Penambahan armada untuk menjaga pasokan
Distribusi BBM adalah rangkaian pengiriman bahan bakar dari terminal ke SPBU yang harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tiap wilayah agar pasokan tersedia serta layanan tetap berjalan. Pertamina Patra Niaga mengintensifkan penyaluran dengan tambahan 72 mobil tangki di Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Lampung untuk mempercepat pengiriman dan mengurangi hambatan layanan bagi masyarakat. Langkah ini penting, tetapi penambahan armada bukan jawaban tunggal: kelancaran juga bergantung pada kesiapan terminal, jadwal pengiriman, dan akses menuju lokasi. Karena itu, distribusi BBM Pertamina turut mencakup optimalisasi operasional terminal dan SPBU serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat terkait. Ukuran keberhasilan akhirnya bukan banyaknya kendaraan yang dikerahkan, melainkan apakah BBM tiba di SPBU yang membutuhkan sebelum antrean kembali memanjang.

Rincian penguatan di tiga wilayah
Penambahan armada dibagi mengikuti kebutuhan setempat. Jawa Timur menerima 41 mobil tangki melalui skema spot carter dengan kapasitas angkut total 1.184 kiloliter. Sejumlah terminal di wilayah itu beroperasi 24 jam, sementara layanan di 17 SPBU juga dioptimalkan agar beroperasi sepanjang hari. Sulawesi Utara mendapat 11 mobil tangki berkapasitas total 200 kiloliter, dan jam operasional Integrated Terminal Bitung diperpanjang menjadi 24 jam. Di Lampung, ditambahkan 20 mobil tangki dengan kapasitas 320 kiloliter; pasokan 120 kiloliter dari Integrated Terminal Palembang juga dialihkan untuk mendukung distribusi. Rincian tersebut menunjukkan bahwa truk tangki BBM hanya satu bagian dari respons: jam operasi terminal dan pengalihan pasokan ikut menentukan seberapa cepat kebutuhan SPBU dapat dipenuhi.

Antrean turun, tetapi pemantauan harus berlanjut
Pemantauan operasional pada Selasa, 27 Oktober 2026, menyebut antrean di Bali, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara telah kembali terkendali, sedangkan Lampung dan Gorontalo menunjukkan tren penurunan. Perbedaan kondisi ini menjadi alasan penanganan tidak bisa disamaratakan. Menurut Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, tantangan di lapangan mencakup kenaikan permintaan, jarak tempuh, medan sulit, dan kendala akses kapal menuju terminal tertentu. Perusahaan menyatakan pemantauan pasokan dan kondisi SPBU akan diteruskan, dengan pengiriman diprioritaskan sesuai kebutuhan dan dipantau hingga BBM diterima serta dibongkar di SPBU. Bagi pengendara, pasokan BBM SPBU yang lebih terjaga berarti peluang layanan kembali lancar; masyarakat juga diimbau membeli sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Kesimpulannya, tambahan armada memberi ruang bagi distribusi untuk mengejar kebutuhan di wilayah yang mengalami tekanan, dan laporan antrean yang mulai terkendali merupakan perkembangan positif. Namun, klaim kelancaran perlu terus diuji lewat ketersediaan BBM di SPBU, bukan hanya jumlah mobil tangki yang dikerahkan. Pemantauan berkelanjutan dan penyesuaian pengiriman tetap menjadi kunci agar antrean SPBU tidak kembali meningkat.






