Kesehatan mental bencana alam: luka yang tak terlihat
Kesehatan mental bencana alam adalah kondisi psikologis individu dan komunitas yang terpapar kejadian ekstrem seperti gempa, yang memicu stres hebat, kehilangan, dan rasa tidak aman berkepanjangan, sehingga menuntut dukungan psikologis penyintas gempa yang terencana agar trauma pasca-bencana tidak mengganggu fungsi hidup mereka sehari-hari. Bencana alam seperti gempa bumi tidak hanya merenggut harta benda dan menyebabkan luka fisik, tetapi juga dapat meninggalkan trauma dan gangguan psikologis bagi para penyintas. Ignoransi terhadap dimensi ini adalah kesalahan kebijakan yang mahal. Ketika sirene berhenti dan puing mulai dibersihkan, ketakutan, mimpi buruk, dan rasa bersalah sering baru muncul. Di titik itulah respons kesehatan jiwa menentukan: apakah penyintas kembali bangkit, atau tenggelam dalam kecemasan dan depresi yang tak tertangani.
160 tenaga kesehatan mental: sinyal perubahan arah respons bencana
Pengiriman 160 tenaga cadangan kesehatan (TCK) batch 2 ke NTT adalah sinyal jelas bahwa negara mulai menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas dalam penanganan gempa. Ratusan tenaga ini secara eksplisit difokuskan pada pemulihan kesehatan mental dan psikososial masyarakat yang terdampak gempa dahsyat. Pernyataan Plt Kepala Pusat Krisis Kesehatan yang menyebut pendekatan batch 2 "lebih kepada psikososial" menunjukkan pergeseran paradigma: dari sekadar menyelamatkan nyawa, menjadi memulihkan keberfungsian manusia secara utuh.
Pengiriman 160 TCK ini melengkapi 206 personel batch 1 yang sebelumnya dikirim, sehingga total tenaga yang dikerahkan mencapai ratusan orang. Ini bukan angka kecil, dan seharusnya dibaca sebagai investasi jangka panjang untuk mencegah krisis kesehatan jiwa massal. Salah satu tenaga, dr Shaldy Syifa Azzahri, menegaskan bahwa tugas mereka bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan fisik, tetapi juga memulihkan kesehatan psikologis penyintas. Ini seharusnya menjadi standar baru setiap kali kita berbicara tentang trauma pasca-bencana.
Bekerja dari tenda dan rumah sakit lapangan: layanan jiwa di tengah keterbatasan
Idealnya, dukungan psikologis penyintas gempa diberikan di ruang konseling yang tenang; realitasnya, tenaga kesehatan mental di NTT bekerja dari puskesmas terdampak dan rumah sakit lapangan di wilayah seperti Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Fasilitas darurat berarti ruang terbatas, privasi minim, dan antrean panjang pasien fisik. Namun justru di ruang sempit itu, percakapan-percakapan penting tentang rasa takut, duka, dan kehilangan berlangsung.
Selama masa tanggap darurat, Dinas Kesehatan setempat memperkuat pelayanan dengan mobilisasi tenaga kesehatan dan relawan ke berbagai wilayah terdampak, termasuk 665 relawan dalam 42 tim yang ditempatkan di titik-titik layanan kesehatan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar tetap tersedia, terutama bagi masyarakat di pengungsian. Di tengah situasi ini, respons kesehatan jiwa tidak bisa berdiri sendiri; ia harus terjalin dengan layanan medis, surveilans penyakit menular, dan upaya mencegah kejadian luar biasa di lokasi pengungsian.
Koordinasi lintas lembaga: menyambung layanan hingga pelosok
Menghadapi trauma pasca-bencana di wilayah terpencil tanpa koordinasi lintas lembaga adalah langkah setengah hati. Dinas Kesehatan wilayah terdampak menegaskan perlunya pendampingan psikologis berkala bagi tenaga kesehatan sendiri, melalui pelibatan psikolog, konselor, dan tim kesehatan jiwa di lapangan. Secara paralel, mereka mengusulkan pengiriman TCK-EMT, tim pendampingan psikologis bagi korban, penguatan Health Emergency Operation Center, serta penanggulangan terpadu penyakit berpotensi KLB.
Sesuai standar WHO, para nakes bertugas selama 14 hari sebelum rotasi, dengan penempatan yang mengikuti masa tanggap darurat yang bisa diperpanjang sesuai perkembangan di lapangan. Kutipan yang layak digarisbawahi adalah: "Sebanyak 665 relawan yang tergabung dalam 42 tim telah diterjunkan ke sejumlah titik pelayanan kesehatan di kabupaten terdampak". Tanpa koordinasi yang rapi antara pusat, provinsi, dan fasilitas di lapangan, angka-angka ini hanya menjadi statistik, bukan jaminan bahwa setiap penyintas di desa terpencil mendapat dukungan psikologis yang layak.
Menjaga yang menjaga: tenaga kesehatan juga penyintas
Satu titik lemah respons kesehatan jiwa selama ini adalah anggapan bahwa tenaga kesehatan kebal terhadap trauma. Padahal mereka juga manusia yang menyaksikan kematian, kepanikan, dan kehilangan setiap hari. Pemerintah daerah menekankan bahwa trauma healing jangan hanya diberikan kepada masyarakat korban; tenaga kesehatan di garis depan juga perlu pendampingan karena menghadapi kelelahan fisik dan mental berkepanjangan.
Pengalaman pribadi beberapa TCK, seperti dokter yang pernah menjadi korban gempa sebelumnya, memperlihatkan bahwa sebagian tenaga datang dengan memori bencana mereka sendiri. Tanpa dukungan, memori itu bisa kembali terbuka di tengah tugas. Di balik layanan kepada masyarakat, ada manusia yang butuh perlindungan dan ruang pulih. Jika kita ingin respons kesehatan jiwa yang konsisten, kita harus mulai mengakui satu hal sederhana: tenaga kesehatan mental bukan hanya penolong, mereka juga penyintas. Kebijakan pasca-gempa yang abai pada kenyataan ini berisiko melelahkan garda depan sampai habis sebelum pemulihan benar-benar selesai.






