Sastra hadir di luar halaman buku
LitFest adalah festival literasi sekolah yang menjadikan sastra sebagai pengalaman belajar bersama melalui karya kreatif, kolaborasi, dan ekspresi siswa, bukan semata-mata materi yang dibaca di kelas. Gagasan itu terlihat dalam LitFest 2026—Jejak Sastra Nusantara, yang digelar SMP ABBS Surakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026, di rooftop sekolah. Diselenggarakan OSIS, kegiatan pukul 07.00–13.50 WIB ini mengajak siswa mengenal kekayaan sastra lewat dekorasi kelas, stan LitFest, seminar, dan lomba baca puisi. Pilihan tersebut penting: sastra lama akan terasa jauh bila hanya disajikan sebagai nama angkatan dan teks untuk dihafal. Ketika siswa menata ruang, menyampaikan gagasan, dan tampil membacakan puisi, jejak sastra menjadi sesuatu yang dapat mereka alami dan tafsirkan sendiri.
Kreativitas menjadi jalan merawat warisan
Tema “Mencintai Bahasa Melalui Sastra Lama” memberi arah yang jelas: mendekatkan bahasa dan sastra kepada kehidupan siswa melalui kreativitas, kolaborasi, dan suasana belajar yang menyenangkan. Dekorasi kelas bergaya vintage meminta tiap kelas menerjemahkan tema ke dalam konsep visual, sementara stan LitFest memberi ruang untuk menyajikan gagasan dengan cara interaktif. Inilah kekuatan kreativitas siswa SMP: mereka tidak hanya menerima warisan sastra, tetapi ikut memberi bentuk baru pada cara warisan itu dikenali. Busana bernuansa vintage turut membangun suasana, tetapi nilai utamanya bukan pada kostum. Yang lebih berarti ialah proses mencipta bersama dan menemukan bahwa sastra Nusantara dapat hadir di lingkungan sekolah tanpa kehilangan daya tariknya bagi generasi muda.
Membaca, memahami, lalu berani bersuara
Lomba baca puisi memberi kegiatan literasi siswa dimensi yang lebih personal. Peserta membawakan puisi pilihan dari Angkatan 45, Angkatan 50, atau Angkatan 66, dengan lagu pengiring untuk mendukung suasana dan penghayatan. Tantangannya bukan sekadar tampil di depan audiens: siswa perlu memahami pesan, meresapi makna, lalu menyampaikan emosi yang terkandung dalam karya. Seminar literasi bersama Imamah Fikriyati Azizah, guru Bahasa Indonesia dan pengelola rumah baca, melengkapi pengalaman itu dengan pembahasan tentang literasi yang melampaui membaca dan menulis. Perpaduan praktik dan pemahaman ini membuat festival lebih bernilai daripada acara seremonial. Siswa berlatih kepekaan, keberanian berekspresi, dan apresiasi terhadap bahasa melalui keterlibatan langsung.
Agenda tahunan yang layak diteruskan
LitFest juga mengajarkan bahwa belajar dapat berlangsung melalui tanggung jawab nyata. Siswa OSIS merencanakan, mengoordinasikan, dan menjalankan acara, sedangkan siswa lain mendapat ruang untuk berkreasi dan berkolaborasi. Pembina OSIS Arvin menjelaskan bahwa festival ini dirancang sebagai sarana pembelajaran melalui keterlibatan langsung, bukan sekadar perayaan literasi. Karena itu, statusnya sebagai agenda tahunan patut dipertahankan: konsistensi memberi kesempatan lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan membangun kebiasaan membaca, berkarya, serta mengapresiasi sastra. Tentu, ukuran keberhasilannya bukan hanya ramai pada hari pelaksanaan, melainkan apakah rasa ingin tahu dan kegiatan literasi berlanjut setelah festival usai. Dengan menjadikan kreativitas sebagai pintu masuk, SMP ABBS Surakarta menunjukkan cara yang relevan untuk merawat sastra Nusantara: membuatnya dekat, dapat disentuh, dan diteruskan oleh generasi muda.






