literasi Digital
Di tengah dominasi teks, MIN 8 Aceh Besar memilih jalur berbeda: menguatkan literasi lewat konten video. Madrasah di Kecamatan Peukan Bada ini meraih Juara 1 Lomba Video Konten Literasi dalam rangka Festival Literasi Aceh yang diselenggarakan oleh dinas perpustakaan dan kearsipan sebagai upaya mendorong kreativitas dan budaya literasi generasi muda. Video yang disutradarai Ziadul Maulidi dengan Zalia Milada sebagai pemeran utama menjadi bukti bahwa literasi digital tidak kalah penting dibanding tulisan. Prestasi ini membuka jalan MIN 8 untuk mewakili provinsinya ke tingkat nasional sebagai Juara 1 tingkat Aceh. Bagi madrasah, capaian ini diakui bukan sekadar raihan juara, melainkan momentum untuk memperkuat budaya literasi di lingkungan madrasah melalui media yang dekat dengan dunia anak.
Yang menarik, pimpinan madrasah menegaskan bahwa prestasi ini menunjukkan siswa madrasah punya potensi besar dalam kreativitas, literasi, seni, dan produksi konten positif. Fokusnya bukan berhenti pada piala, tetapi mempersiapkan tim menghadapi kompetisi tingkat nasional dan menjadikan pengalaman ini pemicu keberanian siswa untuk terus berkarya. Budaya literasi madrasah di sini bergerak ke ranah multimedia: membaca naskah, menulis skenario, berlatih akting, dan mengolah pesan dalam bentuk audio-visual. Ini sejalan dengan tren literasi modern yang menuntut kemampuan memahami dan memproduksi berbagai bentuk teks. Dengan kata lain, MIN 8 menunjukkan bahwa program pembinaan literasi yang peka terhadap zaman akan lebih mudah menarik minat siswa dan sekaligus menguatkan posisi madrasah dalam lomba literasi nasional.

Pelajaran Strategis: Literasi Terintegrasi, Pembinaan Berkelanjutan, dan Arah ke Depan
Tiga contoh madrasah di atas menyampaikan pesan yang sama: penghargaan festival literasi bukan hasil proyek kilat, melainkan buah dari budaya literasi terintegrasi dan program pembinaan literasi yang berkelanjutan. Penguatan literasi di madrasah dinyatakan sebagai bagian penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membangun generasi kreatif serta adaptif terhadap perkembangan zaman. MTsN Sabang secara eksplisit menegaskan bahwa literasi merupakan budaya yang melahirkan generasi berprestasi, berkarakter, serta siap membawa nama baik madrasah dan daerah. Sementara itu, MIN 8 mengartikan kemenangan video konten sebagai momentum memperkuat budaya literasi, bukan garis akhir.
Ke depan, arah yang diambil ketiga madrasah ini cukup jelas. MIN 27 memandang penghargaan nasional sebagai cambuk untuk terus menyalakan api literasi di madrasah. MTsN Sabang memperkuat ekosistem dengan memberi ruang penghargaan merata bagi murid dan guru, menjaga komitmen jangka panjang. MIN 8 tengah bersiap menghadapi kompetisi tingkat nasional dan menggunakan pengalaman produksi video untuk menginspirasi siswa berani bermimpi dan mengembangkan potensi. Jika pola ini diadopsi madrasah lain, budaya literasi madrasah tidak lagi dipahami sebagai kewajiban administratif, melainkan strategi utama meraih prestasi siswa nasional, membangun karakter, dan menjawab perubahan zaman.






