Konser sebagai pengalaman wisata
Ekonomi pengalaman adalah kegiatan ekonomi yang tumbuh ketika orang bepergian untuk merasakan suatu acara secara langsung, sekaligus menikmati tempat, budaya, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Konsep ini menjelaskan mengapa konser musik internasional dapat memberi manfaat lebih luas daripada penjualan tiket atau hiburan di panggung. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menilai konser berpotensi menghasilkan dampak ekonomi dan sosial serta menjadi sarana promosi pariwisata.
Dalam pandangan Rhenald, penonton tidak hanya datang untuk mendengar musisi favorit. Mereka juga mencari pengalaman berwisata, berinteraksi dengan warga, menikmati kuliner, dan menjelajahi tempat menarik. Keinginan untuk merasakan suasana secara langsung membuat konser tetap menarik meskipun musik sang artis tersedia di platform digital. Karena itu, dampak ekonomi konser sebaiknya dinilai dari rangkaian aktivitas yang muncul di sekitarnya, bukan hanya dari pertunjukan itu sendiri.

Manfaat bisa menjangkau usaha lokal
Ketika pengunjung membelanjakan uang untuk perjalanan, penginapan, transportasi, makanan, dan kebutuhan lain, perputaran ekonomi dapat menjalar ke sektor riil. Konser internasional berpotensi menggerakkan pariwisata, perhotelan, transportasi, kuliner, dan UMKM; pelaku usaha lokal pun dapat memperoleh lonjakan pendapatan. Ini bukan manfaat otomatis: besar kecilnya dampak bagi warga bergantung pada seberapa jauh pengunjung berbelanja dan berinteraksi dengan usaha setempat.
Promosi juga bisa menyebar jauh melampaui lokasi acara. Penonton asing kerap membagikan pengalaman mereka di media sosial, termasuk suasana kota, kafe, transportasi, pedagang, dan kehidupan masyarakat. Konten semacam itu memperlihatkan sisi keseharian yang mungkin tidak muncul dalam iklan pariwisata resmi. Bagi pelaku usaha kecil, perhatian tersebut membuka peluang dikenal oleh calon wisatawan, meski manfaatnya akan lebih berarti jika pengunjung diarahkan untuk menjelajahi dan mendukung bisnis lokal.

Borobudur menjadi panggung sekaligus tujuan
Konser Andrea Bocelli dijadwalkan berlangsung di Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober 2026, lalu di Jakarta pada 3 November 2026. Penampilan di Borobudur memberi acara ini daya tarik yang berbeda: situs bersejarah bukan sekadar latar, melainkan bagian dari pengalaman yang dapat mendorong orang mengenal kawasan tersebut. Rhenald menilai konser itu berpotensi membantu mempromosikan pariwisata Borobudur.
Pertunjukan seni di lokasi bersejarah bukan hal asing di sejumlah negara, menurut Rhenald. Namun, menjadikan warisan budaya sebagai tempat acara menuntut perhatian pada keseimbangan antara promosi, pengalaman pengunjung, dan kepentingan kawasan. Jika perjalanan penonton tidak berhenti pada malam konser, acara ini bisa memperkuat ketertarikan terhadap destinasi dan usaha di sekitarnya. Jadwal di Jakarta beberapa hari kemudian juga memperluas perhatian terhadap konser dan membawa jangkauannya ke luar Magelang.
Manfaat ekonomi harus disertai nilai bersama
Potensi ekonomi bukan alasan untuk mengabaikan keberatan publik. Rencana konser sempat menuai kontroversi, dan Rhenald menekankan pentingnya nilai bersama agar manfaat acara terasa adil serta aspirasi masyarakat diperhatikan. Sikap ini penting: promosi pariwisata akan sulit memperoleh dukungan bila warga merasa hanya menjadi penonton dari kegiatan yang berlangsung di lingkungan mereka.
Penyelenggara, Shoemaker Live, juga menggalang donasi berupa pembagian sepatu untuk anak-anak terdampak perang di Palestina dan wilayah lain, termasuk bagi orang yang tidak menonton; pengunjung juga disediakan lampion harapan. Inisiatif sosial dapat menambah makna acara, tetapi tidak menggantikan perlunya penyelenggaraan yang peka terhadap masyarakat dan kawasan. Pada akhirnya, konser Andrea Bocelli layak dinilai bukan hanya dari kemegahan panggung, melainkan dari manfaat nyata bagi usaha lokal, promosi Borobudur, dan nilai sosial yang dibagikan.






