Olimpiade Sains Bukan Sekadar Lomba, Tapi Jalur Panjang Pembentukan Karakter
Olimpiade sains nasional adalah ajang kompetisi akademik berjenjang yang menyeleksi dan membina pelajar dengan minat kuat pada sains dan matematika, melalui proses latihan intensif, seleksi berlapis, serta pembinaan jangka panjang hingga sebagian dari mereka terpilih mewakili negara di berbagai seleksi olimpiade internasional dan menguji diri pada soal-soal setingkat dunia. Ketika publik hanya melihat foto penganugerahan medali, yang tak tampak adalah jam latihan soal, kegagalan berulang, dan keberanian menghadapi materi di luar kurikulum sekolah. Bagi pelajar seperti Kaindra Nadira Saidtama dan Aiden Gracio, mengikuti International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 adalah puncak perjalanan yang dimulai dari bangku sekolah dasar, bukan “keberuntungan” sesaat.

Dari OSN ke IMSO: Seleksi Berlapis yang Menyaring Ketekunan
Jejak menuju panggung IMSO dimulai dari kemenangan di olimpiade sains nasional. Kaindra lebih dulu meraih medali emas OSN bidang Sains jenjang SD sebelum kemudian dipanggil ke tim IMSO, pengalaman yang memaksanya membangun kebiasaan belajar disiplin dan teratur. Aiden Gracio menempuh tiga tahap seleksi—dua tahap daring dan satu tahap luring lengkap dengan latihan dan simulasi—untuk lolos ke IMSO-23, setelah sebelumnya menyabet medali emas dan gelar the best overall OSN matematika. Proses serupa berlaku bagi puluhan peserta lain. Team leader Muchammad Fachri menyebutkan sekitar 30 peserta terpilih dari seleksi, lalu ditambah para peraih emas OSN hingga total 63 peserta dibina, terdiri atas 32 di bidang matematika dan 31 di bidang sains. Ini bukan sekadar kompetisi matematika siswa, tetapi filter nasional bagi calon duta olimpiade internasional.

Strategi Belajar: Dari Soal Mudah ke Soal Dunia
Kemenangan di OSN dan persiapan IMSO dibangun di atas strategi belajar yang sangat spesifik. Kaindra mengaku menjalani latihan soal intensif, mengikuti pembinaan daring dan luring, serta mengandalkan dukungan orang tua sebagai sistem pendukung utama. Aiden punya pendekatan taktis: ketika bertemu soal sulit, ia lebih dulu mengerjakan soal serupa dengan tingkat kesulitan lebih rendah, memahami ide utamanya, lalu mengembangkannya untuk menaklukkan soal yang lebih menantang. Ungkapan Aiden—bahwa yang penting adalah “penambahan ilmu” dan bukan ketakutan pada hasil—menggambarkan mentalitas kompetisi yang dewasa di usia sekolah dasar. Para peserta juga dibekali materi sesuai silabus oleh pengajar berbagai institusi dan pelatih olimpiade, dan semangat mereka mengerjakan soal membuat tim pembina perlu menyiapkan banyak bahan latihan. Olahraga otak ini jelas tidak lahir spontan; ia dirancang.

OSN SMP: Medali, Tantangan Waktu, dan Mimpi ke Tingkat Lebih Tinggi
Di jenjang SMP, olimpiade sains nasional memberi panggung yang sama kerasnya. Lomba ini berlangsung secara daring pada 25–31 Agustus dan diikuti 345 peserta yang beradu kemampuan di bidang sains, matematika, dan ilmu pengetahuan sosial. Lima siswa SMPK PENABUR Jakarta meraih medali; Nathanael Zefanya mendapatkan emas dan gelar The Best Overall di bidang IPA, sementara rekan-rekannya menyabet perunggu di matematika, IPA, dan IPS. Nathanael memanfaatkan E-Lib, buku saku IPA, dan pelatihan sekolah sebagai sumber belajar, namun tetap menghadapi keterbatasan waktu dan materi yang belum ia kuasai, seperti rumus gelombang harmonik. Selepas kemenangan ini, ia berencana melanjutkan persiapan untuk OSN bidang Fisika di jenjang SMA. Artinya, medali bukan garis akhir, melainkan batu loncatan menuju arena yang lebih berat.

Tekanan, Bahasa Inggris, dan Masa Depan Talenta Sains
Bagi tim yang lolos seleksi olimpiade internasional, tantangannya melampaui materi. Fachri menegaskan bahwa materi olimpiade lebih sulit daripada pelajaran sekolah, seluruh soal harus dipahami dan dijawab dalam bahasa Inggris, dan peserta wajib menjalani karantina lebih dari satu minggu jauh dari orang tua. Di balik tekanan itu, kebijakan pendidikan STEM yang ditekankan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memberi konteks: kompetisi seperti OSN dan IMSO menjadi alat strategis untuk menguatkan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika di sekolah. Harapan tim jelas: meraih medali emas di bidang sains dan matematika, hingga gelar best overall, best theory, best exploration, atau best experiment di IMSO-23. Jika jalur ini konsisten, generasi yang kini “cuma” mengerjakan soal sulit berpotensi menjadi ilmuwan dan insinyur yang kelak mengubah wajah teknologi.







