Strategi grup perlu lebih dari sekadar koordinasi
Strategic holding adalah perusahaan induk yang mengarahkan portofolio dan menyelaraskan strategi entitas dalam grup agar kekuatan masing-masing menghasilkan nilai bersama. Peran itu menjadi inti dari langkah Telkom menyusun arah bisnis Telkom hingga 2030: bukan sekadar mengawasi anak usaha, melainkan memastikan investasi dan kemampuan operasional grup bergerak ke tujuan yang saling menguatkan. Melalui Portfolio Forum di Telkom Landmark Tower, Jakarta, manajemen Telkom dan direksi operating company (OpCo) membahas penyelarasan portofolio seluruh ekosistem TelkomGroup. Langkah ini masuk akal ketika kebutuhan layanan digital meluas, dari konektivitas dan pusat data hingga solusi bagi korporasi dan pemerintah. Namun, forum hanya akan bernilai jika pembagian peran menghasilkan keputusan yang jelas, mengurangi tumpang tindih, dan membuat setiap entitas bertanggung jawab atas kontribusinya. Di situlah peran strategic holding Telkom seharusnya diuji: melalui hasil orkestrasi, bukan banyaknya agenda koordinasi.

Peta jalan sampai 2030 harus mengarahkan pilihan investasi
Dalam Portfolio Forum, Telkom membahas Group Portfolio Strategic Orchestration (GPSO) 2026–2030 sebagai kerangka strategi bersama untuk mengembangkan bisnis seluruh entitas hingga 2030. Kerangka tersebut memberi arah, tetapi nilai strategisnya bergantung pada bagaimana Telkom menerjemahkan prioritas grup menjadi pilihan portofolio dan investasi yang disiplin. Forum ini menjadi sarana untuk mengorkestrasi bisnis, menyelaraskan kontribusi OpCo, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya; tanpa kejelasan tentang siapa melakukan apa, penyelarasan berisiko berhenti sebagai dokumen. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menegaskan bahwa peran perusahaan induk ialah mengorkestrasi kekuatan grup agar bergerak dalam satu arah. Itu adalah prinsip yang tepat, terutama saat kebutuhan konektivitas, pusat data, dan layanan digital terus berkembang. Tantangan berikutnya ialah menjaga GPSO tetap menjadi panduan keputusan, bukan sekadar target waktu. Arah bisnis Telkom akan lebih meyakinkan bila keterpaduan strategi tercermin dalam pelaksanaan dan kontribusi tiap entitas.

ESG perlu melekat pada operasi sehari-hari
Agenda ESG Telkom memperoleh bentuk yang lebih nyata melalui keanggotaan United Nations Global Compact (UNGC), yang ditandai penyerahan sertifikat pada 22 Oktober, serta program Zero Waste to Landfill bersama Waste4Change di The Telkom Hub, Jakarta. Kedua inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya memasukkan prinsip keberlanjutan ke tata kelola dan kegiatan operasional. Keanggotaan global dapat mempertegas arah dan standar perusahaan, tetapi kredibilitasnya tetap ditentukan oleh praktik yang konsisten. Dalam program Zero Waste to Landfill, sampah dipilah sejak sumber agar bahan yang masih dapat dimanfaatkan atau diolah tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir. Karyawan, petugas kebersihan, dan mitra pengelola terlibat dalam pemilahan hingga pengolahan, dengan prosedur untuk mencegah sampah yang sudah dipilah tercampur kembali. Ini pendekatan yang lebih kuat daripada menjadikan ESG sebagai pernyataan reputasi: tanggung jawab dibawa ke proses kerja, tempat hasilnya bisa dinilai.
Ukuran keberhasilan ada pada konsistensi
Skala pengelolaan sampah di The Telkom Hub memperlihatkan mengapa pemilahan dari sumber perlu menjadi kebiasaan, bukan kegiatan sesaat. Pada Januari hingga Juni 2026, volume sampah bulanan di lokasi itu berkisar antara 14.604 kg dan 30.334 kg; angka tertinggi tercatat pada Februari. Telkom bekerja sama dengan Waste4Change sebagai mitra pengelolaan sampah sejak 7 Oktober 2026. Pembatasan sampah yang dapat dibuang ke TPST Bantargebang turut menegaskan pentingnya penanganan sejak sumber. Angka volume tersebut memberi konteks tentang besarnya pekerjaan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan berapa banyak sampah yang berhasil dialihkan dari tempat pemrosesan akhir. Karena itu, kelanjutan agenda ESG sebaiknya ditopang pelaksanaan yang tertib dan pelaporan hasil yang dapat ditelusuri. Pada akhirnya, transformasi Telkom akan lebih kuat bila GPSO menjaga investasi dan bisnis grup tetap terarah, sementara komitmen keberlanjutan terlihat dalam operasional sehari-hari. Strategi dan ESG bukan dua jalur terpisah, melainkan ukuran berbeda bagi mutu pertumbuhan jangka panjang.






