Konser berlanjut, penolakan beralih ke ruang publik
Penolakan konser di Borobudur adalah rangkaian protes terhadap rencana pertunjukan Andrea Bocelli yang tetap berjalan, disertai upaya kelompok penentang menyampaikan sikap melalui aksi dan kegiatan keagamaan. Promotor Shoemaker Live menyatakan konser di Jawa Tengah dan Jakarta berlangsung sesuai jadwal setelah berdialog dan menerima masukan dari berbagai pihak. Kepastian itu membuat perdebatan tak lagi hanya berkisar pada izin, tetapi juga pada bagaimana penolakan akan disuarakan di sekitar lokasi acara. Pada 31 Oktober 2026, konser di Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, tetap dijadwalkan berlangsung. Di sisi lain, rencana pengajian akbar dan tablig akbar muncul sebagai respons langsung terhadap keputusan tersebut. Langkah ini dapat memperluas ruang bagi warga untuk menyatakan keberatan, tetapi berpotensi membuat suasana di sekitar konser lebih tegang. Karena itu, perbedaan antara rencana kegiatan keagamaan dan tuntutan resmi soal izin perlu dibaca dengan cermat.
AWG dan KIBBM menyiapkan kegiatan yang berbeda
Aqsa Working Group (AWG) Biro Jawa Tengah menyampaikan rencana mujahadah atau pengajian akbar di sekitar Borobudur jika konser tetap dilanjutkan. Ketua AWG Jateng, Reza Subasir, mengatakan informasi itu berasal dari rekan-rekan di Magelang dan menyebut peserta dari Semarang serta daerah sekitar berpotensi bergabung. Ia juga menyatakan konsolidasi dengan lembaga lain masih akan dilakukan. Sementara itu, Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis (KIBBM) menyebut akan mengadakan tablig akbar di lokasi yang sama sebagai bentuk penolakan. Perwakilannya, Maria, mengatakan kegiatan tersebut mendapat dukungan sejumlah warga lokal dan berharap mereka ikut menyuarakan keberatan. Pernyataan kedua kelompok menunjukkan arah yang sejalan, tetapi bukan satu rencana gabungan yang sudah dipastikan. AWG berbicara tentang mujahadah yang masih menunggu konsolidasi, sedangkan KIBBM menyampaikan rencana tablig akbar serta dukungan warga yang disebutnya telah ada.

Audiensi dan demonstrasi memperlihatkan jalur tekanan lain
Rencana kegiatan keagamaan bukan satu-satunya bentuk penolakan. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Gerakan Pemuda Ka’bah Aliansi Tepi Barat (GPK ATB) dan Front Aliansi Umat Islam Bersatu Jateng–DIY (FAUIB Jateng–DIY) beraudiensi dengan Forkopimda Kabupaten Magelang dan pengelola Taman Wisata Borobudur, didampingi penyelenggara acara, di Kantor DPRD Kabupaten Magelang. Ketua GPK ATB, Yanto Petox’s, menyatakan mendukung pencabutan rekomendasi izin oleh Polresta Magelang. Ketua FAUIB, Anang Imamuddin, juga menolak konser dan mempertanyakan dugaan hubungan Bocelli dengan Israel. Secara terpisah, ratusan peserta dari sejumlah organisasi dan lembaga Islam di Semarang serta sekitarnya berunjuk rasa di depan Mapolda Jawa Tengah pada 28 Oktober, mendesak izin konser dicabut. Audiensi, demonstrasi, dan rencana pengajian adalah langkah berbeda: yang satu menekan melalui dialog kelembagaan, yang lain melalui aksi massa, sementara kegiatan keagamaan direncanakan sebagai ekspresi penolakan di dekat lokasi.
Klaim yang diperdebatkan dan dampak bagi warga
Sebagian penolakan dikaitkan dengan klaim mengenai hubungan Andrea Bocelli dengan Israel. Reza menyoroti dugaan keterlibatan penyanyi itu dalam penggalangan dana bagi militer Israel pada 2010 dan penampilannya di Tel Aviv pada 2022; klaim tersebut disampaikan sebagai alasan para penolak, bukan sebagai fakta yang terverifikasi secara independen di sini. Dalam audiensi, pihak penolak juga meminta kepastian mengenai dugaan afiliasi tersebut, sementara penyelenggara menyatakan akan mengusahakan pemenuhan tuntutan bila klaim itu terbukti. Taruhannya bukan cuma perdebatan politik. Bagi warga sekitar, acara dan respons terhadapnya dapat memengaruhi suasana di kawasan wisata pada hari konser. Maria berharap dukungan warga terhadap tablig akbar membuat penyelenggaraan tidak berlangsung senyaman yang diperkirakan pihak penyelenggara. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa sebagian penolak ingin kehadiran mereka terasa, tetapi juga menegaskan perlunya semua pihak menghindari eskalasi dan menjaga ruang publik tetap aman.
Kepastian konser belum mengakhiri perselisihan
Dengan konser tetap dijadwalkan, perhatian berikutnya tertuju pada apakah rencana kegiatan AWG dan KIBBM akan terlaksana serta bagaimana aparat dan penyelenggara mengelola situasi di sekitar Borobudur. AWG menyebut akan berkonsolidasi dengan lembaga lain, sementara para penolak terus mendorong pencabutan izin. Keduanya menandakan bahwa pengumuman promotor belum meredakan keberatan. Kesimpulannya, pengajian akbar dan tablig akbar menjadi cara kelompok penentang mengubah keberatan menjadi kehadiran nyata di ruang publik, tetapi rencana masing-masing tidak boleh disamakan atau dianggap sudah terlaksana. Di samping itu, audiensi dan demonstrasi menunjukkan tuntutan mereka tetap menyasar keputusan perizinan. Agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi gangguan bagi warga maupun pengunjung, penyampaian aspirasi dan pelaksanaan konser sama-sama perlu berlangsung dengan tertib.






